Cerita Hot Tukar Pasangan Dengan Teman Lama Yang Tak Terlupakan Terbaru Malam Ini

Ruben namaku berpostur tinggi dengan berat yang ideal serta penampilan dan wajah keren kalau kata teman-temanku, saat ini aku berusia 24 tahun, kelahiran Bandung. Terus terang aku termasuk lelaki yang mempunyai
libido seks tinggi dan butuh variasi yang bermacam-macam dalam melakukan hubungan seks. Saat ini aku sudah bekerja dan mempunyai posisi yang cukup bagus. Serta sudah mempunyai seorang istri yang cantik dan berkulit putih mulus dengan postur tubuh yang menarik serta selalu merangsang nafsuku.

Cerita yang akan kutampilkan ini adalah pengalamanku beberapa waktu lalu. Saat itu aku mendapat undangan dari seorang teman lamaku yang bernama John. John adalah temanku semasa kuliah dulu di kota Surabaya. Sejak lulus dari kuliah kami tidak pernah bertemu, tetapi komunikasi melalui telepon tetap berjalan lancar. Saat ini dia juga sudah menikah, dan aku belum mengenal istrinya. Dia juga saat ini sudah berkerja di salah satu perusahaan besar di Surabaya, sedangkan aku berkerja di Jakarta sampai sekarang.

Pada saat menghubungiku, John mengatakan bahwa dia akan berada di Jakarta selama satu minggu lamanya dan tinggal sementara di sebuah apartemen yang telah disediakan oleh perusahaannya. Dia juga datang bersama istrinya dan saat ini mereka juga belum mempunyai anak seperti aku dan istriku, maklum kami kan masing-masing baru menikah dan masih fokus ke karir kami, baik istriku ataupun istri John hanya ibu rumah tangga saja, sebab kami pikir kondisi itu lebih aman untuk mempertahankan sebuah rumah tangga, karena dunia kerja pergaulannya menurut kami tidaklah aman bagi istri-istri kami

Malam itu sampailah kami di kamar apartemen yang dihuni oleh John dan istrinya.

“Hai… John gimana kabar kamu, sudah lama yach kita nggak ketemu, kenalkan ini istriku Diana,” kataku.

“Hai Ben, nggak ngira gua kalau bakalan bisa ketemu lagi sama kamu, hai Diana… apa kabar, ini Lenna istriku, Lenna ini Ruben dan Diana…” kata John balik memperkenalkan istrinya dan mengajak kami masuk.

Kemudian kami ngobrol bersama sambil menikmati makanan yang telah disiapkan oleh John dan Lenna. Kulihat Diana dan Lenna cepat akrab walaupun mereka baru ketemu, begitu juga dengan aku dan John.

Ketika Lenna dan Diana asyik ngobrol macam-macam, John menarikku ke arah balkon yang ada dan segera menarik tanganku sambil membawa minuman kami masing-masing.

“Eh.. Ben gua punya ide, mudah-mudahan aja elo setuju… karena ini pasti sesuai dengan kenakalan kita dulu… gimana…” kata John.
“Mengenai apa…” kataku.

“Tapi elo jangan marah ya… kalau nggak setuju…” kata John lagi.

“Oke gua janji…” kataku.

“Begini… gua tau kita kan masing-masing punya libido seks yang tinggi, gimana kalau kita coba bermain seks bersama malam ini, dengan berbagai variasi tentunya, elo boleh pakai istri gua dan gua juga boleh pake istri kamu, gimana…” ucap John.

“Ah.. gila kamu…” kataku spontan.

Tetapi aku terdiam sejenak dan berpikir sambil memandangi Diana dan Lenna yang sedang asyik ngobrol. Kulihat Lenna sangat cantik tidak kalah cantiknya dengan Diana, dan aku yakin bahwa sebagai laki-laki aku sangat tertarik untuk menikmati tubuh seorang wanita seperti Diana maupun Lenna yang tidak kalah dengan ratu-ratu kecantikan Indonesia.

“Gimana Ben… kan kita akan sama-sama menikmatinya, tidak ada untung rugilah…” kata John meminta keputusanku lagi.

“Tapi gimana caranya… mereka pasti marah… kalau kita beritahu…” aku balik bertanya.

“Tenang aja, gua punya caranya kalau elo setuju…” kata John lagi.

“Gua punya Pil perangsang… lalu kita masukkan ke minuman istriku dan istrimu.. tentunya dengan dosis yang lebih banyak, agar mereka cepat terangsang, dan kita mulai bereaksi.”

“Oke… gua setuju..” kataku.

Dan kami pun mulai melaksanakan rencana kami tersebut.

John mengambil gelas lagi dan memasukkan beberapa butir pil perangsang ke dalam dua buah gelas yang sudah diisi soft drink yang akan kami berikan kepada Diana dan Lenna. “Aduh.. asyik amat… apa sich yang diobrolin.. nich.. minumnya kita tambah…” kata John sembari memberikan gelas yang satu ke Lenna, sedangkan aku memberikan yang satu lagi ke Diana, karena kebetulan minuman milik mereka yang sebelumnya kelihatan sudah habis.

Kemudian Diana dan Lenna langsung menenggak minuman yang kami berikan beberapa kali. Aku duduk di samping Diana dan John duduk di dekat Lenna, kami pun ikutan ngobrol bersama mereka. Beberapa waktu kemudian, baik aku maupun John mulai melihat Diana dan Lenna mulai sedikit berkeringat dan gelisah sambil merubah posisi duduk dan kaki mereka, mungkin obat perangsang tersebut mulai bereaksi, pikirku.

Kemudian John berinisiatif mulai memeluk Lenna istrinya dari samping, begitu juga aku, dengan sedikit meniupkan desah nafasku ke tengkuk Diana istriku.

“Sar… aku sayang kamu…” kata John.

Kulihat tangannya mulai meraba paha Lenna, istrinya.

“Eh John… apaan.. sich kamu… kan malu… akh.. ah…” kudengar suara Lenna halus.

“Nggak pa-pa.. ah… ah… kamu sayangku… ah…” desah John meneruskan serangannya ke Lenna.

Melihat kondisi itu, Diana agak bingung… tapi aku tahu kalau dia pun mulai terangsang dan tak kuasa menahan gejolak nafsunya.

“Lus… aku cinta kamu.. ukh… ulp… ah…”

Aku pun mulai memeluk Diana istriku dan langsung mencium bibirnya dengan nikmat, dan kurasa Diana pun menikmatinya. Aku pun mulai memeluk tubuh istriku dari depan, dan tanganku pun mulai meraba bagian pahanya sama seperti yang dilakukan oleh John.

“Lus… akh… ak… kamu… sangat cantik sayang…” kataku.

“Akh.. Ben… ah… ah…” desah istriku panjang, karena tanganku mulai menyentuh bagian depan kemaluannya, dan mengelus dan mengusapnya dengan jari tangan kananku, setelah terlebih dahulu menyibakkan CD-nya secara perlahan.

Kulihat John sudah membuka bajunya dan mulai perlahan membuka kancing baju Lenna istrinya, yang kelihatan sudah pasrah dan sangat terangsang.

“Ah.. John… ah… ah… ah…” desah Lenna kudengar. Dan John sudah berhasil membuka seluruh pakaian Lenna, dan kulihat betapa mulusnya kulit Lenna yang saat ini hanya tinggal CD-nya saja, dan itu pun sudah berhasil ditarik oleh John.

Tinggallah tubuh bugil Lenna di atas sofa yang kami gunakan bersama itu dengan kelakuan John pada dirinya. Kulihat John pun sudah membuka semua pakaiannya dan sekarang tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh Lenna maupun John yang saat ini saling rangkul dan cium di sampingku dan istriku.

“Ah… ulp… ulp… ulp.. ah.. sst.. sst…

” kulihat Lenna menjilat dan menghisap kemaluan John yang putih kemerahan dengan nikmatnya.

“ukh…ukh..ohh….ukh…” erang John menikmati permainan Lenna.

Aku pun sekarang sudah berhasil membuka semua pakaian Diana istriku, kulanjutkan dengan meremas buah dadanya yang kenyal itu dan kulanjutkan dengan mengisap kedua puting susunya perlahan dan berulang-ulang. “Ah… ah… ah… Ben… terus… ah.. ah..” desah Diana keenakan. Tangan Diana pun mulai membuka celanaku dengan tergesa-gesa karena hanya celanaku yang belum kubuka dan kelihatannya Diana sudah mulai tidak sabaran. “Akh… akh… ukh… oh…” ketika celana dan CD-ku terbuka dan jatuh ke bawah, Diana segera memegang kemaluanku dan menjilatinya seperti apa yang dilakukan oleh Lenna.

Aku kemudian segera mengatur permainan dengan mengambil posisi jongkok dan membuka lebar kedua kaki istriku dan mulai menjilati klitorisnya dan semua bagian luar kemaluannya,

“Aah… oh.. terus.. terus Ben… enak… akh… akh…” desah Diana.

“Ulp.. ulp.. sst… sst… ah… uhm.. uhm… uhm…”

Aku terus menjilati klitoris istriku dan kulihat bibir kemaluan dan klitorisnya merekah merah merangsang serta kelihatan basah oleh jilatanku dan air kenikmatan milikya yang tentunya terus mengalir dari dalam kemaluannya.

“Ah… terus.. ah… ah… terus Ben.. enak… akh… akh… ukh…” rintih Diana.

Yang membuka lebar kedua kakinya serta meremas buah dadanya sendiri dengan penuh kenikmatan.

Perlahan kulihat John menggendong Lenna istrinya dan membaringkannya sejajar di sebelah istriku di sofa panjang yang kami pakai bersama ini, kemudian John mulai memasukkan kedua jari tangannya ke lubang kemaluan milik Lenna dan mengocoknya pelan serta menariknya keluar masuk.

“Akh… John… ahk… kamu.. gila John… akh.. terus… terus John… ahh…” rintih Lenna terdengar.

“Ukh… ah… ulp… akh… akh… akh.. oh… oh… oh…”

Suara dan desahan dari istriku dan Lenna secara bersamaan dan penuh kenikmatan. Perlahan tangan kananku mulai ikut meraba kemaluan Lenna yang berada di sebelah istriku. Dan aku pun ikutan memasukkan kedua buah jariku ke kemaluan Lenna tersebut. Dan John pun membiarkan semua itu kulakukan, kemudian sambil terus mengocok lubang kemaluan Lenna, tangan kiri John pun mulai ikut meraba kemaluan istriku yang saat ini tanpa rambut, karena habis kucukur kemarin, permainan ini terus berlanjut baik Lenna maupun istriku membuka dan menutup matanya menikmati permainan yang aku dan John lakukan.
Perlahan aku mulai meraba buah dada Lenna dengan tangan kananku dan meremasnya pelan, kurasakan buah dada milik Lenna lebih kenyal dibanding milik istriku, tetapi buah dada istriku lebih besar dan menantang untuk dihisap dan dipermainkan. Kemudian aku mulai berdiri dan mengarahkan kemaluanku yang berukuran panjang 16 cm serta diameter 4 cm itu ke arah mulut istriku, dan tangan kananku terus meremas buah dada milik Lenna. Istriku dan Lenna pun membiarkan semuanya ini terus berlanjut. Dan kulihat John tetap memasukkan dan mengocok kedua lubang kemaluan yang di depannya dengan kedua buah tangannya dengan sekali-kali meremas buah dada milik istriku maupun Lenna, istrinya.

Kemudian John mulai berdiri dan mengarahkan kemaluannya ke lubang kemaluan Lenna yang sudah sangat basah, “Ah… John… terus… masukkan… terus John semuanya…” kata Lenna.
Melihat itu aku pun mulai mengarahkan batang kemaluanku ke lubang kemaluan istriku.

“Akh… ukh.. ah… oh… ah… oh…” erang istriku keenakan.

Saat ini baik posisiku dan John maupun Diana dan Lenna berada pada posisi yang sama. Aku dan John terus menarik turunkan kemaluan kami di lubang kemaluan milik Lenna dan Diana. Begitu juga dengan Lenna dan Diana membuka lebar kakinya dan memeluk pinggangku maupun John seolah-olah mereka takut kehilangan kami berdua.

Selang beberapa saat kemudian John menghentikan kegiatannya dan memintaku mundur, kemudian memasukkan batang kemaluannya yang berukuran panjang 17 cm tetapi diameternya mungkin 3 cm dan kelihatan begitu panjang dari punyaku hanya punyaku lebih besar dan keras dibanding kemaluan John yang terus menuju ke lubang kemaluan milik istriku. Kulihat istriku cukup kaget tetapi hanya pasrah dan terus menikmati kemaluan milik John yang mulai mengocok lubang miliknya tersebut. Aku pun mulai juga mengarahkan kemaluanku ke lubang kemaluan milik Lenna, perlahan kurasakan lubang kemaluan Lenna masih cukup sempit serta menjepit batang kemaluanku yang kutekan perlahan.

“Akh… akh… Sar… memekmu begitu padat.. dan enak… akh…” kataku.

“Terus… Ben.. Terus.. punyamu begitu besar… terus Ben… enak… akh…” rintih Lenna.

“Ben.. terus… beri aku kenikmatan.. akh… akh… terus Ben… enak… lebih dalam Ben… akh..”

“Lus… punyamu begitu enak… sangat… rapat dan menjepit kontolku.. akh…” desah John kepada istriku.

“Ehm… ehm… ukh… ukh… lebih dalam John… lebih dalam… teruskan John… teruskan… kontolmu… sangat panjang… akh.. dan menyentuh… dinding.. rahimku.. akh… akh… enak… John..” desah istriku lirih.

Kemudian aku terus meremas dan menjilat puting susu milik Lenna dan sekali-kali kugigit pelan putingnya dan Lenna terus menikmatinya, sementara kemaluanku terus naik-turun mengocok lubang kemaluan Lenna yang terasa padat dan kenyal serta semakin basah tersebut. Terasa batang kemaluanku serasa masuk ke lubang yang sangat sempit dan padat ditumbuhi daging-daging yang berdenyut-denyut menjepit dan mengurut batang kemaluanku yang semakin keras dan menantang lubang kemaluan Lenna yang kubuat basah sekali, dan Lenna pun terus menikmati dan mengangkat pinggulnya serta menggoyangkannya saat menerima hujaman batang kemaluanku yang saat masuk hanya menyisakan dua buah biji kemaluan yang menggantung dan terhempas di luar kemaluan Lenna tersebut.

“Akh… Sar… enak.. sekali.. punyamu… akh.. akh..” desahku.

“Oh Ben… aku sangat… suka… milikmu ini… Ben yang besar dan keras ini… akh… ogh… ogh… terus Ben… ah…”

Kulihat John membalikkan tubuh istriku dan memasukan kemaluannya yang panjang putih kemerahan tersebut dari belakang,

“Akh… akh… akh… John… terus.. lebih dalam John… akh.. enak… John…” rintih istriku, yang kulihat buah dadanya menggantung bergoyang mengikuti dorongan dari kemaluan John yang terus keluar masuk, dan kemudian tangan John meremas buah dada tersebut serta menariknya.

“Akh… John.. akh… ogh… ogh… ahh…” jerit nikmat istriku menikmati permainan John dari belakang tersebut.

“Ogh.. Lus… buah dadamu begitu besar… dan… enak… ukh… ehm… ehmmm…” sahut John penuh kenikmatan.

Lenna mencoba merubah gaya dalam permainan kami, saat ini dia sudah berada di atas tubuhku yang duduk dengan kaki yang lurus ke depan, sedangkan Lenna memasukkan dan menekan kemaluannya dari atas ke arah kemaluanku.

“Blees…”

“Aakh… enak… akh… Ben punyamu begitu besar… akhg…” desah Lenna yang terus menaik-turunkan tubuhnya dan sesekali menekan dan memutar pinggulnya menikmati kemaluanku yang terasa nikmat dan ngilu tetapi enak.

“Oh… Sar.. terus… ah… ah…” desahku.

“Oh Ben… oh.. oh… oh… Ben… aku hampir keluar Ben… aogh… ogh…” jerit Lenna.

“Okh.. Ben… okh… aku ke… luar… okh.. okh…” tubuh Lenna mengejang bagaikan kuda dan kurasakan kemaluanku pun bergetar mengimbangi orgasme yang dicapai Lenna.

“Oh… ukh… okh.. Sar aku juga keluar.. okh… okh…”

Kami pun berpelukan dan mengejang bergetar bersama serasa berada di awan, menikmati saat klimaks kami tersebut selama beberapa saat hingga kemudian kami berdua merasa lemas, dan tetap berpelukan dengan posisi Lenna di atas, seolah kami sangat takut kehilangan satu sama lain sambil memandangi permainan John dan istriku di sebelah kami.

Kulihat Diana istriku sangat menikmati permainan ini dengan posisi bagaikan ****** atau kuda yang sedang kawin, buah dada istriku yang besar bergoyang-goyang ke depan-belakang dengan cepatnya, sekujur tubuh John maupun istriku berkilap dikarenakan keringat yang mengalir pelan karena permainan seks mereka ini, kulit John yang putih mulus karena dia berdarah Manado ini kelihatan bersinar begitu juga istriku begitu menikmati panjangnya kemaluan John. Tangan istriku meremas sandaran sofa dan berteriak lirih, “Ah… ah… ah… uh… uh… uh.. John tekan terus John dengan keras… ah.. ah..” kulihat satu tangan istriku memutar dan memelintir puting susunya sendiri serta sekali-kali meremas keras buah dadanya tersebut seolah takut kehilangan kenikmatan permainan mereka tersebut.

Aku kemudian mendorong kepalanya dan sebagian tubuhku dan berbaring di bawah buah dada istriku, kemudian berinisiatif untuk ikut meremas buah dadanya dan mengisap puting susunya, “Akh… Ben… akh… enak.. ogh… ogh… ogh… terus Ben…” rintih istriku, terasa olehku kemudian Lenna menjilati dan menghisap batang kemaluanku yang mulai mengeras kembali.

“Ogh… ogh… ogh… Ben… ogh… ogh… John… kontolmu sangat panjang dan membuatku sangat… puas John… akh… terus… akh…” kata Diana.

“Ulp.. ulp… ulp.. ulp… ulp..” jilatan Lenna di kemaluanku yang mengeras.

“Okh… John… aku.. hampir.. ke.. ke.. luar… John… terus” desah istriku.

Kuremas dan kupelintir dengan keras puting susu dan buah dada istriku, dan kulihat John juga mengejang.

“Akh… akh.. akh… akh.. Lus.. aku juga keluar… akh… akh…” jerit John kuat, kemudian tubuhnya mengejang dan bergetar hebat.

“Ogh… ogh… ogh… ogh…” istriku pun mengejang dan meremas sandaran sofa dengan kuat. Beberapa saat.

Aku pun kembali merasakan kenikmatan mengalir di batang kemaluanku dan… “Akh… akh… akh… akh…” kemaluanku pun memuncratkan spermaku kembali, sebagian ke wajah Lenna dan sebagian lagi meloncat hingga ke tubuh istriku dan aku pun kembali mengejang kenikmatan dan kulihat Lenna terus menjilati kemaluanku yang besar tersebut dan membersihkannya dengan lidahnya.

Kemudian kami terbaring dan tertidur bersama di sofa tersebut hingga pagi harinya, dalam kondisi tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhku, istriku, John dan Lenna istrinya. Permainan ini kembali kami ulangi pagi harinya.

Cerita sex : Menikmati Tubuh Gadis Kampung Berdada Indah

Dan kembali kami ulangi bersama dalam beberapa hari hingga saatnya John dan Lenna harus pulang ke Surabaya, ini semua adalah awal dari permainan seks bersama kami yang hingga kini seringkali kami lakukan kembali jika aku dan istriku ke Surabaya, ataupun mereka ke Jakarta. Bahkan kadang-kadang-kadang Lenna sendiri ke Jakarta bermain seks bertiga denganku dan istriku, ataupun aku atau istriku yang ke Surabaya bermain seks bertiga atau bersama dengan salah satu dari John atau Lenna.

#Cerita #Hot #Tukar #Pasangan #Dengan #Teman #Lama #Yang #Tak #Terlupakan

Ngentot Dengan Tetangga Yang Body Nya Oke Banget Terbaru Malam Ini

Kurasa tidak perlu aku ceritakan tentang nama dan asalku, serta tempat dan alamatku sekarang. Usiaku sekarang sudah mendekati empat puluh tahun, kalau dipikir-pikir seharusnya aku sudah punya anak, karena aku sudah menikah hampir lima belas tahun lamanya. Walaupun aku tidak begitu ganteng, aku cukup beruntung karena mendapat isteri yang menurutku sangat cantik. Bahkan dapat dikatakan dia yang tercantik di lingkunganku, yang biasanya menimbulkan kecemburuan para tetanggaku.

Isteriku bernama Tina. Ada satu kebiasaanku yang mungkin jarang orang lain miliki, yaitu keinginan sex yang tinggi. Mungkin para pembaca tidak percaya, kadang-kadang pada siang hari selagi ada tamu pun sering saya mengajak isteri saya sebentar ke kamar untuk melakukan hal itu. Yang anehnya, ternyata isteriku pun sangat menikmatinya. Walaupun demikian saya tidak pernah berniat jajan untuk mengimbangi kegilaanku pada sex. Mungkin karena belum punya anak, isteriku pun selalu siap setiap saat.

Kegilaan ini dimulai saat hadirnya tetangga baruku, entah siapa yang mulai, kami sangat akrab. Atau mungkin karena isteriku yang supel, sehingga cepat akrab dengan mereka. Suaminya juga sangat baik, usianya kira-kira sebaya denganku. Hanya isterinya, wooow busyet.., selain masih muda juga cantik dan yang membuatku gila adalah bodynya yang wah, juga kulitnya sangat putih mulus.
Mereka pun sama seperti kami, belum mempunyai anak. Mereka pindah ke sini karena tugas baru suaminya yang ditempatkan perusahaannya yang baru membuka cabang di kota tempatku. Aku dan isteriku biasa memanggil mereka Mas Fahrul dan Mbak Reni. Selebihnya saya tidak tahu latar belakang mereka. Boleh dibilang kami seperti saudara saja karena hampir setiap hari kami ngobrol, yang terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya.

Pada suatu malam, saya seperti biasanya berkunjung ke rumahnya, setelah ngobrol panjang lebar, Fahrul menawariku nonton VCD blue yang katanya baru dipinjamnya dari temannya. Aku pun tidak menolak karena selain belum jauh malam kegiatan lainnya pun tidak ada. Seperti biasanya, film blue tentu ceritanya itu-itu saja. Yang membuatku kaget, tiba-tiba isteri Fahrul ikut nonton bersama kami.

“Waduh, gimana ini Rul..? Nggak enak nih..!”
“Nggak apa-apalah Mas, toh itu tontonan kok, nggak bisa dipegang.
Kalau Mas nggak keberatan, Mbak Tin diajak sekalian.” katanya menyebut isteriku.
Aku tersinggung juga waktu itu. Tapi setelah kupikir-pikir, apa salahnya? Akhirnya aku pamit sebentar untuk memanggil isteriku yang tinggal sendirian di rumah.
“Gila kamu..! Apa enaknya nonton gituan kok sama tetangga..?” kata isteriku ketika kuajak.

Akhirnya aku malu juga sama isteriku, kuputuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah Fahrul. Mendingan langsung tidur saja supaya besok cepat bangun. Paginya aku tidak bertemu Fahrul, karena sudah lebih dahulu berangkat. Di teras rumahnya aku hanya melihat isterinya sedang minum teh. Ketika aku lewat, dia menanyaiku tentang yang tadi malam. Aku bilang Tina tidak mau kuajak sehingga aku langsung saja tidur.

Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang sejak dulu menggodaku. Tapi ah.., mereka kan tetanggaku. Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, aku kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya kalau sudah begini aku langsung menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin karena sudah biasa Tina tidak banyak protes. Yang luar biasa adalah pagi ini aku benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku seperti kesetanan. Kemaluan Tina kujilati sampai tuntas, bahkan kusedot sampai isteriku menjerit. Edan, kok aku sampai segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi.

Isteriku sampai terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Tina langsung memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan saat itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan.

“Mas.., sekarang Mas..!” pinta isteriku memelas.

Akhirnya aku mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Tina. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang.
Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, “Kok Mas tiba-tiba nafsu banget sih..?”
Aku diam saja karena malu mengatakan bahwa sebenarnya Reni lah yang menaikkan tensiku pagi ini.
Sorenya Fahrul datang ke rumahku, “Sepertinya Mas punya kelainan sepertiku ya..?” tanyanya setelah kami berbasa-basi.

“Maksudmu apa Rul..?” tanyaku heran.
“Isteriku tadi cerita, katanya tadi pagi dia melihat Mas dan Mbak Tina bergulat setelah ngobrol dengannya.”

Loh, aku heran, dari mana Reni nampak kami melakukannya? Oh iya, baru kusadari ternyata jendela kamar kami saling berhadapan.
Fahrul langsung menambahkan, “Nggak usah malu Mas, saya juga maniak Mas.” katanya tanpa malu-malu.

“Begini saja Mas,” tanpa harus memahami perasaanku, Fahrul langsung melanjutkan, “Aku punya ide, gimana kalau nanti malam kita bikin acara..?”
“Acara apa Rul..?” tanyaku penasaran.
“Nanti malam kita bikin pesta di rumahmu, gimana..?”
“Pesta apaan..? Gila kamu.”
“Pokoknya tenang aja Mas, kamu cuman nyediain makan dan musiknya aja Mas, nanti minumannya saya yang nyediain. Kita berempat aja, sekedar refresing ajalah Mas, kan Mas belum pernah mencobanya..?”

Malamnya, menjelang pukul 20.00, Fahrul bersama isterinya sudah ada di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol tentang masa muda kami. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak aneh kurasakan. Aku tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini, mungkin pengaruh minuman yang dibawakan Fahrul dari rumahnya.

Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, aku mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa seperti menyelimuti pendengaranku. Kulihat Fahrul juga menarik isterinya dan menciumi bibirnya. Aku semakin terangsang, Tina juga semakin bergairah. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Tidak berapa lama Tina sudah telanjang bulat, entah kapan aku menelanjanginya. Sesaat aku merasa bersalah, kenapa aku melakukan hal ini di depan orang lain, tetapi kemudian hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan pikiran normalku.

Kuperhatikan Fahrul perlahan-lahan mendudukkan Reni di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Aku semakin tidak karuan memikirkan kenapa hal ini dapat terjadi di dalam rumahku. Tetapi itu hanya sepintas, berikutnya aku sudah menikmati permainan itu. Reni juga tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang.

Perlahan-lahan Fahrul membuka BH Reni, tampak dua bukit putih mulus menantang menyembul setelah penutupnya terbuka.
“Kegilaan apa lagi ini..?” batinku.

Seolah-olah Fahrul mengerti, karena selalu saya perhatikan menawarkan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa dengan mulut terbuka menantang dengan nafas tersengal menahan nafsu yang menggelora, seolah-olah tidak keberatan bila posisiku digantikan oleh Fahrul.

Kemudian kudekati Reni yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan badan yang sedikit gemetar karena memang ini pengalaman pertamaku melakukannya dengan orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus dengan lembut. Sementara Fahrul kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh Tina yang biasanya aku lah yang melakukannya.

Perlahan-lahan jari-jemariku mendekati daerah kemaluan Reni. Kuelus bagian itu, walau masih tertutup celana dalam, tetapi aroma khas kemaluan wanita sudah terasa, dan bagian tersebut sudah mulai basah. Perlahan-lahan kulepas celana dalamnya dengan hati-hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi bagian yang berada di antara kedua paha Reni ini.
“Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!” erang Reni seolah sudah siap untuk melakukannya.

Tetapi aku tidak melakukannya. Aku ingin memberikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Reni yang memang betul-betul sempurna. Biasanya aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja.

Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.
“Sshh.., akh..!” Reni menggelinjang nikmat.
Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Reni mendesis.

Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Reni, kuhisap bagian putingnya, tubuh Reni bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Reni sekarang berbaring miring, sementara aku berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat.

Reni memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir aku tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan seperti ini. Sementara di atas Sofa Fahrul dan isteriku seperti membentuk angka 69. Tina ada di bawah sambil mengulum kemaluan Fahrul, sementara Fahrul menjilati kemaluan Tina. Napas kami berempat saling berkejaran, seolah-olah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah menambah semangat kami.

Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Reni, dia melenguh hebat hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya. Gantian aku sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku seperti terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang Reni terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan meminta supaya aku segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya.

Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir meja, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Reni.

Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Reni mendesis, “Ssshh.., aahhk.., aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi akhh..!”

Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Mungkin karena selama ini aku hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Tanganku sekarang sudah meremas payudara Reni dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Reni pun seperti megap-megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Reni nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat-kuatnya hingga Reni berontak. Pelukanku semakin kuperketat, seolah-olah tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Fahrul dan isteriku tidak kuperhatikan lagi. Yang kurasakan sekarang adalah sebuah petualangan yang belum pernah kulalui sebelumnya. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Reni.

Luar biasa kemaluan Reni ini, seperti ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya seperti lingkaran magnet saja. Mata Reni merem melek menikmati permainan ini. Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.Posisi sekarang berubah, Reni sekarang membungkuk menghadap meja sambil memegang kedua sisi meja yang tadi tempat dia berbaring, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, karena selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Reni juga semakin ketat karena membungkuk.

Kukangkangkan kaki Reni dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Reni melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Reni membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan. Sepertinya Reni pun menikmati gaya ini.

Buah dada Reni bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Reni sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Reni semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa aku menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya.

Segera aku mencabut kemaluanku dan membopong tubuh Reni ke tempat yang lebih luas dan menyuruh Reni telentang di bentangan karpet. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Reni menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Reni.

Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang seperti akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar dari mulut Reni semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Reni memelukku sekuat-kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku. Reni menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Reni menjerit kesakitan sambil bergetar hebat.

Mulutku terasa asin, ternyata bibir Reni berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat kuat dan berguling-guling di lantai. Di atas sofa Fahrul dan isteriku ternyata juga sudah mencapai puncaknya. Kulihat Tina tersenyum puas. Sementara Reni tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Reni. Kulihat Reni tidak memperdulikannya.

Perlahan-lahan otot-ototku mengendur, dan akhirnya kemaluanku terlepas dari kemaluan Reni. Reni tersenyum puas, walau kelelahan aku pun merasakan kenikmatan tiada tara. Tina juga tersenyum, hanya nampak malu-malu. Kemudian memunguti pakaiannya dan menuju kamar mandi.

Cerita sex : Naluri Lesbiku Mulai Dari Khayalan Foto Duo Serigala

Hingga saat ini peristiwa itu masih jelas dalam ingatanku. Fahrul dan Reni sekarang sudah pindah dan kembali ke Jakarta. Sesekali kami masih berhubungan lewat telepon. Mungkin aku tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Pernah suatu waktu Reni berkunjung ke rumah kami, kebetulan aku tidak ada di rumah. Dia hanya ketemu dengan isteriku. Seandainya saja…

#Ngentot #Dengan #Tetangga #Yang #Body #Nya #Oke #Banget

Bercinta Dengan Tunangan Teman Sendiri Terbaru Malam Ini

Namaku Lion, tentunya bukan nama asli dong ya. Aku tinggal di suatu kota yang kebetulan sering dijuluki sebagai kota kembang, pengalamanku ini terjadi mungkin kira- kira setahun yang lalu.

Sebut saja Heni (bukan nama sebenarnya), dia adalah tunangan temanku yang bernama Harsen (bukan nama asli) yang tinggal di Jakarta, yang mana pada waktu itu Harsen harus keluar kota untuk keperluan bisnisnya.

Oh ya, Harsen ini punya adik laki-laki yang bernama Hendrik, dimana adiknya itu teman mainku juga. Kalau tidak salah, malam itu adalah malam minggu, kebetulan pada waktu itu aku lagi bersiap-siap untuk keluar.

Tiba-tiba telpon di rumahku berbunyi, ternyata dari Hendrik yang mau pinjam motorku untuk menjemput temannya di stasiun kereta api. Dia juga bilang nitip sebentar tunangan kakaknya, karena di rumah lagi tidak ada siapa-siapa. Aku tidak bisa menolak, lagi pula aku ingin tahu tunangan temanku itu seperti bagaimana rupanya.

Tidak lama kemudian Hendrik datang, karena rumahnya memang tidak begitu jauh dari rumahku dan langsung menuju ke kamarku. “Hei Lion..! Aku langsung pergi nih.. mana kuncinya..?” kata Hendrik. “Tuh.., di atas meja belajar.” kataku, padahal dalam hati aku kesal juga bisa batal deh acaraku. “Oh ya Lion.., kenalin nih tunangan kakakku.

Aku nitip sebentar ya, soalnya tadi di rumah nggak ada siapa-siapa, jadinya aku ajak dulu kesini. Bentar kok Lion.., ” kata Hendrik sambil tertawa kecil. “Lion.., ” kataku sambil menyodorkan tanganku. “Heni.., ” katanya sambil tersenyum. “Busyeett..! Senyumannya..!” kataku dalam hati.

Jantungku langsung berdebar- debar ketika berjabatan tangan dengannya. Bibirnya sensual sekali, kulitnya putih, payudaranya lumayan besar, matanya, hidungnya, pokoknya, wahh..! Akibatnya pikiran kotorku mulai keluar.

“Heh..! Kok malah bengong Lion..!” kata Hendrik sambil menepuk pundakku. “Eh.. oh.. kenapa Drik..?” kaget juga aku. “Lion, aku pergi dulu ya..! Ooh ya Hen.., kalo si Lion macem-macem, teriak aja..!” ucap Hendrik sambil langsung pergi. Heni hanya tersenyum saja. “Sialan lu Drik..!” gerutuku dalam hati.

Seperginya Hendrik, aku jadi seperti orang bingung saja, serba salah dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Memang pada dasarnya aku ini sifatnya agak pemalu, tapi kupaksakan juga akhirnya. “Mo minum apa Hen..?” kataku melepas rasa maluku. “Apa aja deh Lion. Asal jangan ngasih racun.” katanya sambil tersenyum. “Bisa juga bercanda nih cewek, aku kasih obat perangsang baru tau..!” kataku dalam hati sambil pergi untuk mengambil beberapa minuman kaleng di dalam kulkas.

Akhirnya kami mengobrol tidak menentu, sampai dia menceritakan kalau dia lagi kesal sekali sama Harsen tunangannya itu, pasalnya dia itu sama sekali tidak tahu kalau Harsen pergi keluar kota. Sudah jauh-jauh datang ke Bandung, nyatanya orang yang dituju lagi pergi, padahal sebelumnya Harsen bilang bahwa dia tidak akan kemana-mana.

“Udah deh Hen.., mungkin rencananya itu diluar dugaan.., jadi Kamu harus ngerti dong..!” kataku sok bijaksana. “Kalo sekali sih nggak apa Lion, tapi ini udah yang keberapa kalinya, Aku kadang suka curiga, jangan-jangan Dia punya cewek lain..!” ucap Heni dengan nada kesal.

“Heh.., jangan nuduh dulu Hen, siapa tau dugaan Kamu salah, ” kataku. “Tau ah.., jadi bingung Aku Lion, udah deh, nggak usah ngomongin Dia lagi..!” potong Heni. “Terus mau ngomong apa nih..?” kataku polos. Heni tersenyum mendengar ucapanku.

“Kamu udah punya pacar Lion..?” tanya Heni. “Eh, belom.. nggak laku Hen.. mana ada yang mau sama Aku..?” jawabku sedikit berbohong. “Ah bohong Kamu Lion..!” ucap Heni sambil mencubit lenganku. Seerr..! Tiba- tiba aliran darahku seperti melaju dengan cepat, otomatis adikku berdiri perlahan- lahan, aku jadi salah tingkah.

Sepertinya si Heni melihat perubahan yang terjadi pada diriku, aku langsung pura-pura mau mengambil minum lagi, karena memang minumanku sudah habis, tetapi dia langsung menarik tanganku.

“Ada apa Hen..? Minumannya sudah habis juga..?” kataku pura-pura bodoh. “Lion, Kamu mau nolongin Aku..?” ucap Heni seperti memelas. “Iyaa.., ada apa Hen..?” jawabku. “Aku.., Aku.. pengen bercinta Lion..?” pinta Heni. “Hah..!” kaget juga aku mendengarnya, bagai petir di siang hari, bayangkan saja, baru juga satu jam yang lalu kami berkenalan, tetapi dia sudah mengucapkan hal seperti itu kepadaku.

“Ka.., Kamu..?” ujarku terbata-bata. Belum juga kusempat meneruskan kata- kataku, telunjuknya langsung ditempelkan ke bibirku, kemudian dia membelai pipiku, kemudian dengan lembut dia juga mencium bibirku.

Aku hanya bisa diam saja mendapat perlakuan seperti itu. Walaupun ini mungkin bukan yang pertama kalinya bagiku, namun kalau yang seperti ini aku baru yang pertama kalinya merasakan dengan orang yang baru kukenal. Begitu lembut dia mencium bibirku, kemudian dia berbisik kepadaku,

“Aku pengen bercinta sama Kamu, Lion..! Puasin Aku Lion..!” Lalu dia mulai mencium telinganku, kemudian leherku, “Aahh..!” aku mendesah. Mendapat perlakuan seperti itu, gejolakku akhirnya bangkit juga. Begitu lembut sekali dia mencium sekitar leherku, kemudian dia kembali mencium bibirku, dijulurkan lidahnya menjalari rongga mulutku.

Akhirnya ciumannya kubalas juga, gelombang nafasnya mulai tidak beraturan. Cukup lama juga kami berciuman, kemudian kulepaskan ciumannya, kemudian kujilat telinganya, dan menelusuri lehernya yang putih bak pualam. Ia mendesah kenikmatan, “Aahh Lion..!”

Mendengar desahannya, aku semakin bernafsu, tanganku mulai menjalar ke belakang, ke dalam t- shirt-nya. Kemudian kuarahkan menuju ke pengait BH-nya, dengan sekali sentakan, pengait itu terlepas. Kemudian aku mencium bibirnya lagi, kali ini ciumannya sudah mulai agak beringas, mungkin karena nafsu yang sudah mencapai ubun- ubun, lidahku disedotnya sampai terasa sakit, tetapi sakitnya sakit nikmat.

“Lion.., buka dong bajunya..!” katanya manja. “Bukain dong Hen.., ” kataku. Sambil menciumiku, Heni membuka satu persatu kancing kemeja, kemudian kaos dalamku, kemudian dia lemparkan ke samping tempat tidur.

Dia langsung mencium leherku, terus ke arah puting susuku. Aku hanya bisa mendesah karena nikmatnya, “Akhh.., Hen.” Kemudian Heni mulai membuka sabukku dan celanaku dibukanya juga. Akhirnya tinggal celana dalam saja. Dia tersenyum ketika melihat kepala kemaluanku off set alias menyembul ke atas.

Heni melihat wajahku sebentar, kemudian dia cium kepala kemaluanku yang menyembul keluar itu. Dengan perlahan dia turunkan celana dalamku, kemudian dia lemparkan seenaknya. Dengan penuh nafsu dia mulai menjilati cairang bening yang keluar dari kemaluanku, rasanya nikmat sekali.

Setelah puas menjilati, kemudian dia mulai memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. “Okhh.. nikmat sekali, ” kataku dalam hati, sepertinya kemaluanku terasa disedot-sedot. Heni sangat menikmatinya, sekali- sekali dia gigit kemaluanku. “Auwww.., sakit dong Hen..!” kataku sambil agak meringis. Heni seperti tidak mendengar ucapanku, dia masih tetap saja memaju- mundurkan kepalanya.

Mendapat perlakuannya, akhirnya aku tidak kuat juga, aku sudah tidak kuat lagi menahannya, “Hen, Aku mau keluar.. akhh..!” Heni cuek saja, dia malah menyedot batang kemaluanku lebih keras lagi, hingga akhirnya, “Croott.. croott..!” Aku menyemburkan lahar panasku ke dalam mulut Heni.

Dia menelan semua cairan spermaku, terasa agak ngilu juga tetapi nikmat. Setelah cairannya benar-benar bersih, Heni kemudian berdiri, kemudian dia membuka semua pakaiannya sendiri, sampai akhirnya dia telanjang bulat.

Kemudian dia menghampiriku, menciumi bibirku. “Puasin Aku Lion..!” katanya sambil memeluk tubuhku, kemudian dia menuju tempat tidur. Sampai disana dia tidur telentang. Aku lalu mendekatinya, kutindih tubuhnya yang elok, kuciumi bibirnya, kemudian kujilati belakang telinga kirinya.

Dia mendesah keenakan, “Aahh..!” Mendengar desahannya, aku tambah bernafsu, kemudian lidahku mulai menjalar ke payudaranya. Kujilati putingnya yang sebelah kiri, sedangkan tangan kananku meremas payudaranya yang sebelah kiri, sambil kadang kupelintir putingnya. “Okkhh..! Lion sayang, terus Lion..! Okhh..!” desahnya mulai tidak menentu.

Puas dengan bukit kembarnya, badanku kugeser, kemudian kujilati pusarnya, jilatanku makin turun ke bawah. Kujilati sekitar pangkal pahanya, Heni mulai melenguh hebat, tangan kananku mulai mengelus bukit kemaluannya, lalu kumasukkan, mencari sesuatu yang mungkin kata orang itu adalah klitoris.

Heni semakin melenguh hebat, dia menggelinjang bak ikan yang kehabisan air. Kemudian aku mulai menjilati bibir kemaluannya, kukuakkan sedikit bibir kemaluannya, terlihat jelas sekali apa yang namanya klitoris, dengan agak sedikit menahan nafas, kusedot klitorisnya. “Aakkhh.. Lion.., ” Heni menjerit agak keras, rupanya dia sudah orgasme, karena aku merasakan cairan yang menyemprot hidungku, kaget juga aku. Mungkin ini pengalaman pertamaku menjilati kemaluan wanita, karena sebelumnya aku tidak pernah.

Aku masih saja menjilati dan menyedot klitorisnya. “Lion..! Masukin Lion..! Masukin..!” pinta dia dengan wajah memerah menahan nafsu. Aku yang dari tadi memang sudah menahan nafsu, lalu bangkit dan mengarahkan senjataku ke mulut kemaluannya, kugesek-gesekkan dulu di sekitar bibir kemaluannya. “Udah dong Lion..! Cepet masukin..!” katanya manja.

“Hmm.., rupanya ni cewek nggak sabaran banget.” kataku dalam hati. Kemudian kutarik tubuhnya ke bawah, sehingga kakinya menjuntai ke lantai, terlihat kemaluannya yang menyembul. Pahanya kulebarkan sedikit, kemudian kuarahkan kemaluanku ke arah liang senggama yang merah merekah. Perlahan tapi pasti kudorong tubuhku. “Bless..!” akhirnya kemaluanku terbenam di dalam liang kemaluan Indri.

“Aaakkhh Lion..!” desah Heni. Kaget juga dia karena sentakan kemaluanku yang langsung menerobos kemaluan Heni. Aku mulai mengerakkan tubuhku, makin lama makin cepat, kadang- kadang sambil meremas- remas kedua bukit kembarnya. Kemudian kubungkukkan badanku, lalu kuhisap puting susunya.

“Aakkhh.., teruss.., Sayangg..! Teruss..!” erang Heni sambil tangannya memegang kedua pipiku. Aku masih saja menggejot tubuhku, tiba- tiba tubuh Heni mengejang, “Aaakkhh.. Liionnn..!” Ternyata Heni sudah mencapai puncaknya duluan. “Aku udah keluar duluan Sayang..!” kata Heni. “Aku masih lama Hen.., ” kataku sambil masih menggenjot tubuhku.

Kemudian kuangkat tubuh Heni ke tengah tempat tidur, secara spontan, kaki Heni melingkar di pinggangku. Aku menggenjot tubuhku, diikuti goyangan pantat Heni. “Aakkhh Hen.., punya Kamu enak sekali.” kataku memuji, Heni hanya tersenyum saja. Aku juga heran, kenapa aku bisa lama juga keluarnya.

Tubuh kami berdua sudah basah oleh keringat, kami masih mengayuh bersama menuju puncak kenikmatan. Akhirnya aku tidak kuat juga menahan kenikmatan ini. “Aahh Hen.., Aku hampir keluar.., ” kataku agak terbata-bata. “Aku juga Lion..! Kita keluarin sama- sama ya Sayang..!” kata Heni sambil menggoyang pantatnya yang bahenol itu.

Goyangan pantat Heni semakin liar. Aku pun tidak kalah sama halnya dengan Heni, frekuensi genjotanku makin kupercepat, sampai pada akhirnya, “Aaakkhh.., Liionnn..!” jerit Heni sambil menancapkan kukunya ke pundakku. “Aakhh, Hennii.., Aku sayang Kamuu..!” erangku sambil mendekap tubuh Heni.

Kami terdiam beberap saat, dengan nafas yang tersenggal-senggal seperti pelari marathon. “Kamu hebat sekali Lion..!” puji Heni. “Kamu juga Hen..!” pujiku juga setelah agak lama kami berpelukan.

Cerita sex : Kocokan Terapis Panti Pijat Yang Bikin Ketagihan

Kemudian kami cepat- cepat memakai pakain kami kembali karena takut adik tunangannya Heni keburu datang.

#Bercinta #Dengan #Tunangan #Teman #Sendiri

Cerita Sex Dengan Nikita Mirzani, Terbaru Malam Ini

Cerita Sex Dengan Nikita Mirzani – Kisah Nikita Mirzani 1 Malam 8 Kali Berhubungan Seks, Buka Urusan Ranjang dengan Mantan Suami via Tribun dan Matarereach Indonesia

Di akun YouTube berjudul “BROKEN!! Nyai NIKITA MIRZANI BENAR-BENAR NIAT “DIJUAL”! Sabtu (6/6/2020). Melanie menanyakan berapa kali Nikita melakukan hubungan intim dengan suaminya pada malam hari. Ditanya seperti itu, Nikita Mirzani dengan jujur ​​dan sensitif menjawab pertanyaan itu.

Cerita Sex Dengan Nikita Mirzani

“Rekor paling banyak tadi malam,” tanya Melanie Ricardo penasaran. Nikita pun langsung menjawab pertanyaan pribadi. “Saya masih muda, bisa delapan kali semalam,” jawab Nikita Mirzani.

Pernah Kepincut Pesona Nikita Mirzani, Begini Kabar Samuel Rizal, Mantan Kekasih Nyai Betah Menduda Dan Sibuk Bisnis Ini

Nikita Mirzani membeberkan alasan dirinya berniat menjual dirinya, namun tidak berhasil

Tribun dan Berita tidak tersedia. Manfaatnya tidak berkualitas baik. tribunmedan Bersihkan Tri dengan wartawan atau redaktur seperti ini, ada berapa wartawan yang baik

Nikita Mirzani membeberkan alasan dirinya berniat menjual dirinya, tapi tidak menjualnya Nikita Mirzani membeberkan alasan dirinya berniat menjual dirinya, namun tak ada yang peduli. Nikita Mirzani

Nikita Mirzani Tak Sabar Memasukkan Pria Ini ke Penjara Aktris Nikita Mirzani mengaku tak sabar menunggu seseorang masuk penjara. Nikita Mirzani

Amanda Manopo Penipu? Nikita Mirzani Bongkar Tabiat Pemain Ikatan Cinta Setelah Putus Dari Billy Syahputra: Pelajara Supaya Nggak Gampang Terkecoh Perempuan!

Inilah Kisah Dibalik Stigma Masyarakat Terhadap Tenaga Kesehatan Kurangnya pemahaman masyarakat umum terhadap kerja perawat dalam memerangi COVID-19 menjadi salah satu faktor penyebaran stigma negatif.

Cerita dari Akhir Pekan: Melihat Evolusi Rasisme Dari Waktu ke Waktu Sejarah rasisme dimulai dengan gagasan ras. Meskipun pemikiran ini sudah ada sejak lama, namun dalam praktiknya masih terjadi.

Risma bercerita tentang warga yang memilih sakit karena Covid-19 daripada kelaparan. Di pasar, misalnya, Risma telah melakukan pemetaan dan pembatasan waktu penjualan bagi para pedagang untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Sudah menjadi tugas pemerintah daerah untuk melindungi agar warga tidak sakit akibat covid-19 dan kelaparan. Bagaimana dengan pengurus partai PDIP? Mungkin karena kurang mendapat bantuan dari Pemkot Surabaya, mereka memilih terkena covid 19. Bercanda saja, banyak orang yang kurang berharap, seperti bumi dan langit dengan Anis Baswedan

6 kisah seru di balik layar Space Force, ditanggapi dengan serius namun tetap penuh dengan candaan yang ada di kehidupan nyata.

Seksinya Gaya Nikita Mirzani Saat Jalani Melukat

Di akun YouTube berjudul “ GOT OUT!! NIKA NIKITA MIRZANI BENAR-BENAR NIAT ‘DIJUAL’! Sabtu (6/6/2020). Melanie menanyakan berapa kali Nikita berhubungan seks dengan suaminya di malam hari. Peristiwa itu terjadi saat ia putus asa saat memulai karirnya di dunia hiburan. Saat ditanya demikian, Nikita Mirzani langsung menjawab pertanyaan sensitif tersebut: “Tuhan itu baik. “Rekor paling banyak tadi malam berapa,” tanya Melanie Ricardo penasaran. Nikita pun menjawab pertanyaan pribadi secara langsung. “Saya masih muda, bisa delapan kali semalam,” jawab Nikita Mirzani. Apakah orang-orang di sana berpikir atau Bukan?” Soal perjuangan menyelamatkan alat pelindung diri (APD), dia menyebut adanya tenaga kesehatan bahkan pingsan karena dehidrasi.

“Apakah kamu benar? Ledes dong,” tanya Melanie lagi. Namun, pembawa acara Nih Kita Kepo tak menampik niatnya untuk menjual. 11 Jun 2020,” tulis Nikita Mirzani baru-baru ini. “Kalau bule nggak apa-apa,” kata Nikita. “Makanya cari bule atau ada fasilitas lain?” tanya Melanie lagi. “Itu terlintas di benak saya, mengapa saya seperti ini? . “Jadi jangan pura-pura ikut campur urusan saya,” tulis Nikita Mirzani. Usai menjalani operasi pengangkatan alat kelamin, perut, dan tato, aktris sekaligus pembawa acara Nikita Mirzani ini kembali aktif mengisi acara pagi di televisi. , gerakan tubuhnya tidak gesit seperti saat tidak dioperasi.Wanita yang akrab disapa Nikki itu masih terlihat berjalan pelan.

“Semuanya sakit di jahitannya. Sakit ini (vaginoplasty) lebih dari melahirkan. Lagi pula, itu normal ketika Anda menjalani operasi karena Anda dibius dan Anda tertidur. Hanya ketika anestesi habis, setelah dua hari, itu terasa seperti ada jahitan di dalam kata Nicky. saat ditemui di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Senin (7/5).

Selain menahan rasa sakit yang luar biasa dari operasi pada bagian pribadinya, Nicky mengakui bahwa dia tidak memiliki pantangan untuk hidup. Buktinya dia sudah kembali beraktivitas seperti biasa.

Ganti Bikini Di Kolam Renang, Nikita Mirzani Beberkan Terakhir Berhubungan Badan, Billy: Sama Bule?

Hanya saja, suka atau tidak suka, Nicki dan pasangannya Dipo Latief harus siap berhubungan seks untuk sementara waktu secara “cepat”.

Namun, Nikki mengatakan Dipo sama sekali tidak memprotes kondisinya saat ini. Karena menurut Nikki, pasangannya mencintainya dengan tulus, dan bukan hanya karena nafsu.

“Kami berdua jatuh cinta sayang, bukan karena seks atau apapun. Tapi karena kami sangat memahami satu sama lain dengan baik, kami bisa bertukar pikiran. Bukan cinta karena kebaikan, tapi nikmat, semua itu adalah bonus. Lebih penting lagi dia bisa diajak ngobrol dan bertukar pikiran tentang apa saja. Jadi santai saja, sebulan dua bulan ‘puasa’ ya tidak masalah,” jelasnya.

Saking santainya, Nicky bahkan mengungkapkan bahwa Dipo rela menunggu hingga keduanya bisa berhubungan kembali sebagai pasangan suami istri.

Nikita Mirzani Pakai Kebaya 1

“Yang penting nanti… Tunggu. Dia sangat bersemangat, kamu bisa tahu dari ekspresinya, dia selalu seperti itu,” tambahnya sambil terus tertawa.

Pada kesempatan yang sama, Nikki kembali menegaskan bahwa keputusannya untuk melakukan vaginoplasty adalah atas kemauannya sendiri dan tidak dipaksakan oleh Dipo. Selain menyenangkan dirinya sendiri, Nikki ingin menyenangkan pasangannya.

“Tujuan sebenarnya adalah untuk bersenang-senang. Kedua, itu pasti untuk pasangan Anda. Jika tidak, dengan siapa Anda ingin menggunakannya? Ya benar? Itu sama dengan mainan. Jadi itu benar-benar untuk pasangan. Bukan permintaan siapa-siapa, tapi murni keinginan Niki sendiri,” pungkasnya., Jakarta News – Lagi-lagi pengakuan artis Nikita Mirzani mengejutkan. Artis yang kerap tampil seksi ini terbuka soal kehidupan pribadinya, termasuk ranjangnya.

Ketika ditanya oleh Melanie Ricardo tentang frekuensi hubungan intimnya dengan suaminya di malam hari, Nikita Mirzani memberikan jawaban tak terduga yang mengejutkan dan mengejutkan Melanie Ricardo.

Nikita Mirzani Bicara Pengalaman Seks, 2 Ini Paling Disorot

Kisah kehidupan pribadi Nikita Mirzani telah terungkap di Youtube Melanie Ricardo berjudul “HILANG!! NIKA NIKITA MIRZANI BENAR-BENAR NIAT ‘MENJUAL’! Dikutip pada Minggu (7/6/2020) kemarin.

Tapi dia beruntung tidak melakukannya, bahkan Nikita Mirzani bersumpah dia tidak pernah menjual dirinya kepada siapa pun.

Kemudian Melanie Ricardo penasaran dengan rumor yang beredar di luar tentang Nikita Mirzani, dikutip laman Kabarregion.com. (irw)

Diangkat jadi guru Download MP3 Kenangan Merdu Kisah Kaskus 1999 Pemberontakan Dengklok https:///ritual-tari-asyek-di-kota-sungai-Full html arti kayu manis suluh bindang kualitas DAMAKORO Tahun berapa izin konsesi PT WKS di Provinsi Jambi Dafitra ex jsys kerinci defitra eka jaya makam keramat kerinci disita undang-undang nomor 16 tahun 2014 tentang penuntutan asal usul cerita Hamparan_Rawang _Sungai_Full fb www sex Perbedaan thr dan kado lebaran FASARAN SURA TA DAYA COM cerita hati sembilank tari tari tradisional kerinci tari tradisional kerinci tanjunguri 2016 foto ibu-ibu persit di surabaya Foto gadis kerinci DJ PESTA PERNIKAHAN Gereja Santa Maria Menurut dr Boyke, Vagina Wanita Arab Tebal Karena Besar 2 Sukma wati vs Vagina Kivlan Zen Rina new dot com Aro Barat Kerinci Kepala Desa Gunung Labu yang baru terpilih, Aro Barat Kerinci, Kardius sakti, abg. Kerinci, avtub live detail tentang gadis Jambi Jambi Kerinci Jambi porno Twitter kegembiraan abg Mesum di Kayu Aro Siapa Mohammed Jais Jambi? video seks pemerkosaan papua geni rut k open bo rimbo bujangan Psk cnline in kerinci bintang porno Argentina Pelaku video porno pada remaja SMP dan SMA Video panas SMP banyak diperkenalkan aplikasi perguruan tinggi cek saudara kandung produk baterai madu xnx https:///judi -kartu-remi -nenek-dan-3-ibu-ibu-di-sungai-penuh-tahanan-polisi html siswi SMP Kerinci Pemerkosaan di kebun teh saudara perempuan menikah dengan saudara perempuan dan melahirkan 2 anak cerita bagus sedang menjadi gundik adalah pemerkosaan dan bahkan kecanduan kantor pos video jambi oleh artis senior vina aulya https:///gawat-limbah-pt-abp-mengalir-ke-sungai-batanghari html lihat gambar gadis cantik abg jambi porno sek gadis sumatra Hot video high school lempur girl akbp i main leader Bunga antoi bokeparab https:///dprd-tanjabbar-bakal-panggil-direktur-pln-terkait-tiang-listrik-miring html Kerinci Time News Today https:// Kerinci team e X Batal dalam gambar vagina hitam bokeh Video ibu tiri Jepang membenturkan lombok laka kemudian Bungo Tebo Video porno diundang oleh nyonya dari toko remang-remang Muaro Jambi Pemilik Swarga Kerinci untuk kesejahteraan umum xnxx cabul Kerinci berusia 10 tahun mengawal wanita kepala desa di daerah yang diserang oleh akar harimau Insiden asusila di Muara Bungo suutet 500 kva hill baling muaro jambi porno suami istri Messum ke suami Pramuka paksa anak smp cium bibir cium bibir gadis kecil Porn 30sc url:avatars mds yandex net/get-images – cbir /2179974/TYJunDYpUH2c67l28/FBHLyMg748/FBHLyMg orig cadar grabbing case merangin Video bugil anak SMP Ciha foto bugil anak SMP foto bugil foto bugil SMP picto pito lake foto SMP buqil ank snp mengambil istrinya iin su santi Di kebun karet, ayah gauli, anak kandung Hesty Cafe di Rimbaud, ayah bujangan di Sarolangun, memperkosa putrinya, THE PROPHET PRAYS TARVI JUST ONE WEEK chubby body pics are chubby facebook dirty kage in kots sungsi full of malaysia stop story New village debai kerinci jambi status https bokef porono video bokep pornovidio com www//vidio bokep// co in xnxx bokep xnxx com

Wadidaw, Nikita Mirzani Ngaku Punya Sex Toys Satu Koper Gaes! Ini Penjelasannya

#Cerita #Sex #Dengan #Nikita #Mirzani

Nikmatnya Ngentot Dengan Wanita Sexy Yang Punya Tubuh Menggoda Terbaru Malam Ini

Terbangun aku mendengar mbak Yana bercerita riuh dengan lawan bicaranya di ponsel sambil duduk di meja rias kamarnya. Ku lirik jam di dinding kamar ini yang terlihat kabur jarumnya, menunjuk angka 9 dan 10. Berarti sampai mendekati hampir tengah malam aku telah beristirahat di kamar mbak Yana.

Bergerak mengangkat selimut aku bergeser ke kiri ke arah kamar mandi di dalam kamarnya sambil menoleh kiri kanan mencari celana dalamku. kutemukan tergeletak di dekat kursi kecil yang dipakai duduk Mbak Yana, kubiarkan tubuhku berdiri meneruskan langkah kaki ke kamar mandi.

Kuraih sabun mandi dan shampoo di wastafel, aku beranjak ke bathup di ujung kamar mandi. Kuputar keran panas dan dingin, kucari kombinasi air hangat yang bakal kupakai berendam. Ahg, memang air hangat tersebut serasa memijat kakiku, dan kubiarkan diriku perlahan-lahan terbenam hingga leherku.

Dari celah pintu yang setengah tertutup itu aku mendengar mbak Yana masih bercerita seru adegan ranjang yang dinikmatinya bersamaku tadi sore, selepas minum ramuan khasiatnya yang membangkitkan energiku sore tadi. Kubiarkan badanku menerima kehangatan air hangat keran kamar mandi sambil bersandar kupejamkan mata.

Setelah lama tak terdengar lagi suara mbak Yana, aku menghentikan usapan sabun di tubuhku dan berusaha berdiri mengarah ke pintu tempat handuk bergantung. Bersamaan dengan itu Terdengar pintu kamar terbuka. Dari celah pintu kamar mandi, dari kaca rias di kamar aku melihat jelas pembantu mbak Yana si Yasmin masuk ke dalam sambil membawa kain bersih di nampan bersama teh hangat dan kue kecil bertumpuk di piring.

Saat membersihkan tempat tidur, dari ujung seberangku hingga berputar mendekati kamar mandi, aku telah kering menyeka basah tubuhku, yang kulilit handuk sepinggang. Saat membungkuk membetulkan seprei tempat tidur sambil membelakangiku, perlahan aku keluar kamar mandi dan merangkulnya dari belakang.

– Aih! pekiknya kecil terkejut.

Masih membungkuk, kuremas dada dan perutnya dalam pelukanku, kuarahkan dia menatap cermin meja rias, yang terlihat jelas belahan dadanya tersembul dibalik dasternya yang sedikit ketat. busana remaja sekarang memang sexy, membuatku senang menatap pemandangan indah di cermin. Yasmin yang meronta berusha berdiri dan melepas tanganku mulai mengerutkan dahi tanda risih.

– Nyonyamu mana sayang ? tanyaku
– Errhh!! Keluar ke temannya, ada yang ingin bertemu degnannya di daerah mall.
– Uhhh!! Tolong lepaskan mas pintanya memelas
– Hmm, terus teh ini untuk siapa Yasmin ?
– Untuk mas, sesuai pesan nyonya tadi.
– Apa saja pesannya ? sambil menggerayangi tubuh remajanya yang masih kencang ini, aku mengarahkannya ke arah meja rias.
– Untuk melayani mas sebelum nyonya datang. Aarhh!!

Pekiknya saat tangan kiriku yang memgang perutnya mulai turun ke bawah. Kuraih pangkal pahanya yang masih rapat tertutup pahanya, kuremas buah dadanya dari belakang, sambil kugesek gesekan pusakaku pada pantat atau punggungnya, sekenanya. tangannya berusaha menggapai tepian meja rias, kursi rias ataupun karpet bulu di kamar, berusaha menopang tubuhnya agar tak jatuh.

– Yah layani aku dong Yasmin aku kan ingin kau melakukannya
– Arrh!! pekik Yasmin,

saat kupegang pergelangan tangannya, kuputar badannya menghadapku, yang dengan cepat menarik ke atas dasternya menutup muka dan menahan tangannya di atas. Kutarik kebawah dengan cepat celana dalamnya dan saat membungkuk segera kuraih bra yang menutup dada ranumnya.

Kulepaskan bra dan celana dalamnya, memperlihatkan tubuhnya yang ramping indah masa2 remajanya. wajahnya masih tertutup daster yang berusaha ditariknya keluar. Kubantu Yasmin melepas dasternya, hingga terlihat sekarang ia menggigit bibir bawahnya sambil memelas wajahnya menatapku

– Jangan mas .. ampun mas
– Jadi kau tak mau melayaniku ? kubiarkan diriku duduk di tempat tidur.
– Jangan melayani ini mas nanti sakit mas
– Tapi ada nikmatnya kan ?

Yasmin tak menjawab. Ia menutupi kedua buah dadanya dengan menyilangkan tangannya, menutup erat pangkal pahanya dengan merapatkan lututnya kesamping setengah ditekuk. Wao! terlihat indah nian dipandang bentuk dan pose yang dilakukan Yasmin di depanku.

– Yasmin sayang, cobalah kau menikmatinya dengan hati terbuka, ikhlas.
– Engkau malah akan merasakan rasa nikmat yang beda dengan usaha penolakanmu. rayuku

Yasmin diam saja.

– Kalau mbak Yana senang dengan pelayananmu padaku, tentunya sikap mbak Yana akan baik kepadamu kan ?
– Kemarilah Yasmin sayang kataku perlahan sambil berdiri.
– Engkau cantik kuarahkan mukaku ke wajahnya dan mulai mencium pipi, ke arah telinga terus ke leher.
– Engkau gadis sexy Yasmin. kulitmu bagus kuhisap bahunya, turun ke bawah ke depan.

Mulai terasa pangkal buah dadanya mengeras, bergetar lembut saat tanganku mengajak pergelangan tangannya menjauhinya. Kubenamkan mulutku, menghisap dan mnggigit dada ranum kenyal, ketat milik Yasmin. Yasmin diam saja, masih menggigit bibir bawahnya, mulai menunduk dengan mata terpejam, terkulai ke kanan.

Kupeluk tubuh rampingnya, Kuremas kedua pantatnya, Kulebarkan pahanya. Kulakukan remasan selama beberapa waktu sampai akhirnya kupeluk erat dan kubaringkan ke karpet bulu di kamar mbak Yana ini.

Masih terpejam mata Yasmin, bibirnya setengah terbuka, kedua tangannya mendekap kepalaku. Kutindih badannya, kubuka kakinya lebar2 dengan usaha kakiku, kugesekkan perlahan handuk yang melindungi pusakaku ke pangkal pahanya. Kakinya terbuka secara suka rela, tertekuk lututnya.

Nafasnya tersengal saat pusakaku yang mulai mengeras menekan pangkal pahanya. Yasmin meremas tangannya di kepalaku saat tubuhku mendorong maju mundur dan menekan ke bawah. Merintih dan mengerang sambil menggoyangkan badannya mencari irama yang diinginkannya.

Tak terasa lama kami saling memagut, menekan dan mendekap pasangannya masing, sampai mulai terasa hangat pusakaku menyentuh tubuhnya. Handukku telah terlepas. Sedikit mengangkat panggul aku mengarahkan kepala pusakaku ketengah pangkal paha Yasmin. Yasmin diam tak bereaksi menunggu saat2 itu tiba. Kepalaku didekap erat sambil mengerang

– ERrrgh!!

Saat kepala pusakaku mulai menempati posisi yang pas pada milik Yasmin. Segera kudorong tubuhku sambil menekan membuatnya membuka mulut, tapi tak berusara. Matanya terpejam dan terbuka sesaat, bergantian, seirama dengan goyangannya mengimbangi dorongan dan tekananku. Beberapa waktu kemudian

– AAARRRGH!! pekiknya nyaring, pendek, dan terbuka lebar mata dan mulutnya

Sambil berkelojotan, bergoyang dan bergetar semua tubuhnya menghimpit rapat pingggangku. Pahanya yang erat menjepitku sekarang diringi gemetar semua dadanya. Kemudian Yasmin diam, memejamkan mata, masih berair ujung kelopak matanya, tapi sedikit tersenyum Yasmin masih mengelus kepalaku.

– Enak kan sayang ?? bisikku di telinganya, tanpa menghentikan gerakanku.

Masih dengan irama yang sama aku sekarang duduk berlutut dihadapnnya, membuka lebar kakinya dengan keuda tanganku di betisnya yang kuangkat ke atas. Tangannya sekarang mencengkeram kursi rias dan karpet bulu di salah satunya.

Kepalanya masih terkulai ke kanan, mengangguk-angguk. sambil menekan bibir bawah ia mulai merintih lagi. Pintu kamar terbuka dari luar!! Kuangkat kepalaku dan mbak Yana masuk. sambil menatap kami ia tersenyum kecil, meletakkan pantantnya di kasur, melepaskan sepatu tingginya.

DI pintu, masuk lagi seorang wanita tinggi, lebih muda dari mbak Yana dengan kurus panjang wajahnya mirip gadis foto model. Bajunya yang terikat diujung bawahnya memperlihatkan branya yang gelap membungkus dadanya yang kencang. Rok jeans sepaha yang dikenakannya terlihat amat sangat sexy membungkus pahanya yang putih.

Lalu masuk lagi seorang wanita pendek dengan tubuh yang sedikit lebih lebar dari mbak Yana, tetapi memiliki buah dada yang teramat besar. Baju putihnya lurus membungkus menutupi bentuk tubuhnya yang sedikit lebar itu, tanpa dapat menyembunyikan besar dada di depannya.

– Sayang, ini Jane dan yang baju putih ini Henni. yang kemudian menyebutkan namaku kepada mereka
– Yang di bawah tu si Yasmin, masih perawan dia tadi pagi. senyumnya kepada temannya.

Aku tidak menghentikan gerakanku, masih menikmati denyutan di dalam lubang Yasmin yang sekarang ikut menoleh ke arah mereka. Bingung ia harus berbuat apa sementara tubuhku masih mendorong keluar masuk pusakaku ke dalam lubang miliknya.

Mbak Yana keluar kamar sambil menepuk pundak Jane

– Ayolah kalo kau menginginkannya.
– Yuk Ndut, kita ke dapur dulu. ajak Mbak Yana ke arah Henni.

Kulihat Jane mulai melepaskan perhiasannya, meletakkan dalam tasnya. Membuka kancing bra dan ikatan bajunya, meletakkannya di kursi rias sambil mendekat kearahku. Kulihat Jelas buah dadanya bagus menjulang, ujungnya runcing membuatku ingin menghisapnya. Sedikit membungkuk ia menurunkan rok jeans yang telah terbuka resletingnya. celana dalam coklat gelap dengan bordir indah menambah indah bentuk lekukan bawah pusar si Jane.

– Mas kata Jane perlahan sambil mendekatkan wajahnya menciumi punggungku yang masih bergoyang berirama.

Jane merangkulku dari belakang, dan mengesekkan tubuhnya pada punggungku, kurasakan dadanya yang kenyal dan ketat itu menekan punggungku. Kemudian ia bangkit sedikit berdiri, menempelkan perutnya ke punggungku.

Kurebahkan miring si Yasmin di bawah, kakinya kanannya kusilangkan dengan kaki kirinya, pahanya sedikit merapat, pangkal pahanya seditkit lebih menjepit erat miliku. Yasmin merintih, kali ini meremas karpet disebelahnya erat2, kemudian sambil merapatkan bibir ia mengejang.

Tanganku yang memegang kakinya merasa getaran kejang2 cepat yang kemudian berhenti, tapi dengan otot2 tubuh yang masih mengejang. badannya setengah tertekuk ke samping, lubangnya terasa lebih sempit dari sebelummnya saat itu.Kemudian ia diam tak bergerak, dengan masih rebah miring dan kaki terangkat satu. Ia tak bergerak, diam lemas tapi masih mencengkeram karpet bulu.

Dari tadi tubuhku tetap bergoyang dengan irama yang sama menekan ke depan dan ke bawah.Aku tidak melihat perlawanan lagi. Tapi lubang milik Yasmin itu aku masih suka mengolahnya dengan pusakaku. Tidak sesempit sesaat tadi, tapi masih terasa menjepit dan berdenyut saat aku menghentikan sebentar gerakanku.

Jane yang tanganya sudah gatal telah memulai meremas dadanya sendiri, menyaksikan kelojotan dan kejangan Yasmin di hadapannya. Sambil meraih pergelangan tangan kiriku, ia menyodorkan kemaluannya, menempelkan tangannya di situ sambil menggesekan tubuhnya ke tanganku. Sedikit kujepit dengan ibu jari dan telunjukku, kubuat celana dalam Jane sedikit turun ke bawah.

Dari samping kemudian merangkulku, duduk di paha kiriku, menghadapku. Membuka pahanya lebar2 dan membenamkan pangkalnya ke pahaku. Dicondongkannya tubuh bawahnya hingga lebih menempel, menggesekkan kemaluannya ke pahaku. Kemudian menggesek kedua dadanya di bahu kiriku, naik turun.

Kulepaskan si Yasmin yang terdiam di lantai, kuajak berdiri sebentar si Jane, kemudian mengajaknya duduk di kursi rias. Kutarik lepas celana dalamnya, tubuh Jane yang aduhai ini telah duduk di kursi rias dengan terbuka lebar pahanya.

Segera kudorong bersandar ke meja rias, ia menopang sikunya. Pangkal pahanya dicondongkan ke arahku, memperlihatkan bentuk kemaluannya yang terselimut bulu tebal dari bawah pusar hingga sekeliling pangkal kakinya. kakinya dibuka sedemikian lebar hingga kedua tanganku dapat membuka belahan bawah Jane dan memijitnya perlahan.

– UUUhhggghh Mengecil mulut Jane ke depan, melenguh melepaskan nafas.

Kumasukkan pusakaku ke dalam milik Jane, kulakukan gerakan maju mundur dengan irama perlahan. Terasa masih kering lubang Jane, sehingga masih terasa dinding pusakaku menggesek lubang Jane saat berusaha masuk.

Jane tersenyum nakal. dan mulai menggoyangkan naik turun bawah perutnya, membuatku semakin bersemangat menekan tubuhnya. Kupercepat gerakanku. ku tak peduli jika aku mencapai puncakku sebentar lagi. Tapi herannya, perasaan rileks di kepalaku dan nafas teratur miliku seperti malah membuatku tidak sampai2 pada ujung nikmatku.

Sudah tegang pusakaku bersama si Yasmin, Sudah bergesekan di lubang sempit miliknya berulang kali. Kali ini dengan Jane, lubang keringnya yang menggigit dinding pusakaku, juga tak sanggup melepaskan energi yang kutunggu dari tadi. Heran juga ku sekilas.

Tapi dorongan2 dan tekanan tajam, cepat dan berulang kepada Jane membuat lubangnya mulai basah juga. Dengan cepat ia merangkul kepalaku, pahanya dengan sigap dan cepat merangkul pinggangku, sehingga membuatku bangkit, menggendongnya, dan mendorong lubang di bawah badannya dalam-dalam.

– AArghhh!! nikmat mas

Badan Jane bergoyang dalam gendonganku. Kadang naik turun, kadang maju mundur, sambil terus menjepit kepalaku dengan tangan, dan pinggangku dengan kakinya. Kuajak ia berjalan keliling kamar mbak Yana. Merintih si Jane bergoyang pantatnya terdorong pahaku yang melangkah maju bergantian.

Semakin erat genggamn Jane, dan semakin memburur nafasnya. Kubuka handle pintu kamar mbak Yana, kubuka pintunya, kuberjalan ke ruang tengah sambil menggendong Jane yang bergoyang goyang mencari kesenangannya.

Kulihat Mbak Yana di depan tv ruang tengah, melihat film porno asia, pemerkosaan gadis sekolah jepang di tv layar lebarnya. Kulihat mbak Yana menatap layar sambil menerawang matanya. Pakainnya telah kebawah, tinggal bra di dadanya yang sedikit melorot juga, tanda kancing belakangnya telah terlepas.

Kulihat kebawah, kaki mbak Yana bergoyang-goyang mengapit kepala si Henni yang mengulum lekukan bawah tubuh mbak Yana. Sambil bersandar dan melirik kami, mbak Yana membenamkan kepala Henni dalam2. Mulut mbak Yana terbuka, setengah bergoyang ia melambai kearahku. Mengajakku mendekat.

Jane yang kugendong tambah mempererat genggamannya saat kulewati tv itu, membuat Jane melihat dan mendengar jelas teriakan, erangan dan tangisan keras gadis sekolah yang terpampang di tv, dikerjai oleh si pria dewasa. Jane mempercepat ayunannya dan kulihat matanya melotot melihat tv, mempererat jepitannya, merintih-rintih kemudian

– ARrrghhhh!! AAAHhHHHHHHhhhh

Badannya bergunjang dalam gendonganku, bergetar dan mengejang sesaat. Kemudian melapaskan tangan dan kakinya, hendak turun. Kubiarkan ia merosot ke bawah, ke lantai berselimut bulu tebal itu. Ia terbaring miring sambil tersenyum padaku.

Mbak Yana terpejam dan terbuka matanya bergantian, menikmati sapuan lidah dan hisapan si Henni yang setengah telanjang berbaring di bawah. Kutarik meja ke pinggir memperluas ruang tengah ini, kutarik kursi sofa kecil ke arah mereka berdua.

Kuangkat gaun putih bagian bawah milik Henni. gaunnya di tengah tubuhnya sekarang bergantung, karena bagian atasnya sudah terlepas semua hingga pinggang. Tak kulihat celana dalam si Henni di badannya.

Coba kuangkat sedikit pahanya, mengajaknya bersandar telungkup di kursi yang kusiapkan. Masih melumat milik mbak Yana, si Henni mulai melirik ke arahku. Kubuka sedikit pahanya, yang diteruskan dengan usahanya sendiri membuka lebar2 dan sedikit menungging bagian bawahnya. merangarahkannya kepadaku.

Ah, segera kusiapkan pusakaku berganti lubang sekarang. Kumasukan perlahan. sempit. Henni menjerit kecil dalam benaman pangkal paha mbak Yana. Perlahan kumasukan pusakaku yang basah ini memasuki lubang Henni. Wanita ini gemuk, sehingga membuat lubangnya sempit, atau ia jarang melalukan sehingga terasa sempit ?

Perlahan tapi pasti, pusakaku sudah di dalam lubang Henni. kukoyak kesamping, kedorong kedepan, kebenamkan dalam-dalam ke bawah, kugoyang kesegala arah. Aku senang dinding pusakaku terpijit denyutan ruang dalam Henni.

– Ah!! pekiknya tertahan

Lubang Henni, hampir sesempit lubang Yasmin. Tapi kali ini ia memijit pusakaku di dalam, membuatnya berbeda dengan milik si Yasmin. Kudorong terus si Henni, kuingin terus meraih sensasi di pijitan di ruang dalam miliknya.

Tak beberapa lama, aku mulai gemetar, kupercepat gerakanku, kuperhatikan mbak Yana yang terpejam matanya, terlentang lemas, Henni yang tidak mengulum kemaluan mbak Yana, mulai terengah-engah, telungkup di kursi kecil. Badannya sedikit bergoyang sambil terus merapatkan pantatnya, berusaha keras menjepit pusakaku saat beraksi di lubangnya. Kurasakan si Henni ini yang paling lihai diantara mereka.

Dengan meremas pantatnya, kubenamkan dalam2 pusakaku ke lubang Henni, menegang paha dan lututku, mengeluarkan cairan hangat yang kutunggu dari tadi. Kusampai puncak nikmatku dengan wanita sintal tapi lihai ini. Kulihat ia tersenyum menoleh kepadaku, terengah engah membiarkan lubangnya tersiram air hangat dari dalam tubuhku.

Sesaat sambil meluruskan kaki, terduduk di bawah bersandar sofa, aku merasa ada yang aneh saat kuperhatikan pusakaku masih bediri tegak. Aku sudah yakin mencapai puncak nikmat saat bersama Henni tadi, tapi pusakaku belum bergerak melingkar lemas kebawah.

Kupegang, masih tegang dan kencang. Kuteguk cangkir minuman disampingku, kurasakan hangat tehnya, sambil menutup mata dan menyandarkan kepalaku ke sofa aku beristirahat memejamkan mata.

Setengah sadar aku merasakan beban berat mendidihhku, bersamaan terjepitnya pusakaku kedalam lubang bawah wanita. Kurasakan semua gerakan ayunan dan goyangan cepat berlangsung lama di atasku bersamaan dengan pekik panjang suara si Henni.

Tak lama setelah mengangkat badannya, kembali aku tertindih berat tubuh wanita yang membenamkan pusakaku ke dalam liang lubang wanitanya. Kudengar suara mbak Yana sekarang terengah dan menjerit terus menerus. Mulai kudengar pula suara Jane ikut tertawa perlahan dan bergantian menindih tubuhku sambil menggoyangkan pangkal pahanya mencari kenikmatan. Mereka terus melakukan secara bergantian.

Akhirnya tak terdengar suara dan gerakan lagi Kubuka mataku dan melihat mereka bertiga tertidur di karpet, semua dengan telanjang bulat. Kucoba bangkit, merasakan tenagaku mulai pulih, aku bergerak perlahan ke kamar mbak Yana, sambil memperhatikan pusakaku yang masih terus berdiri tegak.

Cerita sex : Pembantu Semok Yang Bikin Goyah Kesetiaan Pada Istri

Aku masih teringat Yasmin, remaja belasan tahun yang masih sangat ingin kujamah dan mengolah tubuh molek kencangnya bersama lubang kenikmatannya yang sempit.

#Nikmatnya #Ngentot #Dengan #Wanita #Sexy #Yang #Punya #Tubuh #Menggoda

Ngentot Dengan TKW Yang Masih Perawan Dan Polos Terbaru Malam Ini

Empat tahun lalu aku masih tinggal dikota B. Waktu itu aku berumur 26 tahun. Aku tinggal dirumah sepupu, karena sementara masih menganggur aku iseng-iseng membantu sepupu bisnis kecil-kecilan di pasar. 3 bulan aku jalani dengan biasa saja. Hingga akhirnya secara tak disengaja aku kenal seorang pelanggan yang biasa menggunakan jasa angkutan barang pasar yang kebetulan aku yang mengemudikannya. Bu Devi namanya. Sambil ngobrol ngalor-ngidul aku antar dia sampai dirumahnya yang memang agak jauh dari pasar tempat dia berjualan kain-kain dan baju.

Sesampai dirumahnya aku bantuin dia mengangkat barang-barangnya. Mungkin karena sudah mulai akrab aku enggak langsung pulang. Toh, memang ini penumpang yang terakhir. Aku duduk saja di depan rumahnya yang sejuk, karena kebetulan ada seperti dipan dari bambu dihalaman di bawah pohon jambu. Dari dalam aku mendengar suara seperti memerintah kepada seseorang..

“una.. Tuh bawain air yang dikendil ke depan..,” begitu suara Bu Devi.
Aku tidak mendengar ada jawaban dari yang diperintah Bu Devi tadi. Yang ada tiba-tiba seorang gadis umur kira-kira 20 tahunan keluar dari rumah membawa gelas dan kendil air putih segar. Wajahnya biasa saja, agak mirip Bu Devi, tapi kulitnya putih dan semampai pula. Dia tersenyum..
“Mas, minum dulu.. Air kendil seger lho..” begitu dia menyapaku.
“I.. Iya.. Makasih..” balasku.

Masih sambil senyum dia balik kanan untuk masuk kembali ke dalam rumahnya. Aku masih tertegun sambil memandangnya. Seperti ingin tembus pandang saja niatku, ‘Pantatnya aduhai, jalannya serasi, lumayan deh..’ batinku.

Tak seberapa lama Bu Devi keluar. Dia sudah ganti baju, mungkin yang biasa dia pakai kesehariannya..
“Dik Geri, itu tadi anak saya si Luna..” kata Bu Devi.
“Dia tuh lagi ngurus surat-surat katanya mau ke Malaysia jadi TKW.” lanjutnya. Aku manggut-manggut..

“O gitu yah.. Ngapain sih kok mau jauh-jauh ke Malaysia, kan jauh.. Nanti kalau ada apa-apa gimana..” aku menimpalinya.
Begitu seterusnya aku ngobrol sebentar lalu pamit undur diri. Belum sampai aku menstater mobil pickupku, Bu Devi sambil berlari kecil ke arahku..
“Eh dik Geri, tunggu dulu katanya Luna mau ikut sampai terminal bis. Dia mau ambil surat-surat dirumah kakaknya. Tungguin sebentar ya..”

Aku tidak jadi menstater dan sambil membuka pintu mobil aku tersenyum karena inilah saatnya aku bisa puas mengenal si Luna. Begitulah akhirnya aku dan Luna berkenalan pertama kali. Aku antar dia mengambil surat-surat TKW-nya. Di dalam perjalanan kami ngobrol dan sambil bersendau gurau.
“una.., namamu Luna. Kok nggak ada lesung Lunanya..” kataku ngeledek. Luna juga tak kalah ngeledeknya.

“Mas aku kan sudah punya lesung yang lain.. Masak sih kurang lagi..” balas Luna..
Di situ aku mulai berani ngomong yang sedikit nakal, karena sepertinya Luna tak terlalu kaku dan lugu layaknya gadis-gadis didesa. Pantas saja dia berani merantau keluar negeri, pikirku.
Sesampai dirumah kakaknya, ternyata tuan rumah sedang pergi membantu tetangga yang sedang hajatan. Hanya ada anaknya yang masih kecil kira-kira 7 tahunan dirumah. Luna menyuruhnya memanggilkan ibunya.

“Eh Ugi, Ibu sudah lama belum perginya? susulin sana, bilang ada Lik Luna gitu yah..”
Ugi pergi menyusul ibunya yang tak lain adalah kakaknya Luna. Selagi Ugi sedang menyusul ibunya, aku duduk-duduk di dipan tapi di dalam rumah. Luna masuk ke ruangan dalam mungkin ambil air atau apa, aku diruangan depan. Kemudian Luna keluar dengan segelas air putih ditangannya.
“Mas minum lagi yah.. Kan capek nyetir mobil..” katanya.

Diberikannya air putih itu, tapi mata Luna yang indah itu sambil memandangku genit. Aku terima saja gelasnya dan meminumnya. Luna masih saja memandangku tak berkedip. Akupun akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Luna, dingin dan sedikit berkeringat. Tak disangka, malah tangan Luna meremas jariku. Aku tak ambil pusing lagi tangan satunya kuraih, kugenggam. Luna menatapku.

“Mas.. Kok kita pegang-pegangan sih..” Luna setengah berbisik.
Agak sedikit malu aku, tapi kujawab juga, “Abis, .. Kamu juga sih..”

Setelah itu sambil sama-sama tersenyum aku nekad menarik kedua tangannya yang lembut itu hingga tubuhnya menempel di dadaku, dan akhirnya kami saling berpelukan tidak terlalu erat tadinya. Tapi terus meng-erat lagi, erat lagi.. Buah dadanya kini menempel lekat didadaku. Aku semakin mendapat keberanian untuk mengelus wajahnya. Aku dekatkan bibirku hingga menyentuh bibirnya. Merasa tidak ada protes, langsung kukecup dan mengulum bibirnya. Benar-benar nikmat. Bibirnya basah-basah madu. Tanganku mendekap tubuhku sambil kugoyangkan dengan maksud sambil menggesek buah dadanya yang mepet erat dengan tubuhku. Sayup-sayup aku mendengar Luna seperti mendesah lirih, mungkin mulai terangsang kali..

Apalagi tanpa basa-basi tonjolan di bawah perutku sesekali aku sengaja kubenturkan kira-kira ditengah selangkangannya. Sesekali seperti dia tahu iramanya, dia memajukan sedikit bagian bawahnya sehingga tonjolanku membentur tepat diposisi “mecky”nya.

Sinyal-sinyal nafsu dan birahiku mulai memuncak ketika tanpa malu lagi Luna menggelayutkan tangannya dipundakku memeluk, pantatnya goyang memutar, menekan sambil mendesah. Tanganku turun dan meremas pantatnya yang padat. Akupun ikut goyang melingkar menekan dengan tonjolan penisku yang menegang tapi terbatas karena masih memakai celana lumayan ketat. Ingin rasanya aku gendong tubuh Luna untuk kurebahkan ke dipan, tapi urung karena Ugi yang tadi disuruh Luna memanggil ibunya sudah datang kembali.

Buru-buru kami melepas pelukan, merapikan baju, dan duduk seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Begitu masuk, Ugi yang ternyata sendirian berkata seperti pembawa pesan.
“Lik Luna, Ibu masih lama, sibuk sekali lagi masak buat tamu-tamu. Lik Luna suruh tunggu aja. Ugi juga mau ke sana mau main banyak teman. sudah ya Lik..”
Habis berkata begitu Ugi langsung lari ngeloyor mungkin langsung buru-buru mau main dengan teman-temannya. Aku dan Luna saling menatap, tak habis pikir kenapa ada kesempatan yang tak terduga datang beruntun untuk kami, tak ada rencana, tak ada niat tahu-tahu kami hanya berdua saja disebuah rumah yang kosong ditinggal pemiliknya.

“Mas, mending kita tunggu saja yah.. sudah jauh-jauh balik lagi kan mubazir.. Tapi Mas Geri ada acara nggak nanti berabe dong..” berkata Luna memecah keheningan.
Dengan berbunga-bunga aku tersenyum dan setuju karena memang tidak ada acara lagi aku dirumah.
“una sini deh.. Aku bisikin..” kataku sambil menarik lengan dengan lembut.
“Eh, kamu cantik juga yah kalau dipandang-pandang..”

Tanpa ba-Bi-Bu lagi Luna malah memelukku, mencium, mengulum bibirku bahkan dengan semangatnya yang sensual aku dibuat terperanjat seketika. Akupun membalasnya dengan buas. Sekarang tidak berlama-lama lagi sambil berdiri. Aku mendorong mengarahkannya ke dipan untuk kemudian merebahkannya dengan masih berpelukan. Aku menindihnya, dan masih menciumi, menjilati lehernya, sampai ke telinga sebelah dalam yang ternyata putih mulus dan beraroma sejuk. Tangannya meraba tonjolan dicelanaku dan terus meremasnya seiring desahan birahinya. Merasa ada perimbangan, aku tak canggung-canggung lagi aku buka saja kancing bajunya. Tak sabar aku ingin menikmati buah dada keras kenyal berukuran 34 putih mulus dibalik bra-nya.

Sekali sentil tali bra terlepas, kini tepat di depan mataku dua tonjolan seukuran kepalan tangan aktor Arnold Swchargeneger, putih keras dengan puting merah mencuat kurang lebih 1 cm. Puas kupandang, dilanjutkan menyentuh putingnya dengan lubang hidungku, kuputar-putar sebelum akhirnya kujilati mengitari diameternya kumainkan lidahku, kuhisap, sedikit menggigit, jilat lagi, bergantian kanan dan kiri. Luna membusung menggeliat sambil menghela nafas birahi. Matanya merem melek lidahnya menjulur membasahi bibirnya sendiri, mendesah lagi.. Sambil lebih keras meremas penisku yang sudah mulai terbuka resluiting celanaku karena usaha Luna.

Tanganku mulai merayap ke sana kemari dan baru berhenti saat telah kubuka celana panjang Luna pelan tapi pasti, hingga berbugil ria aku dengannya. Kuhajar semua lekuk tubuhnya dengan jilatanku yang merata dari ujung telinga sampai jari-jari kakinya. Nafas Luna mulai tak beraturan ketika jilatanku kualihkan dibibir vaginanya. Betapa indah, betapa merah, betapa nikmatnya. Clitoris Luna yang sebesar kacang itu kuhajar dengan kilatan kilatan lidahku, kuhisap, kuplintir-plintir dengan segala keberingasanku. Bagiku Mecky dan klitoris Luna mungkin yang terindah dan terlezaat se-Asia tenggara.

Kali ini Luna sudah seperti terbang menggelinjang, pantatnya mengeras bergoyang searah jarum jam padahal mukaku masih membenam diselangkangannya. Tak lama kemudian kedua paha Luna mengempit kepalaku membiarkan mulutku tetap membenam di meckynya, menegang, melenguhkan suara nafasnya dan…

“Aauh.. Ahh.. Ahh.. Mas.. Luna.. Mas.. Luna.. Keluar.. Mas..” mendengar lenguhan itu semakin kupagut-pagut, kusedot-sedot meckynya, dan banjirlah si-rongga sempit Luna itu. Iri sekali rasanya kalau aku tak sempat keluar orgasme, kuangkat mukaku, kupegang penisku, kuhujam ke vaginanya. Ternyata tak terlalu susah karena memang Luna tidak perawan lagi. Aku tak perduli siapa yang mendahului aku, itu bukan satu hal penting. Yang penting saat ini aku yang sedang berhak penuh mereguk kenikmatan bersamanya. Lagipula aku memang orang yang tidak terlalu fanatik norma kesucian, bagiku lebih nikmat dengan tidak memikirkan hal-hal njelimet seperti itu.

Kembali ke “pertempuranku”, setengah dari penisku sudah masuk keliang vagina sempitnya, kutarik maju mundur pelan, pelan, cepet, pelan lagi, tanganku sambil meremas buah dada Luna. Rupanya Luna mengisyaratkan untuk lebih cepat memacu kocokan penis saktiku, akupun tanggap dan memenuhi keinginannya. Benar saja dengan “Ahh.. Uhh”-nya Luna mempercepat proses penggoyangan aku kegelian. Geli enak tentunya. Semakin keras, semakin cepat, semakin dalam penisku menghujam.

Kira-kira 10 menit berlalu, aku tak tahan lagi setelah bertubi-tubi menusuk, menukik ke dalam sanggamanya disertai empotan dinding vagina bidadari calon TKW itu, aku setengah teriak berbarengan desahan Luna yang semakin memacu, dan akhirnya detik-detik penyampaian puncak orgasme kami berdua datang. Aku dan Luna menggelinjang, menegang, daan.. Aku orgasme menyemprotkan benda cair kental di dalam mecky Luna. Sebaliknya Luna juga demikian. Mengerang panjang sambil tangannya menjambak rambutku.. Tubuhku serasa runtuh rata dengan tanah setelah terbang ke angkasa kenikmatan. Kami berpelukan, mulutku berbisik dekat telinga Luna.

“Kamu gila una.. Bikin aku kelojotan.. Nikmat sekali.. Kamu puas una?”
Luna hanya mengangguk, “Mas Geri.., aku seperti di luar angkasa lho Mas.. Luar biasa benar kamu Mas..” bisiknya..

Sadar kami berada dirumah orang, kami segera mengenakan kembali pakaian kami, merapihkannya dan bersikap menenangkan walaupun keringat kami masih bercucuran. Aku meraih gelas dan meminumnya.

Kami menghabiskan waktu menunggu kakaknya Luna datang dengan ngobrol dan bercanda. Sempat Luna bercerita bahwa keperawanannya telah hilang setahun lalu oleh tetangganya sendiri yang sekarang sudah meninggal karena demam berdarah. Tapi tidak ada kenikmatan saat itu karena berupa perkosaan yang entah kenapa Luna memilih untuk memendamnya saja.
Begitulah akhirnya kami sering bertemu dan menikmati hari-hari indah menjelang keberangkatan Luna ke Malaysia. Kadang dirumahnya, saat Bu Devi kepasar, ataupun di kamarku karena memang bebas 24 jam tanpa pantauan dari sepupuku sekalipun.

Cerita sex : Pelacur Yang Telah Mengambil Keperjakaan Ku

Tak lama setelah keberangkatan Luna aku pindah ke Jakarta. Khabar terakhir tentang Luna aku dengar setahun yang lalu, bahwa Luna sudah pulang kampung, bukan sendiri tapi dengan seorang anak kecil yang ditengarai sebagai hasil hubungan gelap dengan majikannya semasa bekerja di negeri Jiran itu. Sedang tentangku sendiri masih berpetualang dan terus berharap ada “Luna- Luna” lain yang nyasar ke pelukanku. Aku masih berjuang untuk hal itu hingga detik ini. Kasihan sekali gue..

#Ngentot #Dengan #TKW #Yang #Masih #Perawan #Dan #Polos

Cerita Ngentot Terjebak Hutang Budi Dengan Atasan Terbaru Malam Ini

Brak brak brak…!!!

Beberapa kali aku menggebrak meja yang ada di depanku. Sementara wanita itu masih terus menutup wajahnya, dia masih terus menangis. Wanita itu adalah Siti, istriku. Dia sejak tadi sudah menangis, sejak dia mulai menceritakan apa yang dia alami kepadaku. Cerita yang begitu menyayat hatiku. Aku benar-benar marah, tapi bukan kepada dirinya, karena aku tahu dia hanya menjadi korban disini. Aku marah kepada keadaan, dan orang yang telah membuat Siti menjadi begini.

Namaku Krisna, 29 tahun. Dan istriku, Siti Wardhani, 26 tahun. Kami belum 2 tahun menikah, dan sampai sekarang belum dikaruniai anak. Aku bekerja sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta, sedangkan istriku bekerja sebagai PNS di sebuah dinas pemerintahan di kota kami.

Sedikit tentang istriku, dia adalah wanita yang sangat cantik dan menawan. Aku sudah memacarinya sejak lama, sejak dia menjadi mahasiswa baru dan kebetulan saat itu aku yang menjadi pembina di kelompok ospeknya. Hanya sebulan setelah ospek, dia sudah resmi menjadi pacarku. Terhitung sampai sekarang, kami sudah hampir 8 tahun bersama. Tapi selama berpacaran kami tak pernah melakukan hal-hal yang dilarang. Aku baru benar-benar menyentuh tubuhnya setelah kami sah menjadi suami istri.

Setelah menikah denganku, Siti memutuskan untuk memakai jilbab. Dia bilang mau menjaga penampilan dan dirinya, sehingga hanya akulah lelaki yang berhak atas dirinya. Tentu saja hal itu membuatku semakin menyayanginya.

Banyak temanku yang merasa iri dengan keberuntunganku bisa mendapatkan wanita secantik Siti. Akupun juga bersyukur akan hal itu, dan itulah yang selalu kujaga sampai sekarang. Tapi sayangnya, malam ini, aku benar-benar merasa menjadi orang yang sangat bodoh, karena gagal menjaga istriku. Telah ada lelaki lain, yang berhasil memaksanya menyerahkan tubuhnya. Dan itulah yang saat ini membuatku beberapa kali menggebrak meja yang ada di depanku.

Siti tadi sudah menceritakan semuanya, dengan sangat detail. Dia bersumpah tidak ada yang disembunyikan lagi. Aku tahu Siti, dia tidak mungkin berbohong, dan itulah yang semakin membuatku marah kepada diriku sendiri.

Cerita ini dimulai dari beberapa minggu yang lalu. Saat itu Siti terpaksa harus lembur dan pulang agak petang. Sedangkan aku, yang memang kerja di kantor swasta, memang sudah sering pulang telat. Aku memang jarang mengantar jemput Siti karena dia membawa kendaraan sendiri, seperti halnya hari itu.

Sebenarnya saat itu Siti tidak sendiri lemburnya, hampir semua temannya juga lembur, entah karena mau ada apa, setahuku sih mau ada rapat tahunan, atau semacamnya lah. Mereka baru selesai sekitar jam 7 malam. Meskipun tidak terbiasa pulang jam segitu, tapi karena jarak rumah dengan kantor yang tidak terlalu jauh, dan juga kondisi jalanan yang cukup terang dan ramai, Siti tak khawatir pulang sendiri.

Setelah berpamitan dengan teman-temannya yang kebetulan tidak ada yang searah dengan Siti, diapun pulang naik motor maticnya. Tapi baru beberapa puluh meter meninggalkan gerbang kantornya, tiba-tiba motor Siti dipepet oleh 2 buah motor yang memaksanya bergerak ke pinggir.

“Berhenti, atau kami bunuh!” bentak seorang diantaranya.

Siti tak bisa melihat dengan jelas wajah keempat orang yang mencegatnya karena mereka semua memakai penutup wajah. Pria yang membentak tadi juga menodongkan parang ke arahnya, hingga nyali Sitipun semakin ciut. Mau tak mau diapun meminggirka motornya, diikuti oleh keempat orang yang naik 2 motor itu.

“Ampun bang, jangan sakiti saya. Ambil aja motornya, saya jangan diapa-apain.”

“Heh diem lu. Gue yang nentuin bukan elu!!!”

Lagi-lagi digertak seperti itu Siti makin ciut nyalinya. Dia tak berani berbuat apa-apa, hanya terus berdoa, semoga para begal ini hanya mengambil motornya, lalu pergi tanpa melukainya.

“Siniin tas lu!!”

Tiba-tiba salah seorang begal yang membawa parang tadi mendekati Siti, dan merebut tasnya dan langsung mengacak-acak isinya. Handphone Siti diambil, dompetnya juga, dibuka dan diambil semua uang yang ada. Tapi anehnya pria itu tak langsung membuang dompet Siti, tapi masih seperti melihat sesuatu.

“Hmm, Siti Wardhani. Cantik juga foto lu, coba buka helm sama masker lu!!!”

Saat itu Siti memang masih memakai helm dan maskernya. Karena lagi-lagi ditodong dengan parang, Sitipun menurutku kemauan begal itu. Sementara salah satu sedang mengancam Siti, ketiga temannya terlihat berjaga-jaga melihat kondisi, yang entah kenapa malam itu lebih sepi dari biasanya.

Siti berharap ada seseorang atau siapapun yang lewat untuk bisa menolongnya, tapi sejak tadi dia keluar dari kantornya, tidak ada satupun kendaraan yang mengarah kesini.

“Woy buruan, mau lu gue bacok?!”

“Ii,, iya bang.”

“Wuiih, beneran cantik rupanya lu ya. Eh bro, gimana kalau kita bawa sekalian ni perek, buat senang-senang malam ini.”

“Wah boleh juga tuh bro, cantik banget, udah lama gue nggak ngewe cewe secantik ini, jilbaban lagi. Udah angkut aja.”

Siti mendadak semakin takut, mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh para begal itu. Dan saat itu tiba-tiba muncul keberaniannya untuk membela diri. Dia tak mau sampai jatuh ke para begal itu, dia ingin melawan mereka, semampunya.

Brak!!!

“Anjing, bangsat!!!”

Dengan sisa keberaniannya, Siti melemparkan helm yang dia pegang sekerasnya ke wajah begal itu. Diapun langsung lari. Agak susah karena dia memakai rok panjang sehingga langkahnya tak begitu lebar.

“Kejar dia. Bangsat tuh cewek, gue habisin entar!!”

Siti sempat melihat ke belakang dan keempat pria itu langsung mengejarnya. Karena panik Siti malah masuk ke sebuah lokasi perkantoran, berharap ada seseorang disana, minimal petugas keamanan yang bisa dia mintai tolong, tapi sialnya tidak ada seorangpun disana. Saat hendak berbalik, ternyata para begal itu sudah berhasil menyusulnya.

“Mau lari kemana lu hah?”

“Ampun bang, tolong ampuni saya.”

“Ampun lu bilang? Lu udah lemparin helm ke muka gue, sekarang minta ampun? Gue bikin perkosa abis lu, baru gue ampunin. Cepet tangkep dia!!!”

“Siap boss!”

Dua orang langsung maju menyergap Siti. Siti yang tak bisa apa-apa dengan mudahnya diringkus oleh kedua penjahat itu. Dia langsung dijatuhkan ke tanah, dengan kedua kaki dan tangannya dipegangi dengan kuat oleh kedua pria itu.

“Hahaha, sekarang lu rasain akibatnya. Malem ini, gue nikmatin tubuh lu abis-abisan, haha.”

“Ampun, tolong jangan. Jangaaaan…”

Pria yang dilempar wajahnya dengan helm oleh Siti tadi langsung menindih tubuh Siti. Siti tak bisa bergerak karena tangan dan kakinya masih dipegangi. Pria itu dengan leluasa menjamah tubuh Siti.

Breeet…

Dengan sekali tarikan, kancing kemeja seragam Siti langsung lepas semua, membuat tubuhnya terbuka, dan hanya tertutup oleh bhnya saja. Tak puas sampai disitu, lelaki itu juga merobek bh Siti dengan parangnya, kini sempurnalah tubuh bagian depan Siti terbuka.

“Aaaaaaa jangaaaaaaann…”

“Hmmmm nyyymmmm enaak benget nih susu, kenyal, mantap, hahaha.”

Pria itu langsung melumat buah dada Siti yang memang cukup besar dan masih sekal itu. Dia begitu kasar memperlakukan Siti, sedangkan Siti hanya bisa berteriak sambil menangis, tanpa bisa melawan karena dia rasakan cengkraman di kedua kaki dan tangannya semakin erat. Mungkin mereka yang memegangi Siti ikut bernafsu juga melihat tubuh indahnya yang terbuka dan sedang dikerjai oleh temannya itu.

“Hei apa apaan ini! Cepat lepaskan wanita itu!”

Tiba-tiba terdengar teriakan seorang pria dari belakang mereka.

“Paa,, paak Yanto, tolong pak..”

Lelaki itu ternyata adalah Yanto, atasan Siti di kantornya. Yanto nampak berdiri dengan wajah penuh amarah.

“Brengsek, gangguin aja. Mau mampus lu?!”

Pria yang tadi mencumbui Siti lalu bangkit dan langsung menyerang Yanto, tapi terlihat Jalam dengan mudah menghindar, bahkan memukul balik si begal itu. Pertarungan mereka berlanjut dan Jalam berhasil membuat parang yang dipegang pria itu terlepas. Saat temannya akan membantu, tiba-tiba Yanto mengeluarkan pistol dari balik bajunya.

“Kalau masih ingin hidup, cepat tinggalkan tempat ini!” bentak Yanto.

“Jangan mau dibohongi, itu pasti cuma pistol mainan,” ucap si begal kepada temannya.

Dooorrr…

Tiba-tiba Yanto menembakkan pistol itu. Tentu saja keempat begal itu menjadi ketakutan, dan langsung lari begitu saja. Yanto mengambil parang yang tadi dibawa begal itu dan membuangnya, berjaga-jaga agar para begal itu tidak menyerang lagi dengan tiba-tiba.

“Siti, kamu nggak papa?” tanya Yanto mendekat.

Siti buru-buru merapikan pakaiannya, meskipun Yanto sempat sekilas melihat tubuh Siti yang terbuka.

“Ii,, iya, saya nggak papa pak. Terima kasih udah nolongin saya.”

“Ya udah, cepat rapikan baju kamu, kita pergi dari sini.”

Siti kemudian berdiri, dia mengikuti langkah Yanto. Mereka berjalan menuju ke tempat motor Siti tadi ditinggalkan. Dan ternyata para begal itu sudah kabur tanpa membawa motor Siti. Tas dan seisinya juga masih tergeletak disitu, hanya uangnya saja yang raib karena tadi sempat dimasukan kantong oleh begal itu.

“Kamu bisa pulang sendiri Rum?” tanya Yanto.

“Hemm,,,”

Siti terlihat kebingungan. Sebenarnya dia masih bisa mengendarai motornya sendiri untuk pulang meskipun masih agak takut. Tapi masalahnya, kancing baju Siti sudah terlepas semua, kalau dia membawa motor, dia bingung bagaimana kalau nanti bajunya terbuka dengan bebas. Rupanya Yanto menyadari hal itu.

“Ya udah, kalau gitu aku anterin kamu pulang aja.”

“Motor saya gimana pak?”

“Tinggal aja dulu, entar aku suruh orang buat ngambil.”

Akhirnya Sitipun diantar oleh Yanto dengan mobilnya. Dalam perjalanan, tak henti-hentinya Siti berterima kasih pada Yanto, karena kalau lelaki itu tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada dirinya.

“Sekali lagi terima kasih pak Yanto, kalau bapak nggak datang, saya nggak tahu apa jadinya.”

“Udahlah, tadi cuma kebetulan aja aku lewat. Terus aku lihat motor kamu ada disitu, tas kamu juga berserak isinya, aku curiga ada apa-apa. Dan bener, aku denger teriakan kamu dari tempat itu tadi, makanya aku datengin. Untungnya aku bawa senjata ini, jadi bisa buat nakutin mereka.”

“Buat nakutin? Jadi itu bukan pistol sungguhan pak?”

“Bukan. Ini cuma mainan, kayak yang dibilang begal itu tadi, tapi emang mirip banget sama aslinya, dan suaranya juga kayak pistol asli kan?”

“Oh gitu? Tapi ya apapun itu, saya cuma bisa ngucapin makasih pak. Saya berhutang budi banget sama pak Yanto.”

“Ah udahlah, nggak usah dipikirin.”

Saat sampai di rumah, Siti menyerahkan kunci motor dan juga surat-suratnya kepada Yanto. Yantopun pergi tanpa mampir, katanya tak enak dengan tetangga, apalagi saat itu aku memang belum pulang.

Saat aku pulang, dan kulihat tidak ada motornya di garasi, sempat kutanyakan kepada Siti, dan dia bilang kalau motornya bocor dan terpaksa ditinggal di kantor, tadi dia pulang diantar oleh Yanto. Saat itu Siti tidak menceritakan kejadian yang sesungguhnya, karena takut membuatku khawatir. Pakaiannya yang sudah hilang semua kancingnya juga disembunyikan, sedangkan bhnya yang robek juga sudah dibuang.

Sejak saat itulah Siti menjadi semakin dekat dengan Yanto di kantor. Rasa hutang budinya lah yang membuatnya seperti itu. Yanto sendiri terlihat lebih perhatian kepada Siti, tapi masih dalam batasan yang wajar. Tak pernah Yanto menggodanya, mengajaknya pergi berdua juga tak pernah. Paling mentok Siti diajak makan siang, itupun tak pernah hanya berdua, selalu ramai-ramai dengan teman kantornya yang lain.

Sampai peristiwa itu akhirnya terjadi juga. Minggu lalu tepatnya, saat itu Yanto mendapat undangan untuk mengikuti seminar di luar kota. Undangan itu untuk 2 orang, dan Yanto akhirnya mengajak Siti. Siti sebenarnya merasa tak enak kalau harus pergi hanya berdua saja, tapi mengingat kebaikan dan jasa Yanto kepadanya, Siti juga tak sampai hati menolaknya.

Akhirnya Siti minta ijin kepadaku. Saat itu aku mengijinkan karena Siti bilang selain dia dan Yanto, ada 2 orang lagi yang pergi bersama mereka. Akupun tak menaruh curiga sama sekali, dan saat itu tak ada prasangka buruk sama sekali. Siti berangkat pada hari kamis, dan baru akan pulang hari minggunya.

Dia dan Yanto berangkat ke kota ini dengan menggunakan mobil Yanto. Perjalanan yang mereka tempuh sekitar 3 jam. Dalam perjalanan itu Siti juga tak melihat ada hal yang mencurigakan dari Yanto, semua terasa biasa. Kecuali memang Yanto mulai sedikit terbuka dalam bicara, tidak seformal saat di kantor. Tapi itu menurut Siti masih wajar, karena tidak menyinggung hal yang bersifat pribadi.

Sesampainya di tempat tujuan, mereka langsung menuju ke hotel yang menjadi tempat acara. Rupanya panitia hanya menyiapkan 1 kamar untuk 1 undangan, yang artinya Siti harus sekamar dengan Yanto. Tapi saat itu Yanto menolak dan meminta 2 kamar meskipun harus membayar. Akhirnya setelah negosiasi yang cukup alot dengan pihak panitia dan hotel, mereka mendapatkan 2 kamar yang bersebelahan dan dihubungkan oleh sebuah connecting door.

Siti merasa lega karena tak harus sekamar dengan Yanto. Dia juga semakin menaruh respek pada Yanto karena dia yang berusaha agar tak sampai sekamar dengannya. Terlihat Yanto sangat menghormati Siti. Padahal saat itu, setelah acara berlangsung baru Siti tahu kalau selain mereka, ada beberapa pasang peserta yang statusnya sama seperti dirinya dan Yanto, yaitu atasan dan bawahan, tapi mereka tetap sekamar.

“Yaa, kamu tahulah Rum, apa yang akan mereka lakukan jika sekamar kan?”

“Hmm, tapi mereka bukan pasangan yang sah kan pak?”

“Ya jelas bukan. Mereka pasangan selingkuh, selingkuh yang terfasilitasi. Kayak gitu udah bukan hal yang aneh Rum, udah sering aku lihat yang kayak gitu.”

Siti hanya mengangguk saja, semakin besar rasa hormatnya kepada Yanto.

Acara yang diikuti oleh Siti sebenarnya terasa membosankan. Seminar dimulai hari jumat pagi, itupun hanya sampai sore jam 3. Setelah itu peserta bebas mau apa saja. Sedangkan hari sabtunya, acaranya santai, hanya senam bersama, setelah itu penutupan. Tapi karena sudah terlanjur booking hotel sampai hari minggu, jadi mereka tetap stay disini. Apalagi katanya malam harinya bakal ada acara hiburan.

Siti sebenarnya sudah ingin pulang, karena merasa acara ini sama sekali tak ada manfaatnya untuk dia, tapi dia merasa tak enak dengan Yanto, sehingga terus saja mengikuti setiap acara sampai selesai.

Pada sabtu pagi, setelah senam bersama, saat sedang beristirahat tiba-tiba ada seseorang yang mendekati Siti. Siti tidak mengenalnya, tapi lelaki itu berkali-kali coba menggoda Siti, menanyakan dengan siapa datang kesini, sampai menanyakan nomer handphone ataupun PIN BBM Siti, yang sama sekali tak diberikan, namun orang itu mulai memaksanya.

“Ehem, ada apa ya pak? Kok mepet-mepet istri saya dari tadi?”

Tiba-tiba Yanto datang dari belakang orang itu. Orang itu sempat terkejut, lalu kembali bersikap santai.

“Oh, jadi ini istri anda? Saya tidak tahu ada peserta yang suami istri disini, apa benar ini istri anda?” orang itu meragukan pernyataan dari Yanto.

“Hmm, jadi apa yang bisa saya buktikan kepada anda supaya percaya kalau dia benar-benar istri saya?” ucap Yanto yang tiba-tiba langsung memeluk dan mencium pipi Siti.

Siti sempat terkejut tapi dia tahu Yanto melakukan itu untuk meyelamatkan situasi, karena itulah dia balas memeluk Yanto.

“Oh maaf kalau begitu. Saya hanya mengagumi istri anda. Istri anda benar-benar mempesona. Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu. Dan saya minta maaf kalau sudah bikin anda tidak nyaman nyonya.”

Pria itu segera pergi setelah mendapat jawaban dari Siti berupa senyuman. Tanpa menunggu lama Yanto yang masih memeluk tubuh Siti mengajaknya pergi. Setelah agak jauh, dia melepaskan pelukan itu dan minta maaf pada Siti.

“Rum, maaf banget ya kalau aku udah lancang. Aku sama sekali nggak ada maksud apa-apa, hanya saja itu satu-satunya cara biar lelaki itu percaya dan segera pergi.”

“Iya pak, nggak papa, saya maklum kok.”

“Dia itu Bonar, pemimpin salah satu dinas pemerintahan di kota ini. Dia sudah terkenal playboy, suka main cewek. Di acara kayak gini, selain dengan pasangan yang dia bawa, dia udah sering nyari wanita lain buat dia tiduri.”

“Jadi, pak Yanto kenal sama dia?”

“Kenal sih nggak, cuma tahu aja. Reputasi buruknya itu udah banyak yang tahu. Karena itulah aku harus bertindak kayak gitu tadi, jadi, aku minta maaf ya?”

“Oh iya pak. Harusnya saya yang berterima kasih sama bapak.”

Meskipun sebenarnya ada rasa tidak terima, karena Yanto adalah lelaki pertama yang mencium Siti selain aku, tapi mempertimbangkan kondisinya tadi, dia bisa menerimanya, bisa memakluminya. Hal itu memang sepertinya dilakukan untuk menghindarkan bahaya yang lebih jauh untuk Siti.

Tapi karena mereka masih berada di hotel itu sampai keesokan harinya, mau tak mau jika keluar kamar, Siti harus mau bersikap lebih mesra dengan Yanto. Mereka makan siang di restoran hotel, dan kebetulan sekali meja makan yang mereka tempati berdekatan dengan pria yang tadi mendekati Siti. Pria itu duduk dengan seorang wanita cantik, tapi terus-terusan melirik ke arah Siti, membuat Siti merasa tak nyaman. Tapi genggaman tangan dari Yanto bisa sedikit menenangkannya.

Saat itu, sekali lagi Yanto berbisik kepada Siti. Dia meminta maaf tapi mereka harus berakting layaknya suami istri. Siti bingung harus bersikap seperti apa, karena selama ini dia hanya pernah berhubungan denganku. Sebelumnya, Siti tak pernah berpacaran. Melihat kebingungan Siti, Yanto terus menggenggap tangan Siti, dan lama kelamaan itu membuatnya nyaman.

Yang membuat Siti risih sebenarnya bukan genggaman tangan Yanto, tapi lelaki yang tadi menggodanya, tak pergi juga dari tempatnya, padahal sang wanita yang duduk bersamanya sudah berulang kali mengajaknya pergi. Akhirnya justru Yanto yang berinisiatif mengajak Siti pergi. Lega sudah rasanya, terbebas dari tatapan liar lelaki itu, meskipun Siti kembali harus merelakan tubuhnya dipeluk oleh Yanto.

Setelah makan siang itu Siti dan Yanto kembali ke kamar mereka masing-masing. Tak banyak yang dilakukan oleh Siti. Dia sempat beberapa kali berkirim pesan denganku, tapi karena aku sedang kerja jadi tak bisa langsung membalasnya. Meskipun hari sabtu, dan meskipun aku kerja di swasta, tapi aku tetap masuk seperti biasa.

Hingga sejam lebih Siti berdiam diri di kamar sampai akhirnya ada WA masuk dari Yanto.

“Siti, kamu lagi sibuk nggak?”

“Nggak pak, ada apa?”

“Kamu bosen nggak sih? Aku bosen banget nih. Gimana kalau kita keluar, sekalian cari oleh-oleh?”

Siti sempat berpikir sejenak. Dia memang belum berpikir untuk mencari oleh-oleh, karena juga keluar kota memang dia jarang sekali pulang membawa oleh-oleh. Tapi karena dia juga merasa bosan di kamar, akhirnya dia menyetujui usul dari Yanto.

“Boleh pak, kebetulan saya juga lagi bosen.”

“Ya udah, 10 menit lagi ya.”

Tanpa menjawab Siti merapikan dirinya. 10 menit kemudian dia sudah berjalan ke lift dengan Yanto. Dan sialnya lagi, di lift mereka bertemu dengan lelaki yang dari tadi pagi menggoda Siti. Lagi-lagi Siti harus berakting layaknya istri dari Yanto. Yantopun tanggap, dan langsung merangkul Siti. Sampai di bawah mereka cepat-cepat keluar hotel dan menuju ke parkiran.

Sekitar 2 jam mereka berkeliling mencari oleh-oleh. Sebenarnya tak banyak yang dibeli, mereka menghabiskan waktu agar tak buru-buru kembali ke hotel dan menghadapi rasa bosan lagi disana. Saat jalan-jalan itu, entah sadar atau tidak tangan Siti tak lepas dari genggaman Yanto. Tapi hanya sebatas itu, tidak lebih. Saat itu Siti berpikir kalau Yanto mungkin ingin menjaganya, karena kondisi di tempat mereka jalan-jalan yang cukup ramai.

Dalam perjalanan pulang mereka banyak bercanda. Suasana diantara keduanya sudah lebih cair dari biasanya. Siti juga sudah mulai bisa menanggapi candaan Yanto, yang sebelumnya selalu dia tahan-tahan. Sampai di hotel, mereka kembali ke kamar masing-masing. Sebelumnya Yanto sempat bertanya apakah Siti ikut acara makan malam atau tidak.

“Rum, nanti kan ada gala dinner, kamu mau ikut nggak?”

“Hmm, nggak tahu pak. Pak Yanto ikut nggak? Kalau pak Yanto ikut kan berarti saya harus ikut.”

“Aku sih dapet undangan. Tapi kalau kamu capek ya istirahat aja nggap papa.”

“Hmm, kalau gitu saya ikut aja deh pak.”

“Ya udah kalau gitu, dandan yang cantik ya.”

“Hehe, siap boss.”

Jam 7 malam Siti sudah bersiap. Seperti pesan Yanto tadi, malam ini dia berdandan cukup cantik. Belum pernah sebelumnya dia berdandan secantik itu untuk urusan dengan orang kantornya, termasuk Yanto. Biasanya dia berdandan seperti itu jika pergi denganku. Siti kemudian keluar kamar, dimana Yanto sudah menunggunya.

“Wow, kamu bener-bener beda malem ini, cantik banget,” puji Yanto.

“Makasih pak,” jawab Siti tersipu.

“Ya udah yuk?”

Yanto menggerakkan tangannya, tanda meminta Siti untuk merangkulnya. Sitipun tanpa sungkan lagi melakukannya, jadilah mereka berjalan bergandengan. Acara makan malam itu tidak terlalu ramai, karena tidak semua peserta seminar mendapat undangan. Hanya orang-orang tertentu, yang menurut Siti mereka adalah para senior. Bahkan Yanto terlihat paling muda diantara mereka.

Semua mata tampak tertuju pada pasangan Yanto dan Siti. Para lelaki tampak mengagumi kencantikan Siti malam ini, dan itu membuatnya senang. Terlebih Yanto, dia terlihat merasa bangga dengan kondisi itu.

Makan malam itu berlangsung singkat. Sebenarnya, setelah acara makan malam masih ada lagi acara hiburan, tapi Yanto kemudian mengajak Siti untuk kembali ke kamar saja.

“Rum, masih mau disini apa balik ke kamar?”

“Pak Yanto gimana?”

“Aku bosen disini, balik aja yuk?”

“Ya udah pak, saya juga, hehe.”

Akhirnya mereka berdua kembali ke kamar. Tapi Yanto mengajak Siti untuk masuk ke kamarnya. Awalnya Siti sempat ragu, tapi Yanto bilang dia hanya ingin ada teman ngobrol saja, karena belum mengantuk, Sitipun akhirnya mau.

Di dalam kamar, Yanto menyalakan TV dan terlihat mengeluarkan sebuah botol dari dalam kulkas. Dia menyiapkan 2 buah gelas, lalu menuangkan isi botol itu ke masing-masing gelas, lalu memberikan salah satunya kepada Siti.

“Ini apa pak?”

“Itu cuma wine, tenang aja nggak ada alkoholnya kok, aman,” jawab Yanto sambil tersenyum.

Siti termasuk wanita yang lugu, dan dia percaya saja dengan ucapan Yanto. Dia sama sekali tak mengerti minuman-minuman seperti itu. Dia hanya pernah mendengar kalau minuman keras itu rasanya pahit, saat dia mencicipi minuman itu ternyata rasanya enak, dan diapun menegaknya. Mereka kemudian terlibat obrolan santai, sampai tanpa disadar Siti dia sudah beberapa kali mengisi gelasnya. Dan kini, dia mulai merasakan kepalanya pusing, dan tubuhnya agak menghangat. Dia juga merasa kalau badannya mulai lemas, bahkan tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas yang dipegangnya.

“Loh kamu kenapa Rum?”

“Hmm nggak tahu pak, rasanya pusing, dan badan saya lemas.”

“Waduh, kayaknya kamu kebanyakan minum ini deh. Mau balik ke kamar aja?”

“Iya pak, tapi saya lemes banget.”

“Ya udah, ayo aku bantu.”

Yanto kemudian menghampiri Siti. Dia bantu Siti untuk berdiri, tapi karena tubuh Siti yang lemas, dia malah jatuh ke pelukan Yanto. Siti yang merasa pusing hanya menutup matanya. Dia hanya merasa kalau tubuhnya diangkat oleh Yanto, lalu direbahkan di ranjang. Dia tak tahu itu ranjang di kamarnya, atau masih di kamar Yanto. Dia masih menutup matanya karena masih pusing.

Siti kemudian merasakan kalau sepatu hak tinggi yang dipakainya mulai lepas satu persatu dari kakinya. Setelah itu dia merasa ranjangnya bergoyang. Saat membuka mata, ternyata Yanto sudah berada di sampingnya.

“Kamu masih pusing?”

Siti hanya mengangguk dengan tatapan sayu. Yanto hanya tersenyum.

“Ya udah, tutup lagi aja mata kamu, aku bantu biar pusingnya hilang.”

Siti tak mengerti apa maksud Yanto, tapi dia menuruti saja kata-kata lelaki itu. Saat Siti menutup matanya, dia merasakan keningnya dipijat oleh Yanto dengan lembut. Pijatan itu mulai membuatnya rileks, sehingga dia diam saja dan tetap terpejam.

Pijatan Yanto kemudian turun ke tengkuk Siti. Karena posisinya agak susah, Yanto mengarahkan kepala Siti agar menengok ke samping, sehingga dia bisa memijat tengkuknya. Tengkuk Siti adalah salah satu titik sensitifnya. Dia suka tidak tahan kalau disentuh di bagian itu, tapi saat ini dia justru merasakan nyaman dari sentuhan Yanto itu.

“Hhmmm…”

Siti bergumam tak jelas saat Yanto terus memijat tengkuknya. Perlahan-lahan Siti merasa semakin nyaman, dan tak tahu lagi apa yang sedang dilakukan oleh Yanto. Sampai akhirnya Siti terkejur dan membuka matanya. Dia terbelalak karena tangan Yanto yang tadi memijat tengkuknya kini sudah berada di payudaranya, sedang meremasnya.

“Bapak ngapain? Jangan paaak..”

“Udah kamu rileks aja sayang, ini biar pusingmu hilang.”

Siti berusaha berkelit. Dia berusaha menggerakkan tangannya untuk menepis tangan Yanto, tapi tangannya sangat lemas, tak bertenaga, jadi hanya terkesan Siti memegang tangan Yanto tanpa berusaha menyingkirkannya.

“Udah Siti sayang, kamu jangan nolak ya. Inget lho, kalau bukan karena aku, kamu udah diperkosa para begal itu tempo hari. Anggep aja ini balas budimu kepadaku.”

“Paak jangan gini, saya udah punya suami.”

“Iya aku tahu, dan karena itu aku makin penasaran sama kamu, sama tubuh kamu.”

“Paaak jangaahhmmmpp…”

Tak sampai menyelesaikan ucapannya, bibir Siti langsung dilumat oleh Yanto. Lelaki itu menciumi bibir istriku dengan sangat bernafsu. Hilang sudah sosok Yanto yang simpatik dan membuat Siti menaruh rasa hormat, berganti dengan Yanto yang bagaikan binatang buas yang siap menerkam mangsanya yang sudah tak berdaya.

Mendapati kondisinya yang lemah dan tak bisa melawan itu membuat Siti menangis. Air matanya turun tak tertahan. Dia berusaha mengatupkan bibirnya namun terlambat, lidah Yanto sudah masuk menjelajah isi mulut istriku. Cukup lama Yanto mengecup madu kenikmatan dari bibir istriku, kemudian melepaskannya. Tawanya terlihat sangat memuakkan bagi Siti saat ini.

“Sudahlah, kamu pasrah saja sayang. Kalau kamu nggak mau nurut, aku bakal kasih tubuh kamu ke begal-begal suruhanku tempo hari itu.”

Betapa terkejutnya Siti mendengar ucapan Yanto. Rupanya para begal itu adalah suruhannya. Itu berarti semua ini sudah direncanakan dengan matang oleh Yanto. Pantas saja waktu itu para begal itu dengan mudah dia kalahkan. Bahkan saat kabur, tak satupun barang berharga milik Siti yang dibawa. Kini Siti menyesali dirinya sendiri, yang dengan polosnya masuk ke perangkap Yanto.

Yanto kemudian berdiri dan melepaskan pakaiannya satu persatu. Kesempatan ini ingin digunakan Siti untuk kabur. Tapi sekali lagi, badannya sudah terlalu lemas, tak mampu bergerak. Dia akhirnya hanya bisa menatap tubuh Yanto yang sudah telanjang bulat dengan sangat ketakutan. Dia bisa melihat penis Yanto yang belum sepenuhnya ereksi, tapi besarnya sudah sama seperti punyaku yang sudah tegang maksimal.

Tidak heran memang, karena selain fisik Yanto yang lebih tinggi dan besar daripada aku, dia juga masih memiliki darah keturuan India dari keluarga ayahnya, pantas barang pusakanya pun lebih besar dan panjang daripada punyaku.

Yanto kemudian bergerak lagi menindih Siti. Dia kemudian langsung mencumbui Siti. Siti hendak menolak, hendak melawan, tapi sama sekali tak bisa. Hanya air matanya yang terus turun sampai membasahi jilbabnya.

Dalam cumbuannya itu, Yanto juga mulai melolosi pakaian Siti satu persatu. Gaun panjang Siti dia buang begitu saja, begitu juga dengan bh dan celana dalamnya. kini Siti hanya tinggal memakai jilbab yang sengaja tak dilepas oleh Yanto. Yanto sesaat memandangi tubuh istriku yang indah. Tubuh Siti langsing, perutnya masih rata. Buah dada 34B nya masih sangat kencang. Pinggulnya melebar sempurna, dengan bokong yang sangat montok. Rambut kemaluannya selalu dicukur habis sehingga terlihat sangat mulus. Ditambah kulitnya yang putih bersih tanpa cacat, membuat nafsu Yanto membuncah tak karuan.

Tanpa menunggu lebih lama, Yanto langsung menyerang tubuh istriku yang lemah tak berdaya. Tak seinchipun jengkal tubuh Siti yang terlewat dari jelajahan lidahnya. Siti merasa bergidik dengan kelakuan Yanto. Dia berkali-kali memohon agar Yanto menghentikan perbuatannya itu. Tapi siapa yang mau mendengar, saat tubuh sempurna seorang bidadari tergolek tanpa penutup di depannya.

“Aaaaah paaak jangaaaann…”

Siti merintih pelan saat kedua kakinya dibuka lebar oleh Yanto. Tak menunggu lama Yanto dengan lidahnya langsung menjilati bibir kemaluan Siti, sesuatu yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya organ kewanitaan Siti mendapatkan jilatan seorang lelaki, dan itu bukan dari aku, suaminya.

Siti merasakan sangat geli, tapi juga sangat terhina. Dia makin menangis, mendapati tubuh yang selama ini dia jaga hanya untukku, dengan bebas dijamah oleh orang lain, tanpa sedikitpun dia bisa melawan. Jilatan Yanto terasa luar biasa bagi Siti, tapi dia mencoba untuk menolak rasa itu. Dia masih mengingat statusnya sebagai istriku, dan mengingat kondisi ini adalah tak ubahnya sebuah perkosaan.

Tapi Siti hanya perempuan biasa yang memiliki batasnya. Akhirnya permainan lidah Yanto yang sudah sangat berpengalaman itu mampu menjebol pertahanan Siti. Tanpa bisa ditahan lagi, gelombang orgasme Siti datang begitu saja, dan Yanto dengan rakus menjilati cairan dari vagina Siti itu.

Sudah begitu, Yanto tak langsung menghentikan perbuatannya. Dia masih mengulanginya, sampai akhirnya Siti mendapatkan orgasmenya yang kedua, yang membuat nafasnya begitu terengah. Dia bahkan sampai menutup matanya, antara menikmati rasa nikmat itu, dan rasa penyesalan karena tak bisa mengontrol dirinya, hingga dibuat orgasme oleh pria lain.

Siti kembali membuka mata saat dia rasakan tubuh Yanto mulai bergerak. Dia mulai semakin merasa ketakutan saat tubuh lelaki itu mulai disejajarkan dengan pinggangnya. Yanto mulai menggesek-gesekkan ujung penisnya yang besar itu di bibir vagina Siti yang sudah cukup basah. Siti semakin menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Jangan paaak, sayaa mohon jangaaaan…”

“Hahaha, udah nikmatin aja sayang. Aku hanya ingin memberimu kenikmatan, bukan menyakitimu.”

“Jangan paaa aaaaaakkkhhhh…”

Siti mulai menjerit saat kepala penis yang besar itu mulai menyeruak masuk ke bibir vaginanya. Siti merasakan sakit saat penis itu masuk meskipun baru kepalanya saja, karena ukurannya yang terlalu besar untuknya.

“Uuugh, sempit bener sayang, bener-bener nikmat.”

“Aaahh udaahhh, jangaan lagiiii…”

Tak mengindahkan kata-kata Siti, Yanto terus menekankan penisnya perlahan hingga setengahya tertanam di vagina Siti. Siti semakin kelojotan, kepalanya sampai terangkat, bibirnya terbuka lebar dan matanya tertutup rapat. Separuh penis Yanto sudah sangat menyakitinya, dan kata Siti, itu sudah seperti penisku yang hampir masuk semuanya.

“Aaaaarrrggghhhh…”

Pekik Siti saat tiba-tiba penis itu amblas semua di dalam vagina Siti. Air mata kembali turun mengalir dari matanya. Sakit dan perih, itulah yang dirasakan Siti di kemaluannya. Penis ini terlalu besar untuknya. Dia merasa seperti ada bagian dari vaginanya yang dibuka dengan paksa, yang selama ini tak terjangkau olehku. Dia juga merasakan kepala penis Yanto mentok sampai menekan bibir rahimnya, dan itu sangat menyakitkan untuknya.

“Gilaa, memek kamu bener-bener nikmat Rum. Lebih nikmat daripada yang pernah aku bayangkan selama ini,” ucap Yanto sambil mulai menciumi bibir Siti yang hanya bisa pasrah. Dia masih mendiamkan penisnya, membiarkan dinding vagina Siti beradaptasi dengan ukuran penisnya.

“Pak, lepasin aja jilbabku, aku mohon,” ucap Siti. Dia masih cukup sadar untuk hal itu. Dia tidak mau dizinai oleh orang lain dengan masih memakai penutup kepalanya. Dia tak ingin merasa semakin berdosa dengan memakainya.

“Nggak, aku kepengen ngentotin kamu dengan masih pake jilbab. Nanti, aku juga pengen ngentot kamu dengan seragam dinasmu. Aku udah lama mimpiin ini Rum, aku makin nafsu kalau kamu berpakaian seperti itu, dan tanpa melepas jilbabmu.”

Siti berusaha meraih jilbabnya sendiri untuk melepaskannya, tapi tangannya ditahan oleh Yanto.

“Jangan melawan, atau aku bener-bener akan kasih tubuh kamu ini ke para begal itu. Mereka itu preman jalanan yang sering tidur sama pelacur pinggir jalan, tanpa pengaman. Entah mereka punya penyakit atau tidak. Coba kamu bayangin, seorang istri yang setia, istri yang alim seperti kamu, tiba-tiba terkena penyakit seksual, apa kata suamimu coba?”

Siti mendelik tak percaya dengan ucapan Yanto. Dia tak percaya betapa jahatnya orang yang sebelumnya sangat dia percaya dan hormati itu. Tapi di dalam hati Siti juga muncul ketakutan, kalau Yanto benar-benar melakukan ancamannya itu. Dia tak ingin terkena penyakit seperti apa yang dikatakan Yanto, sehingga perlahan perlawanannya pun runtuh sudah. Siti pasrah, dan hanya bisa menangis. Melawan sudah tak ada gunanya, vagina yang selalu dia jaga hanya untukku, telah berhasil dimasuki paksa oleh orang lain.

Kepasrahan Siti membuat Yanto tersenyum penuh kemenangan. Dia langsung menciumi wajah Siti. Bahkan tanpa merasa jijik, dia menjilati setiap air mata Siti yang mengalir dari matanya. Hal itu yang malah membuat Siti jijik. Sejurus kemudian Yanto mulai menggerakan pinggulnya maju mundur perlahan. Siti hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan desahan dan rintihan. Dia masih merasakan sakit di liang kewanitaannya itu.

Tapi rupanya Yanto memang bukan anak kemarin sore, dia adalah lelaki yang berpengalaman dalam menaklukan wanita. Dia tahu bagaimana cara membuat wanita seperti Siti bertekuk lutut, kalah total kepadanya. Sambil terus menggenjot tubuh Siti, dia mulai merangsang bagian-bagian sensitif tubuh Siti. Mudah saja baginya untuk menemukan titik-titik rangsangan itu.

Dia jilatin daerah sekitar leher Siti, dia remas lembut kedua payudara Siti, dan dia mainkan kedua puting susunya yang masih berwarna cokelat muda itu. Dan lagi-lagi, Siti hanyalah seorang wanita biasa, dimana pengalaman seksnya hanya sebatas apa yang selama ini dia lakukan denganku. Dia dengan mudah terangsang oleh semua perbuatan Yanto, hingga tubuhnya mulai merespon gerakan pinggul Yanto.

Melihat hal itu Yanto semakin tersenyum lebar, sementara Siti semakin menangisi kekalahannya. Yanto mulai meningkatkan tempo goyangannya, dan gerakan penisnya semakin lancar karena vagina Siti juga sudah semakin basah. Rasa sakit yang tadi mendera Siti perlahan mulai menghilang, tapi dia masih berusaha keras untuk tidak memperlihatkannya. Dia masih mempertahankan statusnya sebagai istri setia, yang berusaha tidak menikmati saat sedang disetubuhi paksa oleh pria lain.

Dan sekali lagi, pertahanan Siti jebol lagi setelah sekitar 5 menit digoyang oleh Yanto dengan tempo yang sedang. Siti memalingkan wajahnya saat akan merasakan orgasme, tapi tangan Yanto menahannya, sehingga mau tak mau Siti memperlihatkan ekspresinya ketika orgasme kepada Yanto, dan itu semakin membuat Yanto bernafsu. Yanto tak memberi kesempatan kepada Siti untuk menikmati orgasmenya, tapi dia langsung menyerang Siti lagi dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Siti kelabakan, desahannya mulai tak tertahan. Beberapa kali dia tak kuasa membiarkan desahannya terdengar oleh Yanto. Setiap desahan dari mulut Siti seperti perangsang bagi Yanto untuk terus meningkatkan temponya, hingga akhirnya 3 menit kemudian Siti kembali menyerah dalam birahinya.

“Ssssshhhhhh aaaaaaaaahhhhhhh…”

Kali ini Siti tak dapat menahan desahannya ketika orgasmenya melanda lagi. Dari lelaki yang bukan suaminya itu, dia sudah 4 kali orgasme, jumlah yang sama dengan yang biasa dia dapat saat bersetubuh denganku. Tapi bedanya, kalau biasanya Siti orgasme sebanyak itu dan aku sudah menyemburkan spermaku, saat ini Yanto terlihat belum apa-apa. Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan melihat Siti susah payah mengatur nafasnya.

Yanto menghentikan gerakannya, kemudian mencium bibir Siti. Kali Siti membiarkan saja, dan sedikit membalas ciuman dari Yanto itu.

“Aku mau keluar, di dalam atau dimana?” bisik Yanto.

“Jangan, jangan di dalam, tolong jangan di dalam,” pinta Siti memelas.

Yanto tak menjawab, dia hanya tersenyum, lalu mencabut penisnya. Tak membuang waktu, Yanto membalikkan tubuh Siti hingga tengkurap. Dia tarik pantat Siti, lalu menaruh sebuah bantal untuk membuat pantat itu tetap menungging, karena Siti masih dalam keadaan lemas. Siti sudah pasrah akan dimasuki lagi vaginanya oleh Yanto, tapi kemudian dia terkejut saat merasakan sesuatu yang lain.

“Paaak, saya mohon, jangan disituu…” ucap Siti panik.

Siti panik karena merasakan sesuatu yang keras menggesek bibir analnya, bukan di bibir vaginanya. Siti tentu ketakutan, karena belum pernah sekalipun lubang belakang itu aku gunakan. Dia tak bisa membayangkan betapa sakitnya lubang yang sempit itu dimasuki penis Yanto yang begitu besar.

“Ooh, jadi yang disini masih perawan ya? Baiklah, malam ini akan aku perawani lubang belakangmu sayang, hahaha.”

“Jangan pak, jangaaaan…”

Permohonan Siti sama sekali tak digubris oleh Yanto. Dia terus saja mencoba memaksa menekankan kepala penisnya yang besar di lubang anus Siti yang masih sangat sempit. Siti berusaha menghindar, tapi kedua tangan Yanto dengan kuat memegangi pinggangnya. Apalagi saat ini tubuh Siti benar-benar masih lemah, efek dari minuman tadi, dan rasa lelah setelah dibuat berkali-kali orgasme oleh Yanto.

“Aaarrgghh sakiiiit.. udaah paaak, udaaah sakiiiiiittt…”

Teriakan Siti terdengar, namun tak terlalu keras karena masih lemah. Dia berteriak saat kepala penis Yanto berhasil membuka sedikit lubang pantat itu, dan itu sangat membuat Siti kesakitan. Yanto bukannya berhenti, malah terus melanjutkan aksinya. Penis itu perlahan-lahan semakin masuk. Siti semakin kesakitan, dia menjerit. Tangannya sampai meremas kuat sprei putih ranjang itu. Sementara itu Yanto juga meringis merasakan betapa ketatnya lubang pantat Siti mencengkram penisnya.

“Aaaahh bangsaaat, sempiit bangeeet…”

“Aaaaaaaarrrkkkkkhhhhh…”

Lengkingan jeritan Siti terdengar saat penis itu berhasil masuk sepenuhnya di lubang anus Siti. Dia menangis sejadi-jadinya. Rasa sakit yang teramat sangat, bahkan lebih sakit daripada saat aku perawani dulu, dan juga saat pertama kali tadi penis Yanto mempenetrasi lubang vaginanya.

Yanto mendiamkan penisnya sejenak, karena dia juga merasakan nyeri di penisnya. Tapi lebih daripada itu, Yanto merasakan kenikmatan yang tiada tara. Bahkan Yanto tertawa gembira saat melihat ada lelehan cairan merah yang keluar dari lubang anus Siti, darah.

Setelah beberapa saat mendiamkan penisnya, Yanto mulai bergerak maju mundur dengan perlahan. Dia tak peduli tangis kesakitan dari Siti, dia terus menjejalkan penisnya di lubang sempit yang baru saja dia perawani itu. Yanto bahkan beberapa kali memukul pantat Siti yang montok, meninggalkan bekas kemerahan disana.

Lima menit lebih Yanto memperkosa anus Siti, dan Siti sama sekali tak merasakan apapun selain rasa sakit yang teramat sangat. Siti belum berhenti menangis, dan Yanto belum berhenti bergoyang. Menit ke 8 gerakan Yanto mulai semakin liar. Siti tahu Yanto akan segera memuntahkan spermanya, tapi dia tak peduli, dia hanya bisa merasakan sakit yang teramat saat ini.

“Aaahhh Arruuumm, sayaaaaang, aku keluaaaaarrrr…”

Siti menutup erat bibirnya, saat dia rasakan cairan kental dan hangat beberapa kali menyembur di dalam lubang anusnya. Cukup banyak cairan itu keluar, hingga tak tertampung dan meluber keluar. Yanto pun tak berlama-lama membiarkan penisnya disitu, dia menariknya keluar, hingga cairan spermanya pun ikut mengalir keluar bersama dengan darah dari lubang anus Siti.

“Luar biasa, benar-benar nikmat Rum. Jauh melebihi apa yang aku kira. Tubuhmu benar-benar sempurna, benar-benar nikmat.”

Tak henti-hentinya Yanto memuji Siti. Tapi Siti yang tergolek tak berdaya masih terus menangis. Yanto membiarkannya saja, dia sendiri mengistirahatkan dirinya. Setelah cukup lama, Yanto mengangkat tubuh Siti ke kamar mandi. Sebelumnya dia menarik lepas jilbab Siti sehingga rambut panjangnya tergerai bebas.

Di dalam kamar mandi, Yanto memandikan tubuh Siti, membersihkan kedua lubang di pangkal pahanya. Siti merasakan perih saat air dari shower menyentuh lubang kemaluan dan anusnya, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Yanto.

Setelah membersihka tubuh Siti, Yanto kembali mengangkat tubuhnya, dan membaringkannya lagi di ranjang. Barulah disitu Siti menyadari kalau dia masih berada di kamar Yanto, belum pindah ke kamarnya sendiri.

Setelah cukup pulih, Yanto meminta Siti untuk memakai kembali pakaiannya yang tadi, lengkap dengan jilbabnya. Tapi bukannya membiarkan Siti kembali ke kamar, Yanto kembali menyetubuhi Siti dengan hanya mengangkat ujung gaun panjangnya sampai ke pinggang dan menurunkan sedikit celana dalamnya Siti. Dia menyetubuhi Siti dari belakang, dengan posisi menghadap ke sebuah cermin besar. Siti dipaksa untuk melihat ke arah cermin itu, dipaksa untuk melihat bagaimana ekspresinya ketika sedang diperkosa oleh pria itu.

Malam itu, berulang kali Yanto menyetubuhi Siti hingga Siti tak sadarkan diri. Berbagai posisi mereka peragakan. Siti juga dipaksa untuk mengulum penis Yanto, sesuatu yang sangat jarang dia lakukan kepadaku. Yanto juga sampai mengeluarkan spermanya di dalam mulut, di dalam anus, di dalam vagina, dan di wajah Siti yang masih memakai jilbab. Permainan mereka baru berhenti saat menjelang subuh. Siti sudah tak sadarkan diri, dengan pakaian yang acak-acakan dan penuh dengan bercak sperma.

Siang harinya mereka terbangun sekitar jam 10. Siti kembali menangis mendapati dirinya terbangun dalam dekapan Yanto yang masih telanjang. Tangisan Siti rupanya membangunkan Yanto. Dia mencium mesra bibir Siti, tanpa mendapat balasan dari Siti.

Akhirnya Siti diijinkan untuk kembali ke kamarnya, untuk bersih-bersih dan sekalian siap-siap untuk pulang. Sebelum pulang meninggalkan hotel itu, Siti kembali dipanggil oleh Yanto ke kamarnya. Siti mengira Yanto akan menyetubuhinya sekali lagi, tapi ternyata bukan itu. Siti dipanggil Yanto untuk diperlihatkan sesuatu yang lebih mengerikan lagi.

Siti terkejut bukan main saat Yanto memperlihatkan sebuah kamera yang menampilkan adegan persetubuhan mereka. Dia baru sadar kalau apa yang menimpanya itu ternyata direkam oleh Yanto. Hatinya semakin hancur, karena dia yakin Yanto akan menggunakan video itu untuk mengancamnya di kemudian Hari.

“Kamu tahu kan apa yang harus dilakukan agar video ini tak sampai tersebar?”

Siti hanya mengangguk, dan mendapat balasan tawa memuakkan dari Yanto.

Setelah itu mereka langsung pulang. Perjalanan memakan waktu 3 jam lamanya. Sampai di depan rumahku, Siti tak langsung turun karena masih mengulum penis Yanto. Ya, selama perjalanan, terutama saat sudah mendekati daerah rumahku, Yanto meminta Siti untuk mengulum penisnya sampai keluar. Dan ketika lelaki itu menyemburkan spermanya ke mulut istriku, yang mau tak mau harus tertelan semua, barulah Siti dipersilahkan turun.

Setelah Yanto pulang, Siti langsung masuk dan menyalamiku yang sedang lembur mengerjakan tugas dari bosku. Aku awalnya tak begitu memperhatikannya. Barulah setelah selesai pekerjaanku, kuperhatikan cara jalan Siti agak aneh. Setelah kupaksa cerita, akhirnya dia menceritakan semua ini secara gamblang.

Betapa hancurnya hatiku mendengar itu semua. Siti menangis tersedu-sedu dan berkali-kali minta maaf kepadaku. Jelas saja aku memaafkannya, karena ini sama sekali bukan salahnya. Ini salah Yanto, si bajingan keparat itu. Tapi ini juga salahku. Kalau saja aku tidak memberinya ijin untuk pergi, tidak mungkin dia mengalami nasib semalang ini. Tapi kalaupun aku tidak mengijinkannya, Yanto pasti punya cara lain untuk bisa menjebak Siti.

Setelah emosiku turun, akupun memeluk istriku, yang tampak masih takut-takut kepadaku. Aku berusaha menenangkannya, meskipun hatiku sendiri sedang dibakar oleh amarah. Aku berjanji akan membuat perhitungan dengan Yanto, entah bagaimanapun nanti caranya. Apalagi kata Siti, dia bukanlah satu-satunya wanita yang sudah dijebak oleh Yanto. Selain dirinya, ada beberapa lagi teman kantornya, yang juga dijebak dengan berbagai cara, tapi kebanyakan seperti yang dialami oleh Siti.

Siti baru tahu itu tadi dalam perjalanan, Yanto menceritakannya. Dan dari semua wanita yang sudah berhasil ditaklukan oleh Yanto itu, sampai sekarang masih terus melayani setiap kali Yanto meminta. Mereka, sama seperti Siti, tak punya pilihan lain karena takut dengan ancaman video itu. Hanya saja, cuma Siti yang mungkin berani mengatakan hal ini kepada suaminya, yaitu aku.

“Udah umi, abi janji pasti akan buat perhitungan dengan lelaki biadab itu.”

“Tapi gimana bi? Umi takut nanti abi kenapa kenapa.”

“Abi juga belum tahu, tapi yang pasti abi nggak akan tinggal diam. Umi nggak usah khawatir sama abi, mungkin nanti abi akan buat perhitungan, tapi dengan bantuan orang lain, jadi abi nggak akan kenapa kenapa. Yang penting, umi sekarang tenangin diri dulu ya?”

Cerita sex : Cerita Dewasa Menikmati Tubuh Wanita Yang Sedang Hamil Muda

Siti hanya mengangguk. Aku terus menemaninya sampai dia tertidur. Dalam benakku, aku masih bingung dengan apa yang akan kulakukan. Tapi bisa kupastikan, aku tidak akan tinggal diam saja, aku akan menuntut balas pada lelaki jahanam itu, akan kubuat dia menyesal karena telah berani menyentuh istriku.

#Cerita #Ngentot #Terjebak #Hutang #Budi #Dengan #Atasan

Berbagi Kehangatan Dengan Wanita Lain Terbaru Malam Ini

Umur saya saat ini 28 tahun, isteri saya juga seumur, namanya Maya. Anak saya baru umur 3 tahun, dan dia baru masuk Playgroup. Nah, di sekolahan anak saya inilah, isteri saya kenal sama nyokapnya teman anak saya. Namanya Katrine. Sebenarnya si Katrine ini orangnya nggak cakep-cakep amat, yah, lumayan-lah. Menurut saya sih, mendingan isteri saya.

Makanya, sewaktu kenalan sama si Katrine ini, saya sama sekali nggak ada pikiran yang macam-macam. Sampai lama-kelamaan isteri saya mulai akrab sama si Katrine. Mereka sering pergi sama-sama.

Nah, suatu hari, si Katrine telpon isteri saya buat ngasih tahu bahwa dia sekeluarga lagi dapat voucher menginap satu malam di sebuah Hotel bintang lima di Jakarta. Dia suruh isteri saya datang buat mencoba fasilitas-fasilitas yang disediakan hotel tersebut. Nah, karena ada kesempetan buat berenang, fitness dan lain-lain gratis, maka saya berdua nggak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Siangnya saya berdua nyusul ke hotel tersebut. Sesampainya di sana, saya berdua langsung menuju ke kolam renang, karena si Katrine sudah janjian nunggu disitu. benar aja, begitu ngeliat saya berdua datang, si Katrine langsung manggil-manggil sambil melambaikan tangannya.

“Hai May, Dan.. ”
“Hai Kat.. Mana suami sama anak kamu?” tanya isteri saya.
“Biasa, dua-duanya lagi tidur siang tuh..” kata si Katrine.
“Kamu berdua aja.. Mana anak kamu?”
“Nggak ikut deh, Kat.. Abisnya repot kalau ngajak anak kecil” kataku.
“Ya sudah, sekarang gimana, kamu berdua mau berenang nggak? Atau mau Fitness aja?”
“Langsung Fitness aja deh, Kat”

Begitulah, setelah itu kita bertiga langsung menuju ke tempat Fitnessnya. Dan setelah ganti baju di locker room, kita bertiga mulai berfitnes-ria. Asyik juga sih, sampai-sampai nggak terasa sudah hampir tiga jam kita fitness.

Wah, badan rasanya sudah capek benar nih. Setelah selesai kita bertiga terus bilas di ruang ganti, dan langsung menuju ke ruang Whirlpool. Nah, sampai disini kita bertiga bingung, sebab ruang whirpoolnya ternyata cuma satu. Wah gimana nih? Tapi akhirnya kita coba-coba aja, dan ternyata benar, cewek sama cowok jadi satu ruangannya.

Wah, malu juga nih.. Apalagi si Katrine, soalnya kita bertiga cuma dililit sama kain handuk. Setelah masuk ke dalam, saya tertegun, karena di dalam saya lihat ada cewek yang dengan santainya lagi jalan mondar-mandir dalam keadaan.. Bugil. Wah.. Gawat nih. Setelah saya lirik, ternyata si Katrine juga lagi ngeliatin tuh cewek yang kesannya cuek banget. Selagi kita bertiga bengong-bengong, tahu-tahu kita disamperin sama locker-girlnya.

“Mari Mbak, Mas.. Handuknya saya simpan,” kata si Mbak locker itu dengan suara yang halus.
“Ha? Disimpan?” tanya saya sambil kebingungan.
“Hi-hi-hi.. Iya, Mas, memang begitu peraturannya.. Biar air kolamnya nggak kotor.. ” sahut si Mbak dengan senyum genit.

“Wah.. Mati deh saya”, batin saya dalem hati, masa saya musti berbugil ria di depan satu, dua, tiga.. Empat orang cewek sih? Sementara itu saya liat isteri saya sama si Katrine juga lagi saling pandang kebingungan. Akhirnya saya yang memutuskan,

“Hm.. Gini deh, Mbak.. Kita liat-liat aja dulu.. Nanti kalau mau berendam baru kita taruh handuknya di sini”
“Iya deh, Mas..” kata si Mbak lagi sambil tersenyum genit. Terus dia langsung berbalik jalan keluar ruangan.

Setelah tinggal bertiga, isteri saya langsung memandang si Katrine,

“Gimana nih, Kat?”

Selagi si Katrine masih terdiam bingung, isteri saya langsung ngomong lagi,

“Ya sudah deh.. Kita terusin aja yuk,” katanya sambil melepaskan handuknya.
“Sudah deh, Kat.. Buka aja.. nggak apa-apa kok,” kata isteri saya lagi.
“Benar nih, May? Terus si Danny gimana?” tanya si Katrine sambil melirik malu-malu ke arah saya.

Pada saat itu saya cuma bisa pasrah aja, dan berdoa moga-moga burung saya nggak sampai bangun. Sebab kalau bangun kan gawat, si Katrine bisa tahu karena saya cuma dililit handuk doang.

“Nggak apa-apa.. Anggap saja kita kasih dia tontonan gratis” sahut isteri saya lagi.

Gawat juga nih, saya benar-benar nggak nyangka kalau isteri saya sebaik ini. Sebab biasanya dia cemburuan banget. Akhirnya pelan-pelan si Katrine mau juga ngelepasin handuknya. Aduh mak.. Begitu dia lepas handuknya, saya langsung bisa ngeliat dua buah teteknya yang membulat.. dan.. jembutnya yang.. gile.. lebat banget!

Langsung aja saya menelan ludah saya sendiri.. sambil menatap bengong ke tubuh si Katrine. Ngelihat keadaan saya yang kayak orang linglung itu, isteri saya langsung tertawa geli. Sementara si Katrine masih berusaha menutupi vaginanya dengan kedua tangannya.

“Kenapa Dan.. Jangan bengong gitu dong, sekarang kamu yang musti buka handuk tuh,” kata isteri saya lagi.

Busyet.. Masa saya disuruh bugil di depan si Katrine sih? Tapi karena takut kalau-kalau nanti isteri saya berubah pikiran, langsung aja deh saya lepas handuk saya. Seiring dengan gerakan saya ngelepas handuk, saya lihat si Katrine langsung membuang muka jengah.

“Lho, kenapa Kat.. nggak apa-apa kok.. Tadi si Danny juga ngeliatin body kamu, sampai terangsang tuh.. Lihat deh,” kata isteri saya lagi sambil menatap burung saya. Akhirnya si Katrine ngelirik juga ke burung saya, dan.. Wah.. dasar burung kurang ajar, begitu diliatin dua orang cewek, perlahan tapi pasti dia mulai bangkit. Pelan-pelan mengangguk-angguk, sampai akhirnya benar-benar tegang setegang-tegangnya. Wah, mokal banget deh, saya..

“Tuh-kan, Kat.. Benarkan dia sudah terangsang ngeliatin body kamuy..” kata isteri saya lagi. Ngeliat burung saya yang sudah tegang benar, akhirnya dua-duanya nggak tahan lagi. Pada tertawa terpingkal-pingkal. Ngedenger suara ketawa mereka, cewek yang sendirian tadi langsung nengok.. dan begitu ngeliat burung saya, dia juga langsung ikut ketawa.

“Wah, dik.. Dia sudah nggak tahan tuh..” katanya pada isteri saya, sambil ngelirikin burung saya terus. Akhirnya daripada terus jadi bahan tertawaan, langsung aja deh, saya nyebur ke kolam whirpool. Nggak lama kemudian isteri saya dan si Katrine nyusul. Akhirnya kita berempat berendam deh di kolam. Tapi nggak lama kemudian si Cewek itu bangun..

“Mbak sudahan dulu yah, Dik.. Mmm.. Tapi jangan disia-siakan tuh..” katanya sambil menunjuk ke selangkangan saya lagi. Buset nih cewek, rupanya dari tadi dia merhatiin kalau burung saya masih tegang terus.

Langsung saja saya berusaha tutupin burung saya pakai kedua telapak tangan. Sambil tersenyum genit, akhirnya cewek itu keluar ruangan. Nah, begitu tinggal kita bertiga, isteri saya langsung pindah posisi. Sekarang jadi saya yang ada ditengah-tengah mereka berdua.

“Dan.. Dari tadi kok tegang melulu sih?” tanya isteri saya sambil menggenggam burung saya. Saya cuma bisa menggeleng saja sambil melirik si Katrine.
“Ih.. Keras amat, kayak batu,” kata isteri saya lagi. Lalu, tanpa saya duga dia langsung ngomong ke si Katrine.
“Sini deh, Kat.. Mau cobain megang burung suami saya nggak nih?”
Haa? Saya sama si Katrine jadi terbengong-bengong.

“Bbb.. Boleh, May?” tanya si Katrine.
“Boleh, rasain deh.. Keras banget tuh,” kata isteri saya lagi. Pelan-pelan, si Katrine mulai ngegerayangin paha saya, makin lama makin naik, sampai akhirnya kepegang juga deh, torpedo saya. Wuih, rasanya benar-benar nikmat.

“Iya lho, May.. Kok bisa keras begini ya. Pasti enak sekali kalau dimasukin yah, May,” kata si Katrine lagi sambil terus mengelus-ngelus burung saya. Wah, saya sudah nggak tahan, tanpa minta persetujuan isteri saya lagi, langsung aja deh, saya tarik si Katrine, saya lumat bibirnya.. sambil tangan saya meremas-remas teteknya.

“Akh..” Katrine menggelinjang. Langsung saya angkat si Katrine dari dalam air, saya dudukin di pinggiran kolam.. Kakinya saya buka lebar-lebar, dan.. langsung deh saya benamin wajah saya ke dalam selangkangannya, sehingga si Katrine semakin mengerang-ngerang. Sementara itu isteri saya tetap giat mengocok-ngocok burung saya. Akhirnya karena sudah nggak tahan lagi, kita bertiga naik ke pinggiran kolam.

“Gantian dong, Kat.. Biar si Danny ngejilatin vagina saya, saya juga kepengen nih..” kata isteri saya dengan bernafsu. Karena dia sudah memelas begitu, langsung saja deh, saya jilatin vagina isteri saya. Saya gigit-gigit kecil clitorisnya sampai dia merem-melek.

Katrine pun nggak tinggal diam, ngeliat saya lagi sibuk, dia langsung saja meraih burung saya, terus dimasukin ke dalam mulutnya. Wah.. nggak nyangka, ternyata hisapannya benar-benar maut. Rasanya kita bertiga sudah nggak ingat apa-apa lagi, nggak peduli kalau-kalau nanti ada orang yang masuk.

Setelah beberapa lama, isteri saya ternyata sudah nggak tahan lagi.

“Ayo, Dan.. Cepetan masukin.. saya sudah nggak kuat lagi nih..” pintanya memelas. Akhirnya berhubung saya juga sudah nggak tahan lagi, saya cabut saja burung saya dari dalam mulut si Katrine, terus saya masukin ke dalam vagina isteri saya.

Akh.. benar-benar nikmat, sambil terus saya dorong keluar-masuk. Katrine nggak tinggal diam, sambil meremas-remas payudara isteri saya, dia terus ngejilatin buah Zakar saya. Wah.. rasanya benar-benar.. RUUAARR BBIIAASA! Nggak lama kemudian, mungkin karena sudah terlalu terangsang, isteri saya menjerit kecil..

Meneriakkan kepuasan.. Sehingga saya merasakan sesuatu yang sangat hangat di dalam lubang vaginanya. Melihat isteri saya sudah selesai, si Katrine langsung bertanya dengan wajah harap-harap cemas.

“Ngg.. Sekarang saya boleh nggak ngerasain tusukan suami kamu, May?”

“Tentu aja boleh, Kat..” jawab isteri saya sambil mencium bibir si Katrine. Mendapat lampu hijau, Katrine langsung mengambil burung saya yang sudah lengket (tapi masih tegang benar) terus dibimbingnya ke dalam lubang vaginanya yang ditutupi semak belukar.

“Aaakkhh..” desis si Katrine setelah saya dorong burung saya pelan-pelan.
“Ayo, Dan.. Terus, Dan.. I Love You..” kelihatannya si Katrine benar-benar mendapatkan kenikmatan yang luar biasa. Sambil saya goyang-goyang, isteri saya menjilati teteknya si Katrine. “Aduh, May.. Dan.. I love you both..”

Pokoknya selama saya dan isteri saya bekerja, mulut si Katrine mendesis-desis terus. Kemudian, mungkin karena isteri saya nggak mau ngedengerin desisan si Katrine terus, akhirnya dia bangun dan mengarahkan vaginanya ke muka si Katrine.

Dengan sigap Katrine menyambut vagina isteri saya dengan juluran lidahnya. Sampai kira-kira sepuluh menit kita bertiga dalam posisi seperti itu, akhirnya saya sudah benar-benar nggak tahan lagi.. dan.. ahh.. saya merasakan desakan si Katrine mengencang, akhh..

Akhirnya jebol juga pertahanan saya. Dan disaat yang berbarengan kita bertiga merasakan suatu sensasi yang luar biasa.. Kita bertiga saling merangkul sekuat-kuatnya, sampai.. Aahh..

Begitulah, setelah itu kita bertiga terkulai lemas sambil tersenyum puas..

“Thank you Danny, .. Maya.. Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa buat saya..”
“Ha.. ha.. ha.. Sama, Kat.. saya juga benar-benar merasakan nikmat yang yang nggak pernah saya bayangin sebelumnya. Sayang suami kamu nggak ikut yah, Kat,” kata isteri saya.

“Gimana kalau kapan-kapan kita ajak suami kamu sekalian, boleh nggak, Kat?”
“Benar May.. Ide yang bagus, tapi kita nggak boleh ngomong langsung, May.. Musti kita pancing dulu..” kata si Katrine.

“Setuju,” sahut isteri saya.
“Gimana Dan.. Boleh nggak?”

Untuk sesaat saya nggak bisa menjawab. Bayangin, masa saya musti berbagi isteri saya sama suaminya si Katrine? Rasanya perasaan cemburu saya nggak rela. Tapi, ngebayangin sensasi yang akan terjadi kalau kita main berempat sekaligus.. Wah..

Cerita sex : Menikmati Pijatan Yang Membuat Ku Jadi Terangsang

“Boleh, nanti kamu atur yah, Kat.. Biar saya bisa ngerasain lagi hangatnya lubang vagina kamu.. Ha.. ha..” akhirnya saya menyetujui.

#Berbagi #Kehangatan #Dengan #Wanita #Lain

Cerita Sex Dengan Tante Arab, Terbaru Malam Ini

Cerita Sex Dengan Tante Arab – Cerita Sex Ini Berjudul “Cerita Seks Menikmati Bibi Tante Keturunan Arab” Cerita Dewasa, Cerita Hot, Cerita Sex Hot, Cerita Sex, Cerita Sex, Cerita Mesum, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Berdarah, Cerita Sex Janda, Hijab, Terbaru 2019 .

– Mencintai sampai menyerah – Saya menemukan pekerjaan di sebuah kota kabupaten di Indonesia timur. Ada peluang proyek baru di sana. Saya pergi dengan seorang sutradara. Direktur pulang dulu karena ada urusan lain di Jakarta, untuk bertemu dengan pejabat yang berwenang dan menjelaskan tujuan kunjungan kami.

Cerita Sex Dengan Tante Arab

Di sana saya mengelola semua perizinan sendiri. Hotel yang saya tempati adalah hotel yang tidak terlalu besar tapi bersih dan enak untuk menginap. Letaknya agak di pinggiran kota, tenang, aman, dan transportasi relatif mudah kemana-mana. Saya menemukan kamar di lantai dua yang menghadap ke laut.

Istri Perek Ketagihan Dipompa Memeknya Ama Kontol Besar Tukang Sayur.

Setelah seharian berlayar dari satu institut ke institut lainnya, setiap sore sambil istirahat, saya duduk di teras sambil memandangi laut. Staf hotel cukup familiar dengan penghuninya, mungkin karena jumlah kamarnya tidak terlalu banyak, sekitar 32 kamar. Saya cukup akrab dan sering duduk di lobi, mengobrol dengan tamu lain atau staf hotel. Terkadang saya ditawari selimut hidup setengah bercanda oleh staf hotel, dari pria di kamar hingga keamanan. Mereka terkejut selama sekitar 3 minggu bahwa saya tidak pernah membawa seorang wanita. Aku hanya tersenyum, bukannya tidak mau bro, tapi pikiranku masih sibuk dengan pekerjaan.

Sudah 3 minggu sejak saya tinggal di hotel. Karena dokumen yang diperlukan sudah ada, saya bisa bernapas sedikit lebih lega dan mulai mencari hiburan. Tadi malam saya merasakan panas tubuh wanita lagi setelah 2 putaran adu mulut dengan seorang gadis panggilan dari Manado. Saya mendapatkan ini dari keamanan hotel. Meskipun orangnya cantik dan putih, permainannya tidak terlalu istimewa karena itemnya terlalu berlumpur dan longgar, tetapi cukup untuk menyabotase sperma yang sudah terisi. Agen Poker DominoCook

Aku akan pulang dalam dua hari. Transportasi di kawasan ini agak sulit. Untuk menuju Jakarta, saya harus terlebih dahulu ke ibu kota provinsi sebelum berganti pesawat ke Jakarta. Sayangnya, hanya ada 4 penerbangan dari kota ini ke ibu kota provinsi dalam 1 minggu dengan ottoman kembar dengan kapasitas hanya 17 kursi. Belum lagi cadangan khusus untuk pejabat pemerintah daerah yang tiba-tiba harus berangkat. Saya yang sudah booking seat seminggu sebelumnya ternyata masih di reservasi nomor 5.

Alternatifnya adalah naik kapal milik Pelney yang menempuh waktu sehari penuh untuk mencapai ibu kota provinsi. Saya berencana untuk naik pesawat jika saya tidak bisa mendapatkan kursi pesawat. Sore itu saya mengobrol dengan satpam, yang membantu menemukan para wanita itu saat duduk di kafe hotel. Kami berbicara tentang gadis Manado yang saya tiduri tadi malam.

Bercinta Dengan Kedua Suamiku

Saya mengatakan bahwa saya tidak puas dengan permainan. Tiba-tiba aku melihat seorang wanita yang baru saja memasuki kafe. Wanita itu terlihat tinggi, mungkin 168 cm, tubuhnya gemuk dan dadanya membuncit. Wajahnya tidak terlihat Melayu, tapi memang mirip wajah Timur Tengah. Keamanan menyerang saya. “Apakah kamu tertarik? Jika dijamin, maka miliaran memilikinya.”

Wanita itu merasa sedang diajak bicara. Dia melihat kami dan mengolok-olok keamanan di sebelah saya.

“Aku mau karaokean dulu,” jawab wanita itu. Ternyata namanya Davy. Davy pergi ke meja karaoke dan mulai memesan lagu.

Ruang karaoke tidak terlalu terisolasi, jadi jika penyanyinya memiliki suara yang bagus, itu bagus untuk menghibur saat Anda makan. Tapi kalau suara penyanyinya jorok, nafsu makannya mungkin jorok. Untuk karaoke tidak dipungut biaya, yang ada hanya service cafe untuk tamu makan. “Dekat aja Pak, ikut nyanyi nyanyi buat kenalan. Siapa tahu cocok dan jadi,” kata security tadi. Aku berjalan dan duduk di samping dewi. Aku mengulurkan tanganku, “Bolehkah aku bertemu denganmu? Namaku Joker.”

Cerita Sex Dewasa

“Dewi,” jawabnya singkat dan melanjutkan lagunya. Suara yang bagus tidak hanya bisa ditoleransi. Jika ada pertunjukan di desa, sudah cukup memenuhi standar.

Banyak lagu telah dinyanyikan. Dari lagu dan aksen yang dinyanyikan wanita ini, sepertinya dia tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil minumannya dan menyerahkan mikrofon ke tamu kafe terdekat.

Kami mulai terlibat dalam percakapan yang sangat intim. Davy berasal dari Gorontalo. Dia berdarah Arab. Menurutnya, Gorontalo memiliki beberapa keturunan Arab. Aku menatap wanita di sebelahku dengan seksama. Hidungnya khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam pekat, bentuk tubuhnya tebal dan kencang, payudaranya tampak padat terangkat.

Saya menawarkan untuk berbicara di kamar saya sendiri. Lebih sejuk karena ber-AC, lebih santai dan privasi terjaga. Dia hanya menurut. Kami memasuki ruangan. Security terlihat mengacungkan kedua jempol ke arahku. Di dalam kamar, kami duduk di karpet dengan punggung menghadap tempat tidur sambil menonton TV. Davy pergi ke kamar mandi dan sesaat kemudian keluar lagi.

Cerita Sex Komik 3d Jilboob

Kami melanjutkan obrolan. Terungkap bahwa Davy adalah janda gantung, suaminya yang juga seorang pengusaha, juga keturunan Arab, telah meninggalkannya selama 2 tahun tetapi Davy tidak bercerai. Ia mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan di sini. Dalam dikta ini, dia tinggal bersama keluarganya. Dia pergi ke hotel, karena dia juga telah tinggal di hotel ini selama seminggu dan berkenalan dengan koki wanita yang bekerja di kafe. Si juru masak sudah keluar sejak sore tadi, berbelanja kebutuhan kafe. Agen Poker DominoCook

Aku melingkarkan tangan kiriku di bahu kirinya. Dia menggigil sedikit tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda perlawanan. Aku berani dan mulai meremas bahunya dan perlahan tangan kiriku bergerak ke dadanya. Sebelum tangan kiriku mencapai dadanya, dia menatapku dan bertanya, “Apa yang kamu inginkan, Joko?” Sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Aku meraih dagunya dengan tangan kananku dan mendekatkan wajahnya padaku. Perlahan aku mencium bibirnya. Dia diam. Cium lagi, tapi dia belum berciuman. “Ayolah Dewi, tentu saja 2 tahun terlalu lama untukmu. Selama ini, kau pasti merindukan kehangatan pelukan seorang pria,” kataku padanya untuk merayu. Aku menahan napas di dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu di belakang leher dan telinga.

“Ayolah Nisse, aku mungkin tidak sebesar suami Arabmu, tapi aku bisa membantu memuaskan hasratmu yang menyesakkan.”

Dia menyerah, matanya kabur. Aku mencium bibirnya lagi, kali ini berkelahi dengan bibirnya. Tanganku langsung meremas dadanya yang besar, tapi dia sedikit pingsan. Dia menghela nafas dan membalas ciuman hangatku. Tangannya meremas kejantananku yang masih terbungkus celananya.

B15a7e434bdf4161d586381fd3fa417.jpg From Cerita Tante Di Entot Kontoersxy Xx Naket China Shobana Saree Sex Xxx View Photo

Saya menempatkan dia di tempat tidur. Aku berdiri di hadapannya. Tangannya membuka ikat pinggangku dan ritsleting celanaku, lalu menyelinap di bawah celana dalamku. Dia mengambil kejantananku yang mulai mengeras. Dia benar-benar membuka kancing celana saya sampai tubuh bagian bawah saya menjadi polos. Kemudian mulutnya mencium penisku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap skrotumku. Lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi jilatan yang kuat dan menyedot kejantananku. Sekarang dia mengguncang kejantananku dengan mengisap kejantananku dan menggerakkan mulutnya maju mundur.

Aliran kegembiraan mengalir di seluruh tubuhku. Tangannya menyelinap ke bajuku dan mulai memainkan putingku. Aku membuka kancing kemejaku sehingga tangannya bisa dengan mudah bergerak di dadaku. Aku meremas rambutnya dan pantatku berayun ke depan dan ke belakang untuk mencocokkan gerakan mulutnya. Saya tidak ingin menyebarkan sperma dalam posisi ini. Saya mengangkatnya dan sekarang ketika saya duduk di tepi tempat tidur, dia dalam posisi berdiri. Tanpa kesulitan apapun aku langsung melepas celana dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Ayamnya tersebar di antara pahanya seperti sampan terbalik. Dia melepas bajunya sehingga sekarang dia hanya perlu memakai bra biru.

Kujilat tubuhnya mulai dari lutut, paha hingga bawah paha. Saya kadang-kadang menyikat bibir saya di bibir saya. Saat lidahku mulai masuk, lubangnya terasa sempit.

Dia berbisik, kepalanya dimiringkan ke belakang, satu tangan menekan kepalaku sementara yang lain membelai rambutnya sendiri. Aku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang sementara lidahku menyerang klitorisnya. Dia menjerit pelan dan tangannya meremas payudaranya sendiri. Tubuhnya membungkuk ke belakang, kegembiraan yang telah kuberikan padanya. Dia menekan selangkangannya ke kepalanya. Aku melepas bajuku dan melemparkannya ke lantai. Akhirnya dia mendorong saya sehingga saya telentang ke tempat tidur dan kaki saya masih tergantung di lantai. Dia membungkuk dan, “Slurup..”. Sekali lagi dia menjilat penisku sebentar dan menciumnya. Dia naik ke tempat tidur dan duduk di dadaku di samping mulutku. Tangannya menarik kepalaku dan memintaku untuk menjilatnya dalam posisi itu.

Arab Montok Bugil 2022

Aku mengangkat kepalaku dan segera lidahku masuk ke dalam lubang. Tanganku menggenggam pinggulnya untuk membantu mengangkat kepalaku. Dia menggerakkan pantatnya untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin intensif saat dia menjilati lidahku dengan kuat dan menekannya ke klitorisnya. Dia memutar tubuhnya sedemikian rupa sehingga kemaluannya keluar. Tangannya diletakkan di pahaku di belakang punggungnya untuk menopang berat badannya.

Dia pergi ke satu sisi dan menarikku sehingga aku berada di atasnya. Aku membuka kancing bra-nya dan langsung jatuh di atas bukit kembar di dadanya. Putingnya yang keras berwarna culicum dan bergetar. Terkadang saya menggosok kumis saya di ujung puting susu. Saat menerima serangan seperti itu, dia mengerang, “Joko, ayo lakukan game ini, masuk sekarang…”. Tangannya meraih penisku dengan erat dan mengarahkannya ke lubang. Berkali-kali saya mencoba untuk meletakkannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya, sejak saya menjilatnya, saya pikir itu sudah basah oleh lendir dan air liur saya, tetapi sekarang ketika saya mencoba menembusnya, saya merasa sangat sulit. Agen Poker DominoCook

Penis saya sudah mulai mengendur lagi karena belum bisa tembus berkali-kali. Saya ingat ada kondom di laci meja, ada 2 yang tersisa setelah saya menggunakannya tadi malam dan 1 lagi, mungkin lebih mudah ditembus menggunakan permukaan kondom yang licin. Tapi saya ragu untuk mengambilnya, Davy berada di puncak nafsunya dan dia tidak menunjukkan penggunaan kondom. Aku menggoyangkan penisku sebentar untuk mengencangkannya. Aku melebarkan pahanya. Aku memasukkan penisku kembali ke tagihan.

Ujung penisku berada di belakang bibir. Saya mendorong dengan sangat lambat. sangat kecil. saya tidak tahu

Cerita Dewasa Igo Termewah Diobok Obok Tante Liar Film

#Cerita #Sex #Dengan #Tante #Arab