Ngentot Dengan Tetangga Yang Body Nya Oke Banget Terbaru Malam Ini

Kurasa tidak perlu aku ceritakan tentang nama dan asalku, serta tempat dan alamatku sekarang. Usiaku sekarang sudah mendekati empat puluh tahun, kalau dipikir-pikir seharusnya aku sudah punya anak, karena aku sudah menikah hampir lima belas tahun lamanya. Walaupun aku tidak begitu ganteng, aku cukup beruntung karena mendapat isteri yang menurutku sangat cantik. Bahkan dapat dikatakan dia yang tercantik di lingkunganku, yang biasanya menimbulkan kecemburuan para tetanggaku.

Isteriku bernama Tina. Ada satu kebiasaanku yang mungkin jarang orang lain miliki, yaitu keinginan sex yang tinggi. Mungkin para pembaca tidak percaya, kadang-kadang pada siang hari selagi ada tamu pun sering saya mengajak isteri saya sebentar ke kamar untuk melakukan hal itu. Yang anehnya, ternyata isteriku pun sangat menikmatinya. Walaupun demikian saya tidak pernah berniat jajan untuk mengimbangi kegilaanku pada sex. Mungkin karena belum punya anak, isteriku pun selalu siap setiap saat.

Kegilaan ini dimulai saat hadirnya tetangga baruku, entah siapa yang mulai, kami sangat akrab. Atau mungkin karena isteriku yang supel, sehingga cepat akrab dengan mereka. Suaminya juga sangat baik, usianya kira-kira sebaya denganku. Hanya isterinya, wooow busyet.., selain masih muda juga cantik dan yang membuatku gila adalah bodynya yang wah, juga kulitnya sangat putih mulus.
Mereka pun sama seperti kami, belum mempunyai anak. Mereka pindah ke sini karena tugas baru suaminya yang ditempatkan perusahaannya yang baru membuka cabang di kota tempatku. Aku dan isteriku biasa memanggil mereka Mas Fahrul dan Mbak Reni. Selebihnya saya tidak tahu latar belakang mereka. Boleh dibilang kami seperti saudara saja karena hampir setiap hari kami ngobrol, yang terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya.

Pada suatu malam, saya seperti biasanya berkunjung ke rumahnya, setelah ngobrol panjang lebar, Fahrul menawariku nonton VCD blue yang katanya baru dipinjamnya dari temannya. Aku pun tidak menolak karena selain belum jauh malam kegiatan lainnya pun tidak ada. Seperti biasanya, film blue tentu ceritanya itu-itu saja. Yang membuatku kaget, tiba-tiba isteri Fahrul ikut nonton bersama kami.

“Waduh, gimana ini Rul..? Nggak enak nih..!”
“Nggak apa-apalah Mas, toh itu tontonan kok, nggak bisa dipegang.
Kalau Mas nggak keberatan, Mbak Tin diajak sekalian.” katanya menyebut isteriku.
Aku tersinggung juga waktu itu. Tapi setelah kupikir-pikir, apa salahnya? Akhirnya aku pamit sebentar untuk memanggil isteriku yang tinggal sendirian di rumah.
“Gila kamu..! Apa enaknya nonton gituan kok sama tetangga..?” kata isteriku ketika kuajak.

Akhirnya aku malu juga sama isteriku, kuputuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah Fahrul. Mendingan langsung tidur saja supaya besok cepat bangun. Paginya aku tidak bertemu Fahrul, karena sudah lebih dahulu berangkat. Di teras rumahnya aku hanya melihat isterinya sedang minum teh. Ketika aku lewat, dia menanyaiku tentang yang tadi malam. Aku bilang Tina tidak mau kuajak sehingga aku langsung saja tidur.

Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang sejak dulu menggodaku. Tapi ah.., mereka kan tetanggaku. Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, aku kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya kalau sudah begini aku langsung menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin karena sudah biasa Tina tidak banyak protes. Yang luar biasa adalah pagi ini aku benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku seperti kesetanan. Kemaluan Tina kujilati sampai tuntas, bahkan kusedot sampai isteriku menjerit. Edan, kok aku sampai segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi.

Isteriku sampai terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Tina langsung memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan saat itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan.

“Mas.., sekarang Mas..!” pinta isteriku memelas.

Akhirnya aku mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Tina. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang.
Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, “Kok Mas tiba-tiba nafsu banget sih..?”
Aku diam saja karena malu mengatakan bahwa sebenarnya Reni lah yang menaikkan tensiku pagi ini.
Sorenya Fahrul datang ke rumahku, “Sepertinya Mas punya kelainan sepertiku ya..?” tanyanya setelah kami berbasa-basi.

“Maksudmu apa Rul..?” tanyaku heran.
“Isteriku tadi cerita, katanya tadi pagi dia melihat Mas dan Mbak Tina bergulat setelah ngobrol dengannya.”

Loh, aku heran, dari mana Reni nampak kami melakukannya? Oh iya, baru kusadari ternyata jendela kamar kami saling berhadapan.
Fahrul langsung menambahkan, “Nggak usah malu Mas, saya juga maniak Mas.” katanya tanpa malu-malu.

“Begini saja Mas,” tanpa harus memahami perasaanku, Fahrul langsung melanjutkan, “Aku punya ide, gimana kalau nanti malam kita bikin acara..?”
“Acara apa Rul..?” tanyaku penasaran.
“Nanti malam kita bikin pesta di rumahmu, gimana..?”
“Pesta apaan..? Gila kamu.”
“Pokoknya tenang aja Mas, kamu cuman nyediain makan dan musiknya aja Mas, nanti minumannya saya yang nyediain. Kita berempat aja, sekedar refresing ajalah Mas, kan Mas belum pernah mencobanya..?”

Malamnya, menjelang pukul 20.00, Fahrul bersama isterinya sudah ada di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol tentang masa muda kami. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak aneh kurasakan. Aku tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini, mungkin pengaruh minuman yang dibawakan Fahrul dari rumahnya.

Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, aku mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa seperti menyelimuti pendengaranku. Kulihat Fahrul juga menarik isterinya dan menciumi bibirnya. Aku semakin terangsang, Tina juga semakin bergairah. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Tidak berapa lama Tina sudah telanjang bulat, entah kapan aku menelanjanginya. Sesaat aku merasa bersalah, kenapa aku melakukan hal ini di depan orang lain, tetapi kemudian hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan pikiran normalku.

Kuperhatikan Fahrul perlahan-lahan mendudukkan Reni di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Aku semakin tidak karuan memikirkan kenapa hal ini dapat terjadi di dalam rumahku. Tetapi itu hanya sepintas, berikutnya aku sudah menikmati permainan itu. Reni juga tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang.

Perlahan-lahan Fahrul membuka BH Reni, tampak dua bukit putih mulus menantang menyembul setelah penutupnya terbuka.
“Kegilaan apa lagi ini..?” batinku.

Seolah-olah Fahrul mengerti, karena selalu saya perhatikan menawarkan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa dengan mulut terbuka menantang dengan nafas tersengal menahan nafsu yang menggelora, seolah-olah tidak keberatan bila posisiku digantikan oleh Fahrul.

Kemudian kudekati Reni yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan badan yang sedikit gemetar karena memang ini pengalaman pertamaku melakukannya dengan orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus dengan lembut. Sementara Fahrul kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh Tina yang biasanya aku lah yang melakukannya.

Perlahan-lahan jari-jemariku mendekati daerah kemaluan Reni. Kuelus bagian itu, walau masih tertutup celana dalam, tetapi aroma khas kemaluan wanita sudah terasa, dan bagian tersebut sudah mulai basah. Perlahan-lahan kulepas celana dalamnya dengan hati-hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi bagian yang berada di antara kedua paha Reni ini.
“Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!” erang Reni seolah sudah siap untuk melakukannya.

Tetapi aku tidak melakukannya. Aku ingin memberikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Reni yang memang betul-betul sempurna. Biasanya aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja.

Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.
“Sshh.., akh..!” Reni menggelinjang nikmat.
Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Reni mendesis.

Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Reni, kuhisap bagian putingnya, tubuh Reni bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Reni sekarang berbaring miring, sementara aku berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat.

Reni memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir aku tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan seperti ini. Sementara di atas Sofa Fahrul dan isteriku seperti membentuk angka 69. Tina ada di bawah sambil mengulum kemaluan Fahrul, sementara Fahrul menjilati kemaluan Tina. Napas kami berempat saling berkejaran, seolah-olah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah menambah semangat kami.

Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Reni, dia melenguh hebat hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya. Gantian aku sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku seperti terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang Reni terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan meminta supaya aku segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya.

Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir meja, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Reni.

Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Reni mendesis, “Ssshh.., aahhk.., aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi akhh..!”

Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Mungkin karena selama ini aku hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Tanganku sekarang sudah meremas payudara Reni dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Reni pun seperti megap-megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Reni nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat-kuatnya hingga Reni berontak. Pelukanku semakin kuperketat, seolah-olah tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Fahrul dan isteriku tidak kuperhatikan lagi. Yang kurasakan sekarang adalah sebuah petualangan yang belum pernah kulalui sebelumnya. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Reni.

Luar biasa kemaluan Reni ini, seperti ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya seperti lingkaran magnet saja. Mata Reni merem melek menikmati permainan ini. Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.Posisi sekarang berubah, Reni sekarang membungkuk menghadap meja sambil memegang kedua sisi meja yang tadi tempat dia berbaring, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, karena selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Reni juga semakin ketat karena membungkuk.

Kukangkangkan kaki Reni dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Reni melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Reni membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan. Sepertinya Reni pun menikmati gaya ini.

Buah dada Reni bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Reni sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Reni semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa aku menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya.

Segera aku mencabut kemaluanku dan membopong tubuh Reni ke tempat yang lebih luas dan menyuruh Reni telentang di bentangan karpet. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Reni menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Reni.

Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang seperti akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar dari mulut Reni semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Reni memelukku sekuat-kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku. Reni menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Reni menjerit kesakitan sambil bergetar hebat.

Mulutku terasa asin, ternyata bibir Reni berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat kuat dan berguling-guling di lantai. Di atas sofa Fahrul dan isteriku ternyata juga sudah mencapai puncaknya. Kulihat Tina tersenyum puas. Sementara Reni tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Reni. Kulihat Reni tidak memperdulikannya.

Perlahan-lahan otot-ototku mengendur, dan akhirnya kemaluanku terlepas dari kemaluan Reni. Reni tersenyum puas, walau kelelahan aku pun merasakan kenikmatan tiada tara. Tina juga tersenyum, hanya nampak malu-malu. Kemudian memunguti pakaiannya dan menuju kamar mandi.

Cerita sex : Naluri Lesbiku Mulai Dari Khayalan Foto Duo Serigala

Hingga saat ini peristiwa itu masih jelas dalam ingatanku. Fahrul dan Reni sekarang sudah pindah dan kembali ke Jakarta. Sesekali kami masih berhubungan lewat telepon. Mungkin aku tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Pernah suatu waktu Reni berkunjung ke rumah kami, kebetulan aku tidak ada di rumah. Dia hanya ketemu dengan isteriku. Seandainya saja…

#Ngentot #Dengan #Tetangga #Yang #Body #Nya #Oke #Banget

Cerita Sex Dan Gambar Ngentot, Terbaru Malam Ini

Cerita Sex Dan Gambar Ngentot – Perkenalkan Nama saya Andika (nama samaran)! Saya baru saja lulus kuliah dan saya sangat ingin menjadi pegawai negeri (PNS), kata orang, masa depan cerah! Menjadi PNS adalah impian kebanyakan orang! Ada berbagai cara untuk lulus tes CPNS. ada yang akan melakukan tes CPNS, membayar biaya fasilitasi, menyewa joki, bahkan pergi ke dukun.

Entahlah saya putus asa setelah gagal tes beberapa kali, akhirnya saya menggunakan jasa dukun atau orang pintar alih-alih mak errot, lho. Menurut informasi yang saya terima dari teman saya, ada seorang dukun yang tinggal di pinggiran kota yang mengangkatnya sebagai pegawai negeri.

Cerita Sex Dan Gambar Ngentot

Malam itu aku pergi sendiri ke rumah dukun itu. Setelah beberapa lama berkendara kesana kemari bertanya-tanya, akhirnya saya sampai di sebuah rumah sederhana yang nyaris tidak terlihat dari jalan raya.

Kisah Mesum Ngentotin Istri Teman Sendiri Sampe Kelojotan.

Halaman yang luas, yang ditumbuhi pohon mangga yang rimbun, menciptakan suasana sejuk dan damai. Setelah beberapa ketukan, seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah membuka pintu.

“Permisi, apakah ini benar-benar rumah Mbak Ayiko (juga nama samaran)? lalu bertanya “Oh iya, saya sendiri. Silahkan masuk pak!” Disuruh duduk, saya langsung memperkenalkan diri tanpa basa-basi lagi dan langsung menyampaikan maksud kedatangan saya.

“Ooo, jadi Pak Andika juga mau jadi PNS kan?” “Iya Bu! Saya juga membawa sebotol madu murni seperti yang teman saya katakan. Saya memberikan sebotol madu murni untuk Mbak Ayiku.

— Kalau begitu tolong, Pak Andika, ikut saya! Mbak Ayik bangkit dari duduknya sambil membawa sebotol madu yang telah kuberikan tadi. Dia pergi ke sebuah ruangan di ujung ruangan.

Cerita Sex Janda Muda Haus Titit

Dari belakang aku mengikutinya, mengamati gerakan pantat montoknya yang membuatku menelan ludah. Sesampainya di kamar yang remang-remang, Mbak Ayika menutup pintu dan menyuruhku membuka baju. “Saya minta maaf Pak! Lepaskan pakaianmu dan naik ke tempat tidur itu! Kami akan segera memulai ritualnya! “Semuanya, Bu?” Aku bertanya dengan malu-malu.

Mbak Ayika tersenyum, “Pak Andika tidak perlu malu. Katakanlah saya tidak ada di sana. Toh ini juga untuk cita-cita Pak Andika! Mbak Ayika benar, pikirku. Lagi pula, saya sudah datang ke sini, jadi tidak perlu malu.

Sementara Mbak Ayika sedang mempersiapkan ritual, saya segera menanggalkan semua pakaian saya dan berbaring di tempat tidur yang tidak terlalu empuk. Setelah beberapa saat, Mbak Ayik datang dan duduk di sebelah saya dengan sebotol madu di tangan. Sesaat aku melihat Mbak Ayika memperhatikan tubuhku yang telanjang.

Tatapannya liar, seolah sedang melihat ayam goreng yang siap disantap. Duduk bersila di sebelah saya, Mbak Ayik mulai menuangkan madu murni ke seluruh tubuh saya. Aku memejamkan mata saat tangan lembut Mbak Ayiko mulai menyentuh dadaku, menebarkan madu yang lengket ke setiap sudut tubuhku. filmbokepojepang.com

Kumpulan Cerita Sex Ngentot Dengan Pembantu Tante Yang Sexy Kumpulan Cerita Sex 134616

Jari-jarinya yang ramping menari dengan cekatan, menekan dada dan putingku yang lebar dan memainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di atasnya. Aku menggigit bibirku, mencoba mengendalikan aliran darah ke selangkanganku.

– Pak Andika sudah punya pacar? meminta Mbak Ayiko untuk memecah kesunyian. “Eh, aku baru saja menikah enam bulan yang lalu, nona!” “Um… jadi mereka masih pengantin baru! Wah, masih panas, Pak! kata Mbak Ayika dengan nada mengejek. “Ah, Mbak Ayik, mungkin!” Tanganku tidak sengaja menyentuh lutut Mbak Ayik saat dia menggerakkan tanganku yang menutupi alat kelaminku.

Saya juga sempat mengintip pahanya yang sedikit terbuka. Wah, pahanya juga mulus, pikirku. Tanganku beristirahat dengan nyaman di paha halus itu. Mbak Ayika melepaskannya saat tanganku menepuknya. Dia bahkan melebarkan pahanya. Seolah memberi tanganku kesempatan untuk menelusuri paha bagian dalamnya.

Darahku semakin mendidih saat jemari gesit Mbak Ayik turun ke perutku, membelai rambut halusnya dan memijat perutku yang keras dan keras. “Wow…Tubuh Pak Andika kuat bukan? Tinggi lagi. Pak Andika benar-benar bekerja keras.” “Ya, enam hari seminggu, setiap pagi dan sore, saya mencoba berolahraga, meski hanya satu jam.

Cerita Sex Kartun

Saya biasanya berolahraga.” – Wah… bagusnya kakak Pak Andika sudah besar! “Maksudmu Mbak Ayika, kakak yang mana?” Tanyaku berpura-pura bodoh. “Maksudku adik perempuan ini…” kata Mbak Ayik sambil meremas kejantananku tanpa merasa risih. Kesembuhan Mbak Ayik ini merasakan rasa heran dan senang.

Dia dengan lembut mengoleskan madu pada penisku, lalu dengan lembut mengocoknya. “oopsttt… nona! Hebat…!” erangku girang. Aku pun memberanikan diri dengan memperlihatkan roknya dan semakin memelintir pahanya. Dan ternyata Mbak Ayika merespon positif perbuatanku.

Ini dibuktikan dengan dia mengangkat pantatnya sedikit agar aku bisa meraih selangkangannya. Wow! Saya sekali lagi terkejut dan senang ketika tangan saya menyentuh bulu-bulu halus di antara selangkangan Mbak Ayiko.

Ternyata dia tidak lagi memakai celana dalam. Perlahan aku mulai mengusap bibir basah Mbak Ayiko dengan jariku. Mbak Ayik semakin bersemangat menggoyang-goyangkan penisku. Perlahan kejantanan saya mulai tumbuh dan mengeras.filmbokepjepang.com

Cerita Sex Janda Haus Kontol Lama Qx Ngentot

Tanpa rasa jijik, Mbak Ayik melanjutkan menjilati sisa madu yang menempel di selangkanganku, menginjak-injak buah zakarku, lalu bangkit untuk menyeka urat-urat penisku yang menonjol.

“Bagaimana dengan Tuan? Enak bukan?” – tanya Mbak Ayikas di sela-sela kampanye. “Ahh… enak sekali, nona! Saya belum pernah merasakan kesenangan ini! Saya tidak benar-benar berpengalaman dalam seks. Selama hubungan kami dengan istri saya, kami hanya melakukannya dengan cara biasa.

Namun kali ini, Mbak Ayika memberikan pelajaran baru yang luar biasa. Luar biasa nikmatnya… Ini terbukti saat Mbak Ayik dengan lembut memasukkan ujung penisku ke dalam mulutnya yang mungil, dan berjuta kenikmatan langsung menerpaku.

“Ohhhh.. iya nak, Mbak!” nafasku semakin menjadi. Aku mengerang nikmat tapi Mbak Ayik masih asyik bermain dengan penisku di mulutnya. Aku juga semakin berani. Aku melepas roknya. Bahkan Mbak Ayik juga melepas bajunya. Gila! Di usianya yang masih belia, ternyata Mbak Ayik masih memiliki tubuh yang bagus.

Cerita Ngentot Terbaik Cerita Sex Ngentot,,,

Kulitnya yang putih mulus, Toked yang kencang dan montok, serta bokongnya yang bulat menggemaskan membuatku merasa ingin mengunyahnya. Oh, betapa seksinya dukun ini. “vazz… kontol Pak Andika besar sekali. Hmmmm… Sudah lama aku menginginkan kontol sebesar ini. Hhmmm…! Mbak Ayika dengan rakus meremukkan kejantananku lagi.

Kali ini dia mendekatiku dan menempelkan vaginanya tepat di wajahku. Dengan instingku, aku menggerakkan mulutku ke vagina Mbak Ayiko yang memerah. Aromanya benar-benar merangsang saraf di otak saya untuk menjilatnya.

Aku perlahan menjulurkan lidahku dan dengan lembut mengusap permukaan vaginanya. “Ohhhh…yahhhhh…benar pak! Jilat punyaku…!Oooghhh…ya Tuhan! Mbak Ayik senang sekali memainkan penisku di mulutnya.

Sementara tangannya gemetar batang penisku, kepalanya juga bergerak ke atas dan ke bawah. Sesekali dia akan mengisap keras di ujung penisku. Kami berada dalam posisi ini untuk waktu yang lama, menjilati, mengisap dan menggoyang alat kelamin satu sama lain. Selang beberapa saat, Mbak Ayik melepaskan kulumnya.

Cerita Sex Ngentot Dukun Muda Setengah Baya

“Gimana Pak Andika, suka nggak?” Tanya Mbak Ayika sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk pelan, menikmati jemari Mbak Ayiko yang masih memijat penisku.

“Menurut pengamatan saya, kebanyakan orang yang memiliki penis besar juga memiliki keinginan yang besar. Saya yakin kali ini Pak Andika pasti bisa jadi PNS. jelas Mbak Ayika.

“Tapi sekarang biarkan aku bersenang-senang dengan ayam besar Pak Andika dulu!” Mbak Ayika duduk di pahaku. Perlahan dia mencengkeram kejantananku dan membimbingku ke gua surgawinya yang basah.

Dia tampak malu sebagai ujung penisku mulai meluncur ke meong hangat nya. Entah karena cengkeraman sempit Mbak Ayik atau penisku yang besar, proses penetrasinya lambat tapi enak. filmbokepjepang.com

Cerita Sex Berjilbab

Mbak Ayik sepertinya telah menancapkan batang penisku dengan keras ke dalam buaian. Sampai akhirnya… “Aaoughghh…. Dan Pak Andika! Penismu besar sekali! Tubuh mulus Mbak Ayiko berkilauan karena keringat.

Dia mengambil beberapa napas dalam-dalam, membiarkan batang penisku tenggelam ke dalam rongga pustular sempitnya. Beberapa saat kemudian, Mbak Ayika beraksi. Dengan kedua tangan bertumpu di dadaku, dia mulai mengayunkan pantatnya ke atas dan ke bawah.

“ahhhh… ahhhh…!” G mendesah senang. Kedua tanganku memegang pinggul Mbak Ayik untuk mengatur gerak naik turun. Sesekali tanganku juga merinding karena dua benda kenyal yang berombak-ombak apik dengan gerakan naik turun tubuhnya.

Mbak Ayik menghentak-hentak pantatnya dengan panik, merayap di tubuhku seperti ular betina yang terjerat mangsanya. Terkadang dia juga mengayun, memelintir pantatnya sehingga cubitan memeknya terasa kencang. Batang saya terasa seperti dipelintir dan dipijat di lubang kesenangan.

Cerita Sex Ngentot Dengan Teman Pacarku

Merasa begitu hangat dan baik. Ooouuuhhhh… Semakin lama gerakan Mbak Ayiko semakin liar dan tidak terkendali. Menusuk kejantananku lebih dalam dan menempel di dinding terdalam rongga vaginanya. Nafas kami juga menjadi lebih berat, seperti suara lokomotif tua yang bergerak dengan sisa tenaganya.

“Oh, Pak Andika…saya…sudah…tidak pintar…sudah…! Mbak Ayik berteriak girang bersamaan dengan keluarnya magma panas dari rahimnya. Dia meremas dadaku dengan keras. Seperti mereka menancapkan kuku mereka ke dadaku. “Ooohh… segera nona! Aku juga akan pergi…oohhh…yeaahhh…! Saya juga mempercepat gerakan saya.

Meski Mbak Ayik terlihat lelah, saya masih bisa menopang tubuhnya dan menggerakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah. Setelah beberapa menit, saya merasa penis saya mengeras dan mulai berdenyut-denyut.

Aku segera mempercepat langkahku. Aku menghancurkan tubuh Mbak Ayiko. Suara derit itu semakin keras. Sampai akhirnya….. “Aku… aku keluar, Bu! Oohhh…!” Aku meregang nikmat bersama air mani yang memancar di rongga kenikmatan Mbak Ayiko.

Cerita Sex Punya 3 Istri

Seketika tubuhku lemas. Saya tidak bisa lagi menopang beban Mbak Ayiko yang ada di atas saya. Dia ambruk di atasku sementara penisku masih menempel di vaginanya yang hangat. Saya terkejut di hati saya

#Cerita #Sex #Dan #Gambar #Ngentot

Nikmatnya Ngentot Dengan Wanita Sexy Yang Punya Tubuh Menggoda Terbaru Malam Ini

Terbangun aku mendengar mbak Yana bercerita riuh dengan lawan bicaranya di ponsel sambil duduk di meja rias kamarnya. Ku lirik jam di dinding kamar ini yang terlihat kabur jarumnya, menunjuk angka 9 dan 10. Berarti sampai mendekati hampir tengah malam aku telah beristirahat di kamar mbak Yana.

Bergerak mengangkat selimut aku bergeser ke kiri ke arah kamar mandi di dalam kamarnya sambil menoleh kiri kanan mencari celana dalamku. kutemukan tergeletak di dekat kursi kecil yang dipakai duduk Mbak Yana, kubiarkan tubuhku berdiri meneruskan langkah kaki ke kamar mandi.

Kuraih sabun mandi dan shampoo di wastafel, aku beranjak ke bathup di ujung kamar mandi. Kuputar keran panas dan dingin, kucari kombinasi air hangat yang bakal kupakai berendam. Ahg, memang air hangat tersebut serasa memijat kakiku, dan kubiarkan diriku perlahan-lahan terbenam hingga leherku.

Dari celah pintu yang setengah tertutup itu aku mendengar mbak Yana masih bercerita seru adegan ranjang yang dinikmatinya bersamaku tadi sore, selepas minum ramuan khasiatnya yang membangkitkan energiku sore tadi. Kubiarkan badanku menerima kehangatan air hangat keran kamar mandi sambil bersandar kupejamkan mata.

Setelah lama tak terdengar lagi suara mbak Yana, aku menghentikan usapan sabun di tubuhku dan berusaha berdiri mengarah ke pintu tempat handuk bergantung. Bersamaan dengan itu Terdengar pintu kamar terbuka. Dari celah pintu kamar mandi, dari kaca rias di kamar aku melihat jelas pembantu mbak Yana si Yasmin masuk ke dalam sambil membawa kain bersih di nampan bersama teh hangat dan kue kecil bertumpuk di piring.

Saat membersihkan tempat tidur, dari ujung seberangku hingga berputar mendekati kamar mandi, aku telah kering menyeka basah tubuhku, yang kulilit handuk sepinggang. Saat membungkuk membetulkan seprei tempat tidur sambil membelakangiku, perlahan aku keluar kamar mandi dan merangkulnya dari belakang.

– Aih! pekiknya kecil terkejut.

Masih membungkuk, kuremas dada dan perutnya dalam pelukanku, kuarahkan dia menatap cermin meja rias, yang terlihat jelas belahan dadanya tersembul dibalik dasternya yang sedikit ketat. busana remaja sekarang memang sexy, membuatku senang menatap pemandangan indah di cermin. Yasmin yang meronta berusha berdiri dan melepas tanganku mulai mengerutkan dahi tanda risih.

– Nyonyamu mana sayang ? tanyaku
– Errhh!! Keluar ke temannya, ada yang ingin bertemu degnannya di daerah mall.
– Uhhh!! Tolong lepaskan mas pintanya memelas
– Hmm, terus teh ini untuk siapa Yasmin ?
– Untuk mas, sesuai pesan nyonya tadi.
– Apa saja pesannya ? sambil menggerayangi tubuh remajanya yang masih kencang ini, aku mengarahkannya ke arah meja rias.
– Untuk melayani mas sebelum nyonya datang. Aarhh!!

Pekiknya saat tangan kiriku yang memgang perutnya mulai turun ke bawah. Kuraih pangkal pahanya yang masih rapat tertutup pahanya, kuremas buah dadanya dari belakang, sambil kugesek gesekan pusakaku pada pantat atau punggungnya, sekenanya. tangannya berusaha menggapai tepian meja rias, kursi rias ataupun karpet bulu di kamar, berusaha menopang tubuhnya agar tak jatuh.

– Yah layani aku dong Yasmin aku kan ingin kau melakukannya
– Arrh!! pekik Yasmin,

saat kupegang pergelangan tangannya, kuputar badannya menghadapku, yang dengan cepat menarik ke atas dasternya menutup muka dan menahan tangannya di atas. Kutarik kebawah dengan cepat celana dalamnya dan saat membungkuk segera kuraih bra yang menutup dada ranumnya.

Kulepaskan bra dan celana dalamnya, memperlihatkan tubuhnya yang ramping indah masa2 remajanya. wajahnya masih tertutup daster yang berusaha ditariknya keluar. Kubantu Yasmin melepas dasternya, hingga terlihat sekarang ia menggigit bibir bawahnya sambil memelas wajahnya menatapku

– Jangan mas .. ampun mas
– Jadi kau tak mau melayaniku ? kubiarkan diriku duduk di tempat tidur.
– Jangan melayani ini mas nanti sakit mas
– Tapi ada nikmatnya kan ?

Yasmin tak menjawab. Ia menutupi kedua buah dadanya dengan menyilangkan tangannya, menutup erat pangkal pahanya dengan merapatkan lututnya kesamping setengah ditekuk. Wao! terlihat indah nian dipandang bentuk dan pose yang dilakukan Yasmin di depanku.

– Yasmin sayang, cobalah kau menikmatinya dengan hati terbuka, ikhlas.
– Engkau malah akan merasakan rasa nikmat yang beda dengan usaha penolakanmu. rayuku

Yasmin diam saja.

– Kalau mbak Yana senang dengan pelayananmu padaku, tentunya sikap mbak Yana akan baik kepadamu kan ?
– Kemarilah Yasmin sayang kataku perlahan sambil berdiri.
– Engkau cantik kuarahkan mukaku ke wajahnya dan mulai mencium pipi, ke arah telinga terus ke leher.
– Engkau gadis sexy Yasmin. kulitmu bagus kuhisap bahunya, turun ke bawah ke depan.

Mulai terasa pangkal buah dadanya mengeras, bergetar lembut saat tanganku mengajak pergelangan tangannya menjauhinya. Kubenamkan mulutku, menghisap dan mnggigit dada ranum kenyal, ketat milik Yasmin. Yasmin diam saja, masih menggigit bibir bawahnya, mulai menunduk dengan mata terpejam, terkulai ke kanan.

Kupeluk tubuh rampingnya, Kuremas kedua pantatnya, Kulebarkan pahanya. Kulakukan remasan selama beberapa waktu sampai akhirnya kupeluk erat dan kubaringkan ke karpet bulu di kamar mbak Yana ini.

Masih terpejam mata Yasmin, bibirnya setengah terbuka, kedua tangannya mendekap kepalaku. Kutindih badannya, kubuka kakinya lebar2 dengan usaha kakiku, kugesekkan perlahan handuk yang melindungi pusakaku ke pangkal pahanya. Kakinya terbuka secara suka rela, tertekuk lututnya.

Nafasnya tersengal saat pusakaku yang mulai mengeras menekan pangkal pahanya. Yasmin meremas tangannya di kepalaku saat tubuhku mendorong maju mundur dan menekan ke bawah. Merintih dan mengerang sambil menggoyangkan badannya mencari irama yang diinginkannya.

Tak terasa lama kami saling memagut, menekan dan mendekap pasangannya masing, sampai mulai terasa hangat pusakaku menyentuh tubuhnya. Handukku telah terlepas. Sedikit mengangkat panggul aku mengarahkan kepala pusakaku ketengah pangkal paha Yasmin. Yasmin diam tak bereaksi menunggu saat2 itu tiba. Kepalaku didekap erat sambil mengerang

– ERrrgh!!

Saat kepala pusakaku mulai menempati posisi yang pas pada milik Yasmin. Segera kudorong tubuhku sambil menekan membuatnya membuka mulut, tapi tak berusara. Matanya terpejam dan terbuka sesaat, bergantian, seirama dengan goyangannya mengimbangi dorongan dan tekananku. Beberapa waktu kemudian

– AAARRRGH!! pekiknya nyaring, pendek, dan terbuka lebar mata dan mulutnya

Sambil berkelojotan, bergoyang dan bergetar semua tubuhnya menghimpit rapat pingggangku. Pahanya yang erat menjepitku sekarang diringi gemetar semua dadanya. Kemudian Yasmin diam, memejamkan mata, masih berair ujung kelopak matanya, tapi sedikit tersenyum Yasmin masih mengelus kepalaku.

– Enak kan sayang ?? bisikku di telinganya, tanpa menghentikan gerakanku.

Masih dengan irama yang sama aku sekarang duduk berlutut dihadapnnya, membuka lebar kakinya dengan keuda tanganku di betisnya yang kuangkat ke atas. Tangannya sekarang mencengkeram kursi rias dan karpet bulu di salah satunya.

Kepalanya masih terkulai ke kanan, mengangguk-angguk. sambil menekan bibir bawah ia mulai merintih lagi. Pintu kamar terbuka dari luar!! Kuangkat kepalaku dan mbak Yana masuk. sambil menatap kami ia tersenyum kecil, meletakkan pantantnya di kasur, melepaskan sepatu tingginya.

DI pintu, masuk lagi seorang wanita tinggi, lebih muda dari mbak Yana dengan kurus panjang wajahnya mirip gadis foto model. Bajunya yang terikat diujung bawahnya memperlihatkan branya yang gelap membungkus dadanya yang kencang. Rok jeans sepaha yang dikenakannya terlihat amat sangat sexy membungkus pahanya yang putih.

Lalu masuk lagi seorang wanita pendek dengan tubuh yang sedikit lebih lebar dari mbak Yana, tetapi memiliki buah dada yang teramat besar. Baju putihnya lurus membungkus menutupi bentuk tubuhnya yang sedikit lebar itu, tanpa dapat menyembunyikan besar dada di depannya.

– Sayang, ini Jane dan yang baju putih ini Henni. yang kemudian menyebutkan namaku kepada mereka
– Yang di bawah tu si Yasmin, masih perawan dia tadi pagi. senyumnya kepada temannya.

Aku tidak menghentikan gerakanku, masih menikmati denyutan di dalam lubang Yasmin yang sekarang ikut menoleh ke arah mereka. Bingung ia harus berbuat apa sementara tubuhku masih mendorong keluar masuk pusakaku ke dalam lubang miliknya.

Mbak Yana keluar kamar sambil menepuk pundak Jane

– Ayolah kalo kau menginginkannya.
– Yuk Ndut, kita ke dapur dulu. ajak Mbak Yana ke arah Henni.

Kulihat Jane mulai melepaskan perhiasannya, meletakkan dalam tasnya. Membuka kancing bra dan ikatan bajunya, meletakkannya di kursi rias sambil mendekat kearahku. Kulihat Jelas buah dadanya bagus menjulang, ujungnya runcing membuatku ingin menghisapnya. Sedikit membungkuk ia menurunkan rok jeans yang telah terbuka resletingnya. celana dalam coklat gelap dengan bordir indah menambah indah bentuk lekukan bawah pusar si Jane.

– Mas kata Jane perlahan sambil mendekatkan wajahnya menciumi punggungku yang masih bergoyang berirama.

Jane merangkulku dari belakang, dan mengesekkan tubuhnya pada punggungku, kurasakan dadanya yang kenyal dan ketat itu menekan punggungku. Kemudian ia bangkit sedikit berdiri, menempelkan perutnya ke punggungku.

Kurebahkan miring si Yasmin di bawah, kakinya kanannya kusilangkan dengan kaki kirinya, pahanya sedikit merapat, pangkal pahanya seditkit lebih menjepit erat miliku. Yasmin merintih, kali ini meremas karpet disebelahnya erat2, kemudian sambil merapatkan bibir ia mengejang.

Tanganku yang memegang kakinya merasa getaran kejang2 cepat yang kemudian berhenti, tapi dengan otot2 tubuh yang masih mengejang. badannya setengah tertekuk ke samping, lubangnya terasa lebih sempit dari sebelummnya saat itu.Kemudian ia diam tak bergerak, dengan masih rebah miring dan kaki terangkat satu. Ia tak bergerak, diam lemas tapi masih mencengkeram karpet bulu.

Dari tadi tubuhku tetap bergoyang dengan irama yang sama menekan ke depan dan ke bawah.Aku tidak melihat perlawanan lagi. Tapi lubang milik Yasmin itu aku masih suka mengolahnya dengan pusakaku. Tidak sesempit sesaat tadi, tapi masih terasa menjepit dan berdenyut saat aku menghentikan sebentar gerakanku.

Jane yang tanganya sudah gatal telah memulai meremas dadanya sendiri, menyaksikan kelojotan dan kejangan Yasmin di hadapannya. Sambil meraih pergelangan tangan kiriku, ia menyodorkan kemaluannya, menempelkan tangannya di situ sambil menggesekan tubuhnya ke tanganku. Sedikit kujepit dengan ibu jari dan telunjukku, kubuat celana dalam Jane sedikit turun ke bawah.

Dari samping kemudian merangkulku, duduk di paha kiriku, menghadapku. Membuka pahanya lebar2 dan membenamkan pangkalnya ke pahaku. Dicondongkannya tubuh bawahnya hingga lebih menempel, menggesekkan kemaluannya ke pahaku. Kemudian menggesek kedua dadanya di bahu kiriku, naik turun.

Kulepaskan si Yasmin yang terdiam di lantai, kuajak berdiri sebentar si Jane, kemudian mengajaknya duduk di kursi rias. Kutarik lepas celana dalamnya, tubuh Jane yang aduhai ini telah duduk di kursi rias dengan terbuka lebar pahanya.

Segera kudorong bersandar ke meja rias, ia menopang sikunya. Pangkal pahanya dicondongkan ke arahku, memperlihatkan bentuk kemaluannya yang terselimut bulu tebal dari bawah pusar hingga sekeliling pangkal kakinya. kakinya dibuka sedemikian lebar hingga kedua tanganku dapat membuka belahan bawah Jane dan memijitnya perlahan.

– UUUhhggghh Mengecil mulut Jane ke depan, melenguh melepaskan nafas.

Kumasukkan pusakaku ke dalam milik Jane, kulakukan gerakan maju mundur dengan irama perlahan. Terasa masih kering lubang Jane, sehingga masih terasa dinding pusakaku menggesek lubang Jane saat berusaha masuk.

Jane tersenyum nakal. dan mulai menggoyangkan naik turun bawah perutnya, membuatku semakin bersemangat menekan tubuhnya. Kupercepat gerakanku. ku tak peduli jika aku mencapai puncakku sebentar lagi. Tapi herannya, perasaan rileks di kepalaku dan nafas teratur miliku seperti malah membuatku tidak sampai2 pada ujung nikmatku.

Sudah tegang pusakaku bersama si Yasmin, Sudah bergesekan di lubang sempit miliknya berulang kali. Kali ini dengan Jane, lubang keringnya yang menggigit dinding pusakaku, juga tak sanggup melepaskan energi yang kutunggu dari tadi. Heran juga ku sekilas.

Tapi dorongan2 dan tekanan tajam, cepat dan berulang kepada Jane membuat lubangnya mulai basah juga. Dengan cepat ia merangkul kepalaku, pahanya dengan sigap dan cepat merangkul pinggangku, sehingga membuatku bangkit, menggendongnya, dan mendorong lubang di bawah badannya dalam-dalam.

– AArghhh!! nikmat mas

Badan Jane bergoyang dalam gendonganku. Kadang naik turun, kadang maju mundur, sambil terus menjepit kepalaku dengan tangan, dan pinggangku dengan kakinya. Kuajak ia berjalan keliling kamar mbak Yana. Merintih si Jane bergoyang pantatnya terdorong pahaku yang melangkah maju bergantian.

Semakin erat genggamn Jane, dan semakin memburur nafasnya. Kubuka handle pintu kamar mbak Yana, kubuka pintunya, kuberjalan ke ruang tengah sambil menggendong Jane yang bergoyang goyang mencari kesenangannya.

Kulihat Mbak Yana di depan tv ruang tengah, melihat film porno asia, pemerkosaan gadis sekolah jepang di tv layar lebarnya. Kulihat mbak Yana menatap layar sambil menerawang matanya. Pakainnya telah kebawah, tinggal bra di dadanya yang sedikit melorot juga, tanda kancing belakangnya telah terlepas.

Kulihat kebawah, kaki mbak Yana bergoyang-goyang mengapit kepala si Henni yang mengulum lekukan bawah tubuh mbak Yana. Sambil bersandar dan melirik kami, mbak Yana membenamkan kepala Henni dalam2. Mulut mbak Yana terbuka, setengah bergoyang ia melambai kearahku. Mengajakku mendekat.

Jane yang kugendong tambah mempererat genggamannya saat kulewati tv itu, membuat Jane melihat dan mendengar jelas teriakan, erangan dan tangisan keras gadis sekolah yang terpampang di tv, dikerjai oleh si pria dewasa. Jane mempercepat ayunannya dan kulihat matanya melotot melihat tv, mempererat jepitannya, merintih-rintih kemudian

– ARrrghhhh!! AAAHhHHHHHHhhhh

Badannya bergunjang dalam gendonganku, bergetar dan mengejang sesaat. Kemudian melapaskan tangan dan kakinya, hendak turun. Kubiarkan ia merosot ke bawah, ke lantai berselimut bulu tebal itu. Ia terbaring miring sambil tersenyum padaku.

Mbak Yana terpejam dan terbuka matanya bergantian, menikmati sapuan lidah dan hisapan si Henni yang setengah telanjang berbaring di bawah. Kutarik meja ke pinggir memperluas ruang tengah ini, kutarik kursi sofa kecil ke arah mereka berdua.

Kuangkat gaun putih bagian bawah milik Henni. gaunnya di tengah tubuhnya sekarang bergantung, karena bagian atasnya sudah terlepas semua hingga pinggang. Tak kulihat celana dalam si Henni di badannya.

Coba kuangkat sedikit pahanya, mengajaknya bersandar telungkup di kursi yang kusiapkan. Masih melumat milik mbak Yana, si Henni mulai melirik ke arahku. Kubuka sedikit pahanya, yang diteruskan dengan usahanya sendiri membuka lebar2 dan sedikit menungging bagian bawahnya. merangarahkannya kepadaku.

Ah, segera kusiapkan pusakaku berganti lubang sekarang. Kumasukan perlahan. sempit. Henni menjerit kecil dalam benaman pangkal paha mbak Yana. Perlahan kumasukan pusakaku yang basah ini memasuki lubang Henni. Wanita ini gemuk, sehingga membuat lubangnya sempit, atau ia jarang melalukan sehingga terasa sempit ?

Perlahan tapi pasti, pusakaku sudah di dalam lubang Henni. kukoyak kesamping, kedorong kedepan, kebenamkan dalam-dalam ke bawah, kugoyang kesegala arah. Aku senang dinding pusakaku terpijit denyutan ruang dalam Henni.

– Ah!! pekiknya tertahan

Lubang Henni, hampir sesempit lubang Yasmin. Tapi kali ini ia memijit pusakaku di dalam, membuatnya berbeda dengan milik si Yasmin. Kudorong terus si Henni, kuingin terus meraih sensasi di pijitan di ruang dalam miliknya.

Tak beberapa lama, aku mulai gemetar, kupercepat gerakanku, kuperhatikan mbak Yana yang terpejam matanya, terlentang lemas, Henni yang tidak mengulum kemaluan mbak Yana, mulai terengah-engah, telungkup di kursi kecil. Badannya sedikit bergoyang sambil terus merapatkan pantatnya, berusaha keras menjepit pusakaku saat beraksi di lubangnya. Kurasakan si Henni ini yang paling lihai diantara mereka.

Dengan meremas pantatnya, kubenamkan dalam2 pusakaku ke lubang Henni, menegang paha dan lututku, mengeluarkan cairan hangat yang kutunggu dari tadi. Kusampai puncak nikmatku dengan wanita sintal tapi lihai ini. Kulihat ia tersenyum menoleh kepadaku, terengah engah membiarkan lubangnya tersiram air hangat dari dalam tubuhku.

Sesaat sambil meluruskan kaki, terduduk di bawah bersandar sofa, aku merasa ada yang aneh saat kuperhatikan pusakaku masih bediri tegak. Aku sudah yakin mencapai puncak nikmat saat bersama Henni tadi, tapi pusakaku belum bergerak melingkar lemas kebawah.

Kupegang, masih tegang dan kencang. Kuteguk cangkir minuman disampingku, kurasakan hangat tehnya, sambil menutup mata dan menyandarkan kepalaku ke sofa aku beristirahat memejamkan mata.

Setengah sadar aku merasakan beban berat mendidihhku, bersamaan terjepitnya pusakaku kedalam lubang bawah wanita. Kurasakan semua gerakan ayunan dan goyangan cepat berlangsung lama di atasku bersamaan dengan pekik panjang suara si Henni.

Tak lama setelah mengangkat badannya, kembali aku tertindih berat tubuh wanita yang membenamkan pusakaku ke dalam liang lubang wanitanya. Kudengar suara mbak Yana sekarang terengah dan menjerit terus menerus. Mulai kudengar pula suara Jane ikut tertawa perlahan dan bergantian menindih tubuhku sambil menggoyangkan pangkal pahanya mencari kenikmatan. Mereka terus melakukan secara bergantian.

Akhirnya tak terdengar suara dan gerakan lagi Kubuka mataku dan melihat mereka bertiga tertidur di karpet, semua dengan telanjang bulat. Kucoba bangkit, merasakan tenagaku mulai pulih, aku bergerak perlahan ke kamar mbak Yana, sambil memperhatikan pusakaku yang masih terus berdiri tegak.

Cerita sex : Pembantu Semok Yang Bikin Goyah Kesetiaan Pada Istri

Aku masih teringat Yasmin, remaja belasan tahun yang masih sangat ingin kujamah dan mengolah tubuh molek kencangnya bersama lubang kenikmatannya yang sempit.

#Nikmatnya #Ngentot #Dengan #Wanita #Sexy #Yang #Punya #Tubuh #Menggoda

Ngentot Dengan TKW Yang Masih Perawan Dan Polos Terbaru Malam Ini

Empat tahun lalu aku masih tinggal dikota B. Waktu itu aku berumur 26 tahun. Aku tinggal dirumah sepupu, karena sementara masih menganggur aku iseng-iseng membantu sepupu bisnis kecil-kecilan di pasar. 3 bulan aku jalani dengan biasa saja. Hingga akhirnya secara tak disengaja aku kenal seorang pelanggan yang biasa menggunakan jasa angkutan barang pasar yang kebetulan aku yang mengemudikannya. Bu Devi namanya. Sambil ngobrol ngalor-ngidul aku antar dia sampai dirumahnya yang memang agak jauh dari pasar tempat dia berjualan kain-kain dan baju.

Sesampai dirumahnya aku bantuin dia mengangkat barang-barangnya. Mungkin karena sudah mulai akrab aku enggak langsung pulang. Toh, memang ini penumpang yang terakhir. Aku duduk saja di depan rumahnya yang sejuk, karena kebetulan ada seperti dipan dari bambu dihalaman di bawah pohon jambu. Dari dalam aku mendengar suara seperti memerintah kepada seseorang..

“una.. Tuh bawain air yang dikendil ke depan..,” begitu suara Bu Devi.
Aku tidak mendengar ada jawaban dari yang diperintah Bu Devi tadi. Yang ada tiba-tiba seorang gadis umur kira-kira 20 tahunan keluar dari rumah membawa gelas dan kendil air putih segar. Wajahnya biasa saja, agak mirip Bu Devi, tapi kulitnya putih dan semampai pula. Dia tersenyum..
“Mas, minum dulu.. Air kendil seger lho..” begitu dia menyapaku.
“I.. Iya.. Makasih..” balasku.

Masih sambil senyum dia balik kanan untuk masuk kembali ke dalam rumahnya. Aku masih tertegun sambil memandangnya. Seperti ingin tembus pandang saja niatku, ‘Pantatnya aduhai, jalannya serasi, lumayan deh..’ batinku.

Tak seberapa lama Bu Devi keluar. Dia sudah ganti baju, mungkin yang biasa dia pakai kesehariannya..
“Dik Geri, itu tadi anak saya si Luna..” kata Bu Devi.
“Dia tuh lagi ngurus surat-surat katanya mau ke Malaysia jadi TKW.” lanjutnya. Aku manggut-manggut..

“O gitu yah.. Ngapain sih kok mau jauh-jauh ke Malaysia, kan jauh.. Nanti kalau ada apa-apa gimana..” aku menimpalinya.
Begitu seterusnya aku ngobrol sebentar lalu pamit undur diri. Belum sampai aku menstater mobil pickupku, Bu Devi sambil berlari kecil ke arahku..
“Eh dik Geri, tunggu dulu katanya Luna mau ikut sampai terminal bis. Dia mau ambil surat-surat dirumah kakaknya. Tungguin sebentar ya..”

Aku tidak jadi menstater dan sambil membuka pintu mobil aku tersenyum karena inilah saatnya aku bisa puas mengenal si Luna. Begitulah akhirnya aku dan Luna berkenalan pertama kali. Aku antar dia mengambil surat-surat TKW-nya. Di dalam perjalanan kami ngobrol dan sambil bersendau gurau.
“una.., namamu Luna. Kok nggak ada lesung Lunanya..” kataku ngeledek. Luna juga tak kalah ngeledeknya.

“Mas aku kan sudah punya lesung yang lain.. Masak sih kurang lagi..” balas Luna..
Di situ aku mulai berani ngomong yang sedikit nakal, karena sepertinya Luna tak terlalu kaku dan lugu layaknya gadis-gadis didesa. Pantas saja dia berani merantau keluar negeri, pikirku.
Sesampai dirumah kakaknya, ternyata tuan rumah sedang pergi membantu tetangga yang sedang hajatan. Hanya ada anaknya yang masih kecil kira-kira 7 tahunan dirumah. Luna menyuruhnya memanggilkan ibunya.

“Eh Ugi, Ibu sudah lama belum perginya? susulin sana, bilang ada Lik Luna gitu yah..”
Ugi pergi menyusul ibunya yang tak lain adalah kakaknya Luna. Selagi Ugi sedang menyusul ibunya, aku duduk-duduk di dipan tapi di dalam rumah. Luna masuk ke ruangan dalam mungkin ambil air atau apa, aku diruangan depan. Kemudian Luna keluar dengan segelas air putih ditangannya.
“Mas minum lagi yah.. Kan capek nyetir mobil..” katanya.

Diberikannya air putih itu, tapi mata Luna yang indah itu sambil memandangku genit. Aku terima saja gelasnya dan meminumnya. Luna masih saja memandangku tak berkedip. Akupun akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Luna, dingin dan sedikit berkeringat. Tak disangka, malah tangan Luna meremas jariku. Aku tak ambil pusing lagi tangan satunya kuraih, kugenggam. Luna menatapku.

“Mas.. Kok kita pegang-pegangan sih..” Luna setengah berbisik.
Agak sedikit malu aku, tapi kujawab juga, “Abis, .. Kamu juga sih..”

Setelah itu sambil sama-sama tersenyum aku nekad menarik kedua tangannya yang lembut itu hingga tubuhnya menempel di dadaku, dan akhirnya kami saling berpelukan tidak terlalu erat tadinya. Tapi terus meng-erat lagi, erat lagi.. Buah dadanya kini menempel lekat didadaku. Aku semakin mendapat keberanian untuk mengelus wajahnya. Aku dekatkan bibirku hingga menyentuh bibirnya. Merasa tidak ada protes, langsung kukecup dan mengulum bibirnya. Benar-benar nikmat. Bibirnya basah-basah madu. Tanganku mendekap tubuhku sambil kugoyangkan dengan maksud sambil menggesek buah dadanya yang mepet erat dengan tubuhku. Sayup-sayup aku mendengar Luna seperti mendesah lirih, mungkin mulai terangsang kali..

Apalagi tanpa basa-basi tonjolan di bawah perutku sesekali aku sengaja kubenturkan kira-kira ditengah selangkangannya. Sesekali seperti dia tahu iramanya, dia memajukan sedikit bagian bawahnya sehingga tonjolanku membentur tepat diposisi “mecky”nya.

Sinyal-sinyal nafsu dan birahiku mulai memuncak ketika tanpa malu lagi Luna menggelayutkan tangannya dipundakku memeluk, pantatnya goyang memutar, menekan sambil mendesah. Tanganku turun dan meremas pantatnya yang padat. Akupun ikut goyang melingkar menekan dengan tonjolan penisku yang menegang tapi terbatas karena masih memakai celana lumayan ketat. Ingin rasanya aku gendong tubuh Luna untuk kurebahkan ke dipan, tapi urung karena Ugi yang tadi disuruh Luna memanggil ibunya sudah datang kembali.

Buru-buru kami melepas pelukan, merapikan baju, dan duduk seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Begitu masuk, Ugi yang ternyata sendirian berkata seperti pembawa pesan.
“Lik Luna, Ibu masih lama, sibuk sekali lagi masak buat tamu-tamu. Lik Luna suruh tunggu aja. Ugi juga mau ke sana mau main banyak teman. sudah ya Lik..”
Habis berkata begitu Ugi langsung lari ngeloyor mungkin langsung buru-buru mau main dengan teman-temannya. Aku dan Luna saling menatap, tak habis pikir kenapa ada kesempatan yang tak terduga datang beruntun untuk kami, tak ada rencana, tak ada niat tahu-tahu kami hanya berdua saja disebuah rumah yang kosong ditinggal pemiliknya.

“Mas, mending kita tunggu saja yah.. sudah jauh-jauh balik lagi kan mubazir.. Tapi Mas Geri ada acara nggak nanti berabe dong..” berkata Luna memecah keheningan.
Dengan berbunga-bunga aku tersenyum dan setuju karena memang tidak ada acara lagi aku dirumah.
“una sini deh.. Aku bisikin..” kataku sambil menarik lengan dengan lembut.
“Eh, kamu cantik juga yah kalau dipandang-pandang..”

Tanpa ba-Bi-Bu lagi Luna malah memelukku, mencium, mengulum bibirku bahkan dengan semangatnya yang sensual aku dibuat terperanjat seketika. Akupun membalasnya dengan buas. Sekarang tidak berlama-lama lagi sambil berdiri. Aku mendorong mengarahkannya ke dipan untuk kemudian merebahkannya dengan masih berpelukan. Aku menindihnya, dan masih menciumi, menjilati lehernya, sampai ke telinga sebelah dalam yang ternyata putih mulus dan beraroma sejuk. Tangannya meraba tonjolan dicelanaku dan terus meremasnya seiring desahan birahinya. Merasa ada perimbangan, aku tak canggung-canggung lagi aku buka saja kancing bajunya. Tak sabar aku ingin menikmati buah dada keras kenyal berukuran 34 putih mulus dibalik bra-nya.

Sekali sentil tali bra terlepas, kini tepat di depan mataku dua tonjolan seukuran kepalan tangan aktor Arnold Swchargeneger, putih keras dengan puting merah mencuat kurang lebih 1 cm. Puas kupandang, dilanjutkan menyentuh putingnya dengan lubang hidungku, kuputar-putar sebelum akhirnya kujilati mengitari diameternya kumainkan lidahku, kuhisap, sedikit menggigit, jilat lagi, bergantian kanan dan kiri. Luna membusung menggeliat sambil menghela nafas birahi. Matanya merem melek lidahnya menjulur membasahi bibirnya sendiri, mendesah lagi.. Sambil lebih keras meremas penisku yang sudah mulai terbuka resluiting celanaku karena usaha Luna.

Tanganku mulai merayap ke sana kemari dan baru berhenti saat telah kubuka celana panjang Luna pelan tapi pasti, hingga berbugil ria aku dengannya. Kuhajar semua lekuk tubuhnya dengan jilatanku yang merata dari ujung telinga sampai jari-jari kakinya. Nafas Luna mulai tak beraturan ketika jilatanku kualihkan dibibir vaginanya. Betapa indah, betapa merah, betapa nikmatnya. Clitoris Luna yang sebesar kacang itu kuhajar dengan kilatan kilatan lidahku, kuhisap, kuplintir-plintir dengan segala keberingasanku. Bagiku Mecky dan klitoris Luna mungkin yang terindah dan terlezaat se-Asia tenggara.

Kali ini Luna sudah seperti terbang menggelinjang, pantatnya mengeras bergoyang searah jarum jam padahal mukaku masih membenam diselangkangannya. Tak lama kemudian kedua paha Luna mengempit kepalaku membiarkan mulutku tetap membenam di meckynya, menegang, melenguhkan suara nafasnya dan…

“Aauh.. Ahh.. Ahh.. Mas.. Luna.. Mas.. Luna.. Keluar.. Mas..” mendengar lenguhan itu semakin kupagut-pagut, kusedot-sedot meckynya, dan banjirlah si-rongga sempit Luna itu. Iri sekali rasanya kalau aku tak sempat keluar orgasme, kuangkat mukaku, kupegang penisku, kuhujam ke vaginanya. Ternyata tak terlalu susah karena memang Luna tidak perawan lagi. Aku tak perduli siapa yang mendahului aku, itu bukan satu hal penting. Yang penting saat ini aku yang sedang berhak penuh mereguk kenikmatan bersamanya. Lagipula aku memang orang yang tidak terlalu fanatik norma kesucian, bagiku lebih nikmat dengan tidak memikirkan hal-hal njelimet seperti itu.

Kembali ke “pertempuranku”, setengah dari penisku sudah masuk keliang vagina sempitnya, kutarik maju mundur pelan, pelan, cepet, pelan lagi, tanganku sambil meremas buah dada Luna. Rupanya Luna mengisyaratkan untuk lebih cepat memacu kocokan penis saktiku, akupun tanggap dan memenuhi keinginannya. Benar saja dengan “Ahh.. Uhh”-nya Luna mempercepat proses penggoyangan aku kegelian. Geli enak tentunya. Semakin keras, semakin cepat, semakin dalam penisku menghujam.

Kira-kira 10 menit berlalu, aku tak tahan lagi setelah bertubi-tubi menusuk, menukik ke dalam sanggamanya disertai empotan dinding vagina bidadari calon TKW itu, aku setengah teriak berbarengan desahan Luna yang semakin memacu, dan akhirnya detik-detik penyampaian puncak orgasme kami berdua datang. Aku dan Luna menggelinjang, menegang, daan.. Aku orgasme menyemprotkan benda cair kental di dalam mecky Luna. Sebaliknya Luna juga demikian. Mengerang panjang sambil tangannya menjambak rambutku.. Tubuhku serasa runtuh rata dengan tanah setelah terbang ke angkasa kenikmatan. Kami berpelukan, mulutku berbisik dekat telinga Luna.

“Kamu gila una.. Bikin aku kelojotan.. Nikmat sekali.. Kamu puas una?”
Luna hanya mengangguk, “Mas Geri.., aku seperti di luar angkasa lho Mas.. Luar biasa benar kamu Mas..” bisiknya..

Sadar kami berada dirumah orang, kami segera mengenakan kembali pakaian kami, merapihkannya dan bersikap menenangkan walaupun keringat kami masih bercucuran. Aku meraih gelas dan meminumnya.

Kami menghabiskan waktu menunggu kakaknya Luna datang dengan ngobrol dan bercanda. Sempat Luna bercerita bahwa keperawanannya telah hilang setahun lalu oleh tetangganya sendiri yang sekarang sudah meninggal karena demam berdarah. Tapi tidak ada kenikmatan saat itu karena berupa perkosaan yang entah kenapa Luna memilih untuk memendamnya saja.
Begitulah akhirnya kami sering bertemu dan menikmati hari-hari indah menjelang keberangkatan Luna ke Malaysia. Kadang dirumahnya, saat Bu Devi kepasar, ataupun di kamarku karena memang bebas 24 jam tanpa pantauan dari sepupuku sekalipun.

Cerita sex : Pelacur Yang Telah Mengambil Keperjakaan Ku

Tak lama setelah keberangkatan Luna aku pindah ke Jakarta. Khabar terakhir tentang Luna aku dengar setahun yang lalu, bahwa Luna sudah pulang kampung, bukan sendiri tapi dengan seorang anak kecil yang ditengarai sebagai hasil hubungan gelap dengan majikannya semasa bekerja di negeri Jiran itu. Sedang tentangku sendiri masih berpetualang dan terus berharap ada “Luna- Luna” lain yang nyasar ke pelukanku. Aku masih berjuang untuk hal itu hingga detik ini. Kasihan sekali gue..

#Ngentot #Dengan #TKW #Yang #Masih #Perawan #Dan #Polos

Cerita Dewasa Ngentot Sedarah, Terbaru Malam Ini

Cerita Dewasa Ngentot Sedarah – Cerita inses ini merupakan lanjutan dari cerita sebelumnya (ibu saya seksi dan montok). Jika sudah membaca bagian pertama, silahkan lanjutkan membaca bagian II di bawah ini ya gan!

Saya tidak percaya bahwa ibu saya memberi tahu saya selama hampir 10 menit tentang seberapa dalam dan lebar vaginanya, serta apa yang terjadi pada ibu saya sebagai seorang anak. Selama waktu itu, saya sengaja merangsang ibu saya dengan terus-menerus menggosok, dan kadang-kadang bolak-balik, telapak tangan saya direntangkan di sepanjang vagina ibu saya, ibu saya menjadi semakin bersemangat, karena saya merasa vaginanya semakin basah dan. lumpur

Cerita Dewasa Ngentot Sedarah

Darah tentang seks | Ibu saya tidak tahan lagi, dan kemudian mengucapkan beberapa kata yang membuat ayam saya lebih tegang; “ອ້າວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວວ , …” .

Cerita Sedarah Archives

Mendengar ibu saya berkata bahwa saya tidak tahan segera menyalakan penis saya yang tegang dan memasukkannya ke dalam vagina yang rentan, vagina ibu kandung saya di bumi ini.

Saya tidak bisa membayangkan bahwa sore ini keperawanan saya harus hilang dalam rahim wanita yang nantinya akan menjadi istri saya, tetapi segera saya akan melepaskan keperawanan saya di dalam rahim ibu saya sendiri.

Ibu saya, Riska Damayanti, yang membesarkan dan merawat saya dengan cinta, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan saya melalui vagina 22 tahun yang lalu, sekarang ibu saya sendiri akan dengan sukarela menyerahkan seluruh tubuhnya, termasuk vaginanya sendiri. Dengan anak kandungnya, yang seharusnya hanya dinikmati oleh Antok Suharmanto sebagai suami sah ibu saya, tetapi untuk terus hidup bersama saya dan membuat saya bahagia, ibu saya, Riska Damayanti, mengajukan cerai dari ayahnya sendiri. Vagina, dan rahim ibu suci yang pernah menjadi tempat kelahiranku, dan memberikan semua kehangatan tubuhku, sekarang hanya bisa menampung organ-organ besarku.

Impian yang saya idam-idamkan selama 6 tahun sejak kelas 1 SD untuk menikahi ibu kandung saya sendiri Riska Damayati dengan sosok serasi dan seksi yang selalu menggoda saya, akan segera terwujud. Kebenaran.

Cerita Dewasa Istri Selingkuh Melepas Hijab Dengan Seorang Pedagang

Lalu aku meletakkan bibir ibuku di tempat tidur dan aku mencium keningnya, terus turun ke pipinya, telinganya tidak lepas dari ciumanku, terkadang aku menjilat telinganya, lalu turun ke kepala zaitunnya yang panjang. kerah berwarna.

Tiba-tiba ibuku mulai berteriak, dan menangis saat ciumanku mulai turun ke lehernya; “Mas Rian kamu pinter banget ya bu, kamu tahu kelemahanku ketika leherku dicium seperti ini, dan daun telingaku dijilat, ssshhh… eemmhh… I love you nak, mom tresno karo kowe.. , oohh terus menikmati leher ibu ini, terus menjilati daun telingaku, Riska tidak ingin berpisah denganmu, Mas, nikmati aku, Rian, suamiku, yang adalah anakku sendiri.

Darah tentang seks | Sesaat kemudian mata kami bertemu, aku bisa melihat melalui mata tajam ibuku, dan menatapku dengan seksama. Terlihat jelas dari sorot matanya bahwa ibuku telah jatuh cinta padaku, yang merupakan anak kandungnya sendiri, tak sedikit pun keraguan yang terpancar dari matanya bahwa dia benar-benar berniat untuk menikahiku.

Aku melihat kembali ke mata ibuku yang penuh tekad, dan aku berkata; “Riska sayangku, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah bisa menjauh darimu, aku ingin menikahimu untuk waktu yang lama, dan kamu bukan hanya ibuku, tetapi juga satu-satunya wanita dalam hidupku, dan ibu dari anak-anakku nanti. !!! ”

Ngentot Dengan Mama Muda

Ibuku tampak berkaca-kaca mendengar pernyataanku, dan berbisik pelan; “Mas Rian, anakku tersayang, aku sangat senang mendengar cintamu, dan cintamu yang besar untukku, bahkan menjadikanku ibumu sendiri, istri dan ibu dari anak-anak masa depan kita, dan satu-satunya wanita dalam hidupmu.”

Ya ampun, hamil denganku, Rian, dek Riska tidak sabar untuk saat-saat itu, dan ingin hamil anakmu yang cucuku.

Ayo sayang, Riska, aku sudah lama terjaga, vaginaku basah, dinding vaginaku bergetar, aku tidak bisa menahan, dan penismu ditusuk, bang, itu benar-benar gatal, kawan.

Sekarang ibuku telah melupakan segalanya seperti ibu angkatku yang membawaku ke dunia ini, Riska Damayanti sepertinya memiliki perasaan yang sama denganku. Meskipun saya anak kandungnya sendiri, ibu saya siap untuk memiliki hubungan terlarang dengan putranya sendiri, meskipun ini dilarang oleh agama kami.

Poto Bohay Mahasiswi Nengentot Dengan Pacar Cerita Dewasa Bokep Viral Video Lucah Terbaru

Cukup dengan ciuman, dan menjilat telinga, leher, dan leher ibu dengan tanda merah, sekarang saya terus berlatih dengan mulai mencium bibir kecil merah muda ibu, dan mereka terlihat seksi.

Bibirku bertemu bibir ibuku, cup…mmuuaachh…, lalu aku menjulurkan lidahku ke mulut ibuku mencarinya, yang kemudian ibuku memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Rupanya ibu saya memiliki pengalaman dalam berciuman di bibir. articlebokep.com Lidah kami berdua saling menempel, ada sambungannya, sedangkan air liur ibu yang keluar sengaja dibagikan dengan saya, dan saya juga berbagi air liur di mulut ibu saya. Sambil mencium bibir aku melihat ibuku

Sangat sulit ketika diri dikuasai, dan dikendalikan oleh keinginan. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kelegaan adalah berhubungan seks dengan seseorang yang kita cintai, biarkan orang itu menjadi ibu kita sendiri.

Nilai-nilai moral yang kita berdua pegang selama ini, hanya selangkah sebelum nilai-nilai itu runtuh karena tebalnya gelombang keserakahan yang menghampiri saya dan ibu saya.

Cerita Dewasa Tante.jpg From Cerita Sex Ngentot Memek Tante Marry Yang Semok Sampe Crot Jpg View Photo

Batas-batas ibu, dan anak-anak yang tidak boleh dilanggar, dan selamanya, akan segera tidak hanya kabur, tetapi sebenarnya runtuh karena inses antara seorang ibu dan anak kandungnya, yang akan segera terjadi, bisik hati nurani saya.

Kebanggaan kami berdua sebagai ibu dan anak sepertinya hilang hanya karena kami sama-sama kerasukan setan, jadi kami berdua tidak bisa berpikir jernih. Kami berdua sepertinya sudah melupakan status kami sebagai ibu dan anak.

Apa yang telah kami lakukan adalah dosa berat, dan kami pasti akan masuk neraka atas apa yang telah kami lakukan. , tetapi sungguh, tidak ada anak yang bisa lepas dari kesulitan ini.

Apalagi sebagai seorang ibu, ibu saya, Riska Damayanti, yang seharusnya menegur saya, dan menolak saya dan membuat saya menyadari kesalahan saya, saya justru memasuki lembah rasa malu, sengaja merayu saya dengan putranya yang masih kecil, yang sangat tinggi. Keinginan seksual.

Cerita Dewasa Cerita Seks Sedarah

Seperti saya, Rian Andrianto, yang melakukan kesalahan dengan merangsang seksualitas ibu saya, yang masih cukup muda di usia 43 tahun, usia yang matang, usia di mana wanita berada pada tingkat keinginan yang tinggi, terutama dengan ayah saya. Menanggapi kebutuhan biologis ibunya selama setahun terakhir, maka sesuai dengan apa yang saya rasakan dengan apa yang ibu saya rasakan.

Ternyata benar apa yang dikatakan pelaku kejahatan seksual, bagi anak laki-laki payudara ibu, vagina adalah miliknya sepenuhnya, tidak untuk digunakan oleh pria lain, bahkan jika itu adalah ayahnya sendiri, secara biologis. Vagina ibu adalah vagina yang paling enak di dunia ini.

Darah tentang seks | Di sisi lain, bagi seorang ibu yang kesepian seperti ibu saya, yang peduli, mencintai dan ingin memiliki seorang putra selamanya, dan tidak ingin putranya meninggalkannya, hanya ada satu cara: merayu putranya dengan kecantikan. Dan keindahan tubuhnya, yang ibu akan merasa begitu puas ketika alat kelamin anak berada di dalam kandungan, bahkan ibu rela melakukan segalanya untuk bisa bercinta, dan berhubungan seks dengan darah dagingnya sendiri, jika perlu. . Penis anaknya dibuat semaksimal mungkin untuk memeras sperma yang ada di dalam rahimnya, agar sang ibu bisa hamil.

Jadi mereka berdua adalah ibu, dan anak-anak tidak akan dipisahkan satu sama lain. Begitulah perasaan ibu saya, Riska Damayanti, bahwa penis saya adalah anaknya sendiri, Rian Andrianto, adalah miliknya selamanya, dan sebaliknya, vaginanya adalah milik saya.

Cerita Sex Sedarah Adik Iparku Yang Masih Perawan

Tidak ada organ di dunia ini yang lebih enak dari alat kelamin anak. Apalagi jika ada incest, hubungan incest ini tidak bisa melarangnya, bahkan hukum negara, dan ini adalah keinginan yang paling incest agar ibu dapat menikmati disekrup oleh anak selamanya, serta anak bisa. Menikmati persetubuhan dengan ibunya selamanya, sehingga alat kelamin anak sering tegang, dan gatal-gatal pada vagina ibu dapat melanjutkan hubungan terlarang selamanya, dan tidak pernah berpisah lagi.

Setelah sekitar 5 menit mencium bibir, saya meletakkan kedua tangan di atas bukit kembar ibu, saya merasa payudara ibu sangat besar dan lembut.

Perlahan-lahan aku mulai membelai dan membelai lembut kedua payudaranya, terkadang aku meremasnya, yang membuat ibuku mengerang; “Oh anakku sayang, emmhh mas Rian, sayang eennnakkk, cium terus Riska, ooohh terus usap payudara anakku, remas dengan lembut, mmmhhh nikmati bukit kembar ibumu seperti ketika kamu masih kecil, payudaraku, ibumu sendiri. Payudara, hanya untukmu selamanya Pak Rian…”

Akhirnya kejadian setahun lalu di kamarku terulang lagi, yang membedakan sekarang hanyalah pengetahuan, dan kemauan ibu.

Cerita Sex Istri Yang Beersetubuh Dengan Pria Lain Karena Lebih Ganas

Perlahan aku menggerakkan tanganku ke tengah, di tengah payudara ibu, sebagai penopang dari tubuh, lalu perlahan mendekatkan wajahku ke payudara ibu, lalu mulai mencium si kembar ibu secara bergantian. Payudara kiri dan kanannya.

Saat aku hendak menghisap puting di sisi kanan ibuku, tangan ibuku tiba-tiba meraih tanganku.

#Cerita #Dewasa #Ngentot #Sedarah

Cerita Seks Ngentot Dewasa, Terbaru Malam Ini

Cerita Seks Ngentot Dewasa – Perkenalkan Nama saya Andika (nama samaran)! Saya baru saja lulus dan sangat ingin menjadi PNS, masa depan terlihat cerah, kata orang! Menjadi PNS adalah impian bagi kebanyakan orang! Ada beberapa cara untuk lulus tes CPNS. mengikuti bimbingan tes CPNS, pemberian fasilitas, menyewa joki, bahkan pergi ke dukun akan dilakukan.

Entah saya putus asa setelah gagal tes beberapa kali, akhirnya saya menggunakan jasa dukun atau orang pintar alih-alih mak errot, lho. Menurut informasi yang saya dapatkan dari seorang teman saya, ada seorang dukun di pinggiran kota yang mengangkatnya menjadi PNS.

Cerita Seks Ngentot Dewasa

Aku pergi sendirian ke rumah dukun itu malam itu. Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya saya sampai di sebuah rumah sederhana yang nyaris tidak terlihat dari jalan raya.

Cerita Dewasa Sedarah Ngentot Sepupu Bokeptetangga

Taman yang luas dan ditumbuhi pohon mangga yang rimbun membuat suasana sejuk dan tenang. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, seorang wanita paruh baya membuka pintu dengan senyum ramah.

“Permisi, apakah ini benar-benar rumah Mbak Ayik (juga nama samaran)?” kemudian bertanya. “Oh ya, saya sendiri. Silakan masuk, Pak!” Setelah saya dipersilahkan duduk, saya memperkenalkan diri tanpa basa-basi lagi dan langsung menyatakan tujuan kedatangan saya.

“Ooo, jadi Pak Andika mau jadi PNS juga ya?” “Iya Bu! Saya juga membawa sebotol madu murni sebagai syarat, seperti yang teman saya katakan.” Saya menyerahkan sebotol madu murni kepada Mbak Ayik.

‘Kalau begitu, tolong, Pak Andika, ikut saya!’ Mbak Ayik bangkit dari kursinya sambil membawa sebotol madu yang telah kuberikan tadi. Dia berjalan ke sebuah ruangan di ujung ruangan.

Cerita Sex Ngentot Dengan Mak Fani

Aku mengikutinya dari belakang saat aku melihat gerakan pantatnya yang gemuk membuatku menelan ludah. Sesampainya di kamar yang remang-remang, Mbak Ayik menutup pintu dan menyuruhku melepas pakaianku. “Maaf pak! Silahkan buka baju anda dan silahkan naik ke tempat tidur itu! Kami akan segera memulai ritualnya!” “Semuanya, Bu?” tanyaku malu-malu.

Mbak Ayik tersenyum, “Pak Andika, jangan malu. Anggap saja saya tidak ada. Toh ini juga untuk cita-cita Pak Andika!” Mbak Ayik benar, pikirku. Lagi pula, saya sudah di sini, jadi saya tidak perlu malu lagi.

Sementara Mbak Ayik sedang mempersiapkan ritual, saya segera menanggalkan semua pakaian saya dan kemudian berbaring di tempat tidur yang tidak terlalu empuk. Beberapa saat kemudian, Mbak Ayik datang dan duduk di sebelah saya dengan sebotol madu di tangannya. Sesaat aku melihat Mbak Ayik memandangi tubuhku yang telanjang.

Tatapannya tampak liar, seolah sedang melihat ayam panggang yang siap disantap. Mbak Ayik duduk bersila di sampingku dan mulai menuangkan madu murni ke seluruh tubuhku. Aku memejamkan mata saat tangan lembut Mbak Ayik mulai menyentuh dadaku, menebarkan madu yang lengket ke setiap sudut tubuhku. filmbokepojepang.com

Cerita Sex Ngentot Sambil Tidur

Jari-jarinya yang ramping menari dengan terampil, meremas dada dan putingku yang lebar dan memainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di atasnya. Aku menggigit bibirku sendiri, mencoba mengendalikan aliran darahku yang bergejolak ke selangkanganku.

“Pak Andika sudah punya pacar?” Mbak Ayik minta memecah keheningan. “Um, aku baru saja menikah enam bulan yang lalu, Bu!” “Ummm… jadi mereka masih pengantin baru! Wah, masih panas, Pak!” kata Mbak Ayik dengan nada mengejek. “Ah, Mbak Ayik, ini bisa!” Tanganku tidak sengaja menyentuh lutut Mbak Ayik saat dia menggerakkan tanganku menutupi alat kelaminku.

Saya juga sempat melihat pahanya yang sedikit telanjang. Wah, pahanya juga mulus, pikirku. Tanganku terasa nyaman berlama-lama di paha halus itu. Mbak Ayik melepaskannya saat tanganku mengelusnya. Dia bahkan melebarkan pahanya. Seolah-olah dia memberi tanganku kesempatan untuk bergerak di sepanjang paha bagian dalamnya.

Darahku semakin mendidih saat jemari gesit Mbak Ayik mengusap perutku, membelai rambut halusnya dan memijat perutku yang keras dan keras. “Wah…Tubuh Pak Andika kuat kan? Tinggi lagi. Pak Andika pasti rajin berlatih.” “Ya, setiap enam hari seminggu, setiap pagi dan sore saya mencoba berolahraga, meskipun hanya satu jam.

Cerita Sex Foto

Saya biasanya melakukan rutinitas kebugaran.” “Wow… alangkah baiknya adik Pak Andika tumbuh besar!” “Maksudmu Mbak Ayik, kakak yang mana?” Aku bertanya seperti aku bodoh. “Maksudku adik perempuan ini…” kata Mbak Ayik sambil meremas kejantananku tanpa merasa risih. Ada rasa kaget sekaligus senang dengan perlakuan Mbak Ayik.

Dia mengolesi penisku dengan lembut dengan madu dan kemudian mengocoknya dengan lembut. “opsttt… Nyonya! Bagus…!” erangku girang. Aku pun semakin berani dengan memperlihatkan roknya dan semakin memutar pahanya. Dan ternyata Mbak Ayik bereaksi positif terhadap tindakanku.

Terbukti dia mengangkat pantatnya sedikit sehingga saya bisa mencapai selangkangannya. Wow! Lagi-lagi saya kaget sekaligus senang ketika tangan saya menyentuh bulu-bulu halus di antara selangkangan Mbak Ayik.

Ternyata dia tidak lagi memakai celana dalam. Perlahan aku mulai mengusapkan jariku ke bibir Mbak Ayik yang basah. Mbak Ayik semakin bersemangat dan semakin bersemangat menggoyang-goyangkan penisku. Perlahan batang kejantanan saya mulai membesar dan keras.filmbokepjepang.com

Cerita Dewasa Percintaanku Dengan Pacar Kakakku Cerita 122364

Tanpa rasa jijik, Mbak Ayik mulai menjilati sisa-sisa madu yang menempel di selangkanganku, meremukkan buah zakarku lalu naik untuk menyeka urat-urat kemaluanku yang terulur.

“Apa kabar, Pak? Indah bukan?” tanya Mbak Ayik dari sela-sela aksi. “Ah… enak sekali Bu! Saya belum pernah merasakan kenikmatan ini!” Saya tidak terlalu berpengalaman dalam bidang seks, selama berhubungan dengan istri kami hanya melakukannya dengan cara konvensional.

Namun kali ini, Mbak Ayik memberikan pelajaran yang sangat baru. Sangat nikmat… Terbukti ketika Mbak Ayik dengan lembut memasukkan ujung penisku ke dalam mulut kecilnya, jutaan kenikmatan langsung menghampiriku.

“ohhhh..yeahhh nak, Mbak!” nafasku semakin buruk. Aku mengerang luar biasa, tapi Mbak Ayik masih asyik memainkan penisku di mulutnya. Aku juga semakin berani. Aku melepas roknya. Bahkan Mbak Ayik pun melepas bajunya sendiri. Gila! Di usianya yang masih belia ternyata Mbak Ayik masih memiliki tubuh yang bagus.

Cerita Sex Paling Enak Ml Dengan Mahasiswi Kedokteran

Kulitnya yang putih mulus, Toked-nya yang kencang dan montok serta pantatnya yang bulat membuatku merasa ingin mengunyahnya. Oh, betapa seksinya dukun ini. “wazzz…. penis Pak Andika besar sekali. Hmmmm…. Aku sudah lama menginginkan kontol besar seperti itu. Hhhmmm…!” dengan penuh semangat Mbak Ayik menghancurkan kejantananku lagi.

Kali ini dia mengangkangiku dan mendorong vaginanya tepat di wajahku. Dengan instingku, aku mendekatkan mulutku ke vagina Mbak Ayik yang memerah. Bau yang keluar benar-benar merangsang saraf otak saya untuk menjilatnya.

Aku perlahan menjulurkan lidahku dan dengan lembut mengusap permukaan vaginanya. “Ohhhhh..yahhhhh…benar pak! Terus jilat punyaku….!Oooghhh…ya Tuhan!” Mbak Ayik bersemangat untuk bermain dengan penisku di mulutnya.

Saat tangannya mengguncang batang penisku, kepalanya bergerak ke atas dan ke bawah juga. Sesekali ia mengisap kuat-kuat ujung penisku. Kami duduk dalam posisi ini untuk waktu yang lama, menjilati, mengisap dan menggoyang alat kelamin satu sama lain. Beberapa saat kemudian, Mbak Ayik melepaskan kulumnya.

Cerita Dewasa Hot

‘Apa kabar, Pak Andika, tidak suka?’ tanya Mbak Ayik sambil tersenyum ke arahku. Aku hanya mengangguk pelan sambil menikmati jemari Mbak Ayik yang masih memijat penisku.

“Menurut pengamatan saya, kebanyakan orang yang kontol besar juga punya keinginan yang besar. Saya yakin Pak Andika pasti bisa jadi PNS kali ini.” jelas Mbak Ayik.

“Tapi pertama-tama biarkan aku bersenang-senang dengan ayam besar Pak Andika!” Mbak Ayik duduk di pahaku. Perlahan dia meraih kejantananku dan membawanya ke sarang surgawinya yang basah.

Dia meringis saat ujung penisku mulai menembus memeow hangatnya. Entah karena cengkeraman sempit Mbak Ayik atau penis besar saya, proses penetrasinya lambat tapi enak. filmbokepjepang.com

Kubiarkan Papa Tiriku Menikmati Badanku Yang Seksi Menggairahkan.

Mbak Ayik sepertinya kesulitan memasukkan batang penisku ke dalam buaian. Sampai akhirnya… “Aaauwghh…. Oh Pak Andika! Penismu besar sekali!” Tubuh mulus Mbak Ayik berkilat peluh.

Beberapa kali dia mengambil napas dalam-dalam saat dia membiarkan batang penisku tenggelam ke dalam rongga vaginanya yang sempit. Beberapa saat kemudian, Mbak Ayik mulai berakting. Dengan kedua tangan di dadaku, dia mulai mengayunkan pantatnya ke atas dan ke bawah.

“uuhhhhhh… ohhhh…!” G mendesah senang. Kedua tanganku memegang pinggul Mbak Ayik untuk mengatur gerakan naik turun. Sesekali tanganku juga merangkak ke atas, meraih dua benda kenyal yang bergerak indah dengan gerakan naik turun tubuhnya.

Mbak Ayik menghentak-hentakkan pantatnya liar, menggeliat-geliat di sekujur tubuhku, seperti ular betina yang menjerat mangsanya. Terkadang dia juga membuat bengkak dengan memutar pantatnya sehingga remasan vaginanya terasa kencang. Batang penisku terasa seperti dipelintir dan dipijat ke dalam lubang kesenangan.

Cerita Dewasa Pesta Seks Di Hari Ulang Tahunku

Saya merasa sangat hangat dan baik. Ooouuuhhh… Semakin lama gerakan Mbak Ayik semakin liar dan tak terkendali. Menusuk kejantananku lebih dalam dan tetap menempel di dinding terdalam rongga vaginanya. Napas kami juga bertambah berat, seperti suara lokomotif tua yang bergerak dengan kekuatan terakhirnya.

“Oh, Pak Andika…, saya…sudah…tidak kuat…lagi…! Mbak Ayik menjerit kegirangan di saat yang bersamaan dengan keluarnya magma panas dari rahimnya. Dia mencengkeram dadaku dengan erat. Seperti dia ingin menancapkan kukunya ke gundukan dadaku. “Ooohhh…sebentar lagi Bu! Aku juga hendak pergi… ooohhh… yeaahhh….” Saya juga mempercepat gerakan saya.

Meski Mbak Ayik terlihat lelah, saya masih bisa menopang tubuhnya dan menggerakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah. Beberapa menit kemudian saya merasakan penis saya mengencang dan mulai berdenyut.

Aku mempercepat gerakanku. Saya pukul tubuh Mbak Ayik. Suara derit itu semakin keras. Sampai akhirnya….. “Saya… keluar Bu! Ooohhhh…!” Saya meregangkan luar biasa dengan aliran air mani ke dalam rongga kesenangan Mbak Ayik.

Cerita Sex Rejeki Ngentot Gratis Dengan Wanita Kesepian

Seketika tubuhku lemas. Saya tidak sanggup lagi menanggung beban Mbak Ayik yang ada di atas saya. Dia merosot di atasku sementara penisku masih di vaginanya yang hangat. Dalam hati saya kagum

#Cerita #Seks #Ngentot #Dewasa

Cerita Ngentot Terjebak Hutang Budi Dengan Atasan Terbaru Malam Ini

Brak brak brak…!!!

Beberapa kali aku menggebrak meja yang ada di depanku. Sementara wanita itu masih terus menutup wajahnya, dia masih terus menangis. Wanita itu adalah Siti, istriku. Dia sejak tadi sudah menangis, sejak dia mulai menceritakan apa yang dia alami kepadaku. Cerita yang begitu menyayat hatiku. Aku benar-benar marah, tapi bukan kepada dirinya, karena aku tahu dia hanya menjadi korban disini. Aku marah kepada keadaan, dan orang yang telah membuat Siti menjadi begini.

Namaku Krisna, 29 tahun. Dan istriku, Siti Wardhani, 26 tahun. Kami belum 2 tahun menikah, dan sampai sekarang belum dikaruniai anak. Aku bekerja sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta, sedangkan istriku bekerja sebagai PNS di sebuah dinas pemerintahan di kota kami.

Sedikit tentang istriku, dia adalah wanita yang sangat cantik dan menawan. Aku sudah memacarinya sejak lama, sejak dia menjadi mahasiswa baru dan kebetulan saat itu aku yang menjadi pembina di kelompok ospeknya. Hanya sebulan setelah ospek, dia sudah resmi menjadi pacarku. Terhitung sampai sekarang, kami sudah hampir 8 tahun bersama. Tapi selama berpacaran kami tak pernah melakukan hal-hal yang dilarang. Aku baru benar-benar menyentuh tubuhnya setelah kami sah menjadi suami istri.

Setelah menikah denganku, Siti memutuskan untuk memakai jilbab. Dia bilang mau menjaga penampilan dan dirinya, sehingga hanya akulah lelaki yang berhak atas dirinya. Tentu saja hal itu membuatku semakin menyayanginya.

Banyak temanku yang merasa iri dengan keberuntunganku bisa mendapatkan wanita secantik Siti. Akupun juga bersyukur akan hal itu, dan itulah yang selalu kujaga sampai sekarang. Tapi sayangnya, malam ini, aku benar-benar merasa menjadi orang yang sangat bodoh, karena gagal menjaga istriku. Telah ada lelaki lain, yang berhasil memaksanya menyerahkan tubuhnya. Dan itulah yang saat ini membuatku beberapa kali menggebrak meja yang ada di depanku.

Siti tadi sudah menceritakan semuanya, dengan sangat detail. Dia bersumpah tidak ada yang disembunyikan lagi. Aku tahu Siti, dia tidak mungkin berbohong, dan itulah yang semakin membuatku marah kepada diriku sendiri.

Cerita ini dimulai dari beberapa minggu yang lalu. Saat itu Siti terpaksa harus lembur dan pulang agak petang. Sedangkan aku, yang memang kerja di kantor swasta, memang sudah sering pulang telat. Aku memang jarang mengantar jemput Siti karena dia membawa kendaraan sendiri, seperti halnya hari itu.

Sebenarnya saat itu Siti tidak sendiri lemburnya, hampir semua temannya juga lembur, entah karena mau ada apa, setahuku sih mau ada rapat tahunan, atau semacamnya lah. Mereka baru selesai sekitar jam 7 malam. Meskipun tidak terbiasa pulang jam segitu, tapi karena jarak rumah dengan kantor yang tidak terlalu jauh, dan juga kondisi jalanan yang cukup terang dan ramai, Siti tak khawatir pulang sendiri.

Setelah berpamitan dengan teman-temannya yang kebetulan tidak ada yang searah dengan Siti, diapun pulang naik motor maticnya. Tapi baru beberapa puluh meter meninggalkan gerbang kantornya, tiba-tiba motor Siti dipepet oleh 2 buah motor yang memaksanya bergerak ke pinggir.

“Berhenti, atau kami bunuh!” bentak seorang diantaranya.

Siti tak bisa melihat dengan jelas wajah keempat orang yang mencegatnya karena mereka semua memakai penutup wajah. Pria yang membentak tadi juga menodongkan parang ke arahnya, hingga nyali Sitipun semakin ciut. Mau tak mau diapun meminggirka motornya, diikuti oleh keempat orang yang naik 2 motor itu.

“Ampun bang, jangan sakiti saya. Ambil aja motornya, saya jangan diapa-apain.”

“Heh diem lu. Gue yang nentuin bukan elu!!!”

Lagi-lagi digertak seperti itu Siti makin ciut nyalinya. Dia tak berani berbuat apa-apa, hanya terus berdoa, semoga para begal ini hanya mengambil motornya, lalu pergi tanpa melukainya.

“Siniin tas lu!!”

Tiba-tiba salah seorang begal yang membawa parang tadi mendekati Siti, dan merebut tasnya dan langsung mengacak-acak isinya. Handphone Siti diambil, dompetnya juga, dibuka dan diambil semua uang yang ada. Tapi anehnya pria itu tak langsung membuang dompet Siti, tapi masih seperti melihat sesuatu.

“Hmm, Siti Wardhani. Cantik juga foto lu, coba buka helm sama masker lu!!!”

Saat itu Siti memang masih memakai helm dan maskernya. Karena lagi-lagi ditodong dengan parang, Sitipun menurutku kemauan begal itu. Sementara salah satu sedang mengancam Siti, ketiga temannya terlihat berjaga-jaga melihat kondisi, yang entah kenapa malam itu lebih sepi dari biasanya.

Siti berharap ada seseorang atau siapapun yang lewat untuk bisa menolongnya, tapi sejak tadi dia keluar dari kantornya, tidak ada satupun kendaraan yang mengarah kesini.

“Woy buruan, mau lu gue bacok?!”

“Ii,, iya bang.”

“Wuiih, beneran cantik rupanya lu ya. Eh bro, gimana kalau kita bawa sekalian ni perek, buat senang-senang malam ini.”

“Wah boleh juga tuh bro, cantik banget, udah lama gue nggak ngewe cewe secantik ini, jilbaban lagi. Udah angkut aja.”

Siti mendadak semakin takut, mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh para begal itu. Dan saat itu tiba-tiba muncul keberaniannya untuk membela diri. Dia tak mau sampai jatuh ke para begal itu, dia ingin melawan mereka, semampunya.

Brak!!!

“Anjing, bangsat!!!”

Dengan sisa keberaniannya, Siti melemparkan helm yang dia pegang sekerasnya ke wajah begal itu. Diapun langsung lari. Agak susah karena dia memakai rok panjang sehingga langkahnya tak begitu lebar.

“Kejar dia. Bangsat tuh cewek, gue habisin entar!!”

Siti sempat melihat ke belakang dan keempat pria itu langsung mengejarnya. Karena panik Siti malah masuk ke sebuah lokasi perkantoran, berharap ada seseorang disana, minimal petugas keamanan yang bisa dia mintai tolong, tapi sialnya tidak ada seorangpun disana. Saat hendak berbalik, ternyata para begal itu sudah berhasil menyusulnya.

“Mau lari kemana lu hah?”

“Ampun bang, tolong ampuni saya.”

“Ampun lu bilang? Lu udah lemparin helm ke muka gue, sekarang minta ampun? Gue bikin perkosa abis lu, baru gue ampunin. Cepet tangkep dia!!!”

“Siap boss!”

Dua orang langsung maju menyergap Siti. Siti yang tak bisa apa-apa dengan mudahnya diringkus oleh kedua penjahat itu. Dia langsung dijatuhkan ke tanah, dengan kedua kaki dan tangannya dipegangi dengan kuat oleh kedua pria itu.

“Hahaha, sekarang lu rasain akibatnya. Malem ini, gue nikmatin tubuh lu abis-abisan, haha.”

“Ampun, tolong jangan. Jangaaaan…”

Pria yang dilempar wajahnya dengan helm oleh Siti tadi langsung menindih tubuh Siti. Siti tak bisa bergerak karena tangan dan kakinya masih dipegangi. Pria itu dengan leluasa menjamah tubuh Siti.

Breeet…

Dengan sekali tarikan, kancing kemeja seragam Siti langsung lepas semua, membuat tubuhnya terbuka, dan hanya tertutup oleh bhnya saja. Tak puas sampai disitu, lelaki itu juga merobek bh Siti dengan parangnya, kini sempurnalah tubuh bagian depan Siti terbuka.

“Aaaaaaa jangaaaaaaann…”

“Hmmmm nyyymmmm enaak benget nih susu, kenyal, mantap, hahaha.”

Pria itu langsung melumat buah dada Siti yang memang cukup besar dan masih sekal itu. Dia begitu kasar memperlakukan Siti, sedangkan Siti hanya bisa berteriak sambil menangis, tanpa bisa melawan karena dia rasakan cengkraman di kedua kaki dan tangannya semakin erat. Mungkin mereka yang memegangi Siti ikut bernafsu juga melihat tubuh indahnya yang terbuka dan sedang dikerjai oleh temannya itu.

“Hei apa apaan ini! Cepat lepaskan wanita itu!”

Tiba-tiba terdengar teriakan seorang pria dari belakang mereka.

“Paa,, paak Yanto, tolong pak..”

Lelaki itu ternyata adalah Yanto, atasan Siti di kantornya. Yanto nampak berdiri dengan wajah penuh amarah.

“Brengsek, gangguin aja. Mau mampus lu?!”

Pria yang tadi mencumbui Siti lalu bangkit dan langsung menyerang Yanto, tapi terlihat Jalam dengan mudah menghindar, bahkan memukul balik si begal itu. Pertarungan mereka berlanjut dan Jalam berhasil membuat parang yang dipegang pria itu terlepas. Saat temannya akan membantu, tiba-tiba Yanto mengeluarkan pistol dari balik bajunya.

“Kalau masih ingin hidup, cepat tinggalkan tempat ini!” bentak Yanto.

“Jangan mau dibohongi, itu pasti cuma pistol mainan,” ucap si begal kepada temannya.

Dooorrr…

Tiba-tiba Yanto menembakkan pistol itu. Tentu saja keempat begal itu menjadi ketakutan, dan langsung lari begitu saja. Yanto mengambil parang yang tadi dibawa begal itu dan membuangnya, berjaga-jaga agar para begal itu tidak menyerang lagi dengan tiba-tiba.

“Siti, kamu nggak papa?” tanya Yanto mendekat.

Siti buru-buru merapikan pakaiannya, meskipun Yanto sempat sekilas melihat tubuh Siti yang terbuka.

“Ii,, iya, saya nggak papa pak. Terima kasih udah nolongin saya.”

“Ya udah, cepat rapikan baju kamu, kita pergi dari sini.”

Siti kemudian berdiri, dia mengikuti langkah Yanto. Mereka berjalan menuju ke tempat motor Siti tadi ditinggalkan. Dan ternyata para begal itu sudah kabur tanpa membawa motor Siti. Tas dan seisinya juga masih tergeletak disitu, hanya uangnya saja yang raib karena tadi sempat dimasukan kantong oleh begal itu.

“Kamu bisa pulang sendiri Rum?” tanya Yanto.

“Hemm,,,”

Siti terlihat kebingungan. Sebenarnya dia masih bisa mengendarai motornya sendiri untuk pulang meskipun masih agak takut. Tapi masalahnya, kancing baju Siti sudah terlepas semua, kalau dia membawa motor, dia bingung bagaimana kalau nanti bajunya terbuka dengan bebas. Rupanya Yanto menyadari hal itu.

“Ya udah, kalau gitu aku anterin kamu pulang aja.”

“Motor saya gimana pak?”

“Tinggal aja dulu, entar aku suruh orang buat ngambil.”

Akhirnya Sitipun diantar oleh Yanto dengan mobilnya. Dalam perjalanan, tak henti-hentinya Siti berterima kasih pada Yanto, karena kalau lelaki itu tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada dirinya.

“Sekali lagi terima kasih pak Yanto, kalau bapak nggak datang, saya nggak tahu apa jadinya.”

“Udahlah, tadi cuma kebetulan aja aku lewat. Terus aku lihat motor kamu ada disitu, tas kamu juga berserak isinya, aku curiga ada apa-apa. Dan bener, aku denger teriakan kamu dari tempat itu tadi, makanya aku datengin. Untungnya aku bawa senjata ini, jadi bisa buat nakutin mereka.”

“Buat nakutin? Jadi itu bukan pistol sungguhan pak?”

“Bukan. Ini cuma mainan, kayak yang dibilang begal itu tadi, tapi emang mirip banget sama aslinya, dan suaranya juga kayak pistol asli kan?”

“Oh gitu? Tapi ya apapun itu, saya cuma bisa ngucapin makasih pak. Saya berhutang budi banget sama pak Yanto.”

“Ah udahlah, nggak usah dipikirin.”

Saat sampai di rumah, Siti menyerahkan kunci motor dan juga surat-suratnya kepada Yanto. Yantopun pergi tanpa mampir, katanya tak enak dengan tetangga, apalagi saat itu aku memang belum pulang.

Saat aku pulang, dan kulihat tidak ada motornya di garasi, sempat kutanyakan kepada Siti, dan dia bilang kalau motornya bocor dan terpaksa ditinggal di kantor, tadi dia pulang diantar oleh Yanto. Saat itu Siti tidak menceritakan kejadian yang sesungguhnya, karena takut membuatku khawatir. Pakaiannya yang sudah hilang semua kancingnya juga disembunyikan, sedangkan bhnya yang robek juga sudah dibuang.

Sejak saat itulah Siti menjadi semakin dekat dengan Yanto di kantor. Rasa hutang budinya lah yang membuatnya seperti itu. Yanto sendiri terlihat lebih perhatian kepada Siti, tapi masih dalam batasan yang wajar. Tak pernah Yanto menggodanya, mengajaknya pergi berdua juga tak pernah. Paling mentok Siti diajak makan siang, itupun tak pernah hanya berdua, selalu ramai-ramai dengan teman kantornya yang lain.

Sampai peristiwa itu akhirnya terjadi juga. Minggu lalu tepatnya, saat itu Yanto mendapat undangan untuk mengikuti seminar di luar kota. Undangan itu untuk 2 orang, dan Yanto akhirnya mengajak Siti. Siti sebenarnya merasa tak enak kalau harus pergi hanya berdua saja, tapi mengingat kebaikan dan jasa Yanto kepadanya, Siti juga tak sampai hati menolaknya.

Akhirnya Siti minta ijin kepadaku. Saat itu aku mengijinkan karena Siti bilang selain dia dan Yanto, ada 2 orang lagi yang pergi bersama mereka. Akupun tak menaruh curiga sama sekali, dan saat itu tak ada prasangka buruk sama sekali. Siti berangkat pada hari kamis, dan baru akan pulang hari minggunya.

Dia dan Yanto berangkat ke kota ini dengan menggunakan mobil Yanto. Perjalanan yang mereka tempuh sekitar 3 jam. Dalam perjalanan itu Siti juga tak melihat ada hal yang mencurigakan dari Yanto, semua terasa biasa. Kecuali memang Yanto mulai sedikit terbuka dalam bicara, tidak seformal saat di kantor. Tapi itu menurut Siti masih wajar, karena tidak menyinggung hal yang bersifat pribadi.

Sesampainya di tempat tujuan, mereka langsung menuju ke hotel yang menjadi tempat acara. Rupanya panitia hanya menyiapkan 1 kamar untuk 1 undangan, yang artinya Siti harus sekamar dengan Yanto. Tapi saat itu Yanto menolak dan meminta 2 kamar meskipun harus membayar. Akhirnya setelah negosiasi yang cukup alot dengan pihak panitia dan hotel, mereka mendapatkan 2 kamar yang bersebelahan dan dihubungkan oleh sebuah connecting door.

Siti merasa lega karena tak harus sekamar dengan Yanto. Dia juga semakin menaruh respek pada Yanto karena dia yang berusaha agar tak sampai sekamar dengannya. Terlihat Yanto sangat menghormati Siti. Padahal saat itu, setelah acara berlangsung baru Siti tahu kalau selain mereka, ada beberapa pasang peserta yang statusnya sama seperti dirinya dan Yanto, yaitu atasan dan bawahan, tapi mereka tetap sekamar.

“Yaa, kamu tahulah Rum, apa yang akan mereka lakukan jika sekamar kan?”

“Hmm, tapi mereka bukan pasangan yang sah kan pak?”

“Ya jelas bukan. Mereka pasangan selingkuh, selingkuh yang terfasilitasi. Kayak gitu udah bukan hal yang aneh Rum, udah sering aku lihat yang kayak gitu.”

Siti hanya mengangguk saja, semakin besar rasa hormatnya kepada Yanto.

Acara yang diikuti oleh Siti sebenarnya terasa membosankan. Seminar dimulai hari jumat pagi, itupun hanya sampai sore jam 3. Setelah itu peserta bebas mau apa saja. Sedangkan hari sabtunya, acaranya santai, hanya senam bersama, setelah itu penutupan. Tapi karena sudah terlanjur booking hotel sampai hari minggu, jadi mereka tetap stay disini. Apalagi katanya malam harinya bakal ada acara hiburan.

Siti sebenarnya sudah ingin pulang, karena merasa acara ini sama sekali tak ada manfaatnya untuk dia, tapi dia merasa tak enak dengan Yanto, sehingga terus saja mengikuti setiap acara sampai selesai.

Pada sabtu pagi, setelah senam bersama, saat sedang beristirahat tiba-tiba ada seseorang yang mendekati Siti. Siti tidak mengenalnya, tapi lelaki itu berkali-kali coba menggoda Siti, menanyakan dengan siapa datang kesini, sampai menanyakan nomer handphone ataupun PIN BBM Siti, yang sama sekali tak diberikan, namun orang itu mulai memaksanya.

“Ehem, ada apa ya pak? Kok mepet-mepet istri saya dari tadi?”

Tiba-tiba Yanto datang dari belakang orang itu. Orang itu sempat terkejut, lalu kembali bersikap santai.

“Oh, jadi ini istri anda? Saya tidak tahu ada peserta yang suami istri disini, apa benar ini istri anda?” orang itu meragukan pernyataan dari Yanto.

“Hmm, jadi apa yang bisa saya buktikan kepada anda supaya percaya kalau dia benar-benar istri saya?” ucap Yanto yang tiba-tiba langsung memeluk dan mencium pipi Siti.

Siti sempat terkejut tapi dia tahu Yanto melakukan itu untuk meyelamatkan situasi, karena itulah dia balas memeluk Yanto.

“Oh maaf kalau begitu. Saya hanya mengagumi istri anda. Istri anda benar-benar mempesona. Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu. Dan saya minta maaf kalau sudah bikin anda tidak nyaman nyonya.”

Pria itu segera pergi setelah mendapat jawaban dari Siti berupa senyuman. Tanpa menunggu lama Yanto yang masih memeluk tubuh Siti mengajaknya pergi. Setelah agak jauh, dia melepaskan pelukan itu dan minta maaf pada Siti.

“Rum, maaf banget ya kalau aku udah lancang. Aku sama sekali nggak ada maksud apa-apa, hanya saja itu satu-satunya cara biar lelaki itu percaya dan segera pergi.”

“Iya pak, nggak papa, saya maklum kok.”

“Dia itu Bonar, pemimpin salah satu dinas pemerintahan di kota ini. Dia sudah terkenal playboy, suka main cewek. Di acara kayak gini, selain dengan pasangan yang dia bawa, dia udah sering nyari wanita lain buat dia tiduri.”

“Jadi, pak Yanto kenal sama dia?”

“Kenal sih nggak, cuma tahu aja. Reputasi buruknya itu udah banyak yang tahu. Karena itulah aku harus bertindak kayak gitu tadi, jadi, aku minta maaf ya?”

“Oh iya pak. Harusnya saya yang berterima kasih sama bapak.”

Meskipun sebenarnya ada rasa tidak terima, karena Yanto adalah lelaki pertama yang mencium Siti selain aku, tapi mempertimbangkan kondisinya tadi, dia bisa menerimanya, bisa memakluminya. Hal itu memang sepertinya dilakukan untuk menghindarkan bahaya yang lebih jauh untuk Siti.

Tapi karena mereka masih berada di hotel itu sampai keesokan harinya, mau tak mau jika keluar kamar, Siti harus mau bersikap lebih mesra dengan Yanto. Mereka makan siang di restoran hotel, dan kebetulan sekali meja makan yang mereka tempati berdekatan dengan pria yang tadi mendekati Siti. Pria itu duduk dengan seorang wanita cantik, tapi terus-terusan melirik ke arah Siti, membuat Siti merasa tak nyaman. Tapi genggaman tangan dari Yanto bisa sedikit menenangkannya.

Saat itu, sekali lagi Yanto berbisik kepada Siti. Dia meminta maaf tapi mereka harus berakting layaknya suami istri. Siti bingung harus bersikap seperti apa, karena selama ini dia hanya pernah berhubungan denganku. Sebelumnya, Siti tak pernah berpacaran. Melihat kebingungan Siti, Yanto terus menggenggap tangan Siti, dan lama kelamaan itu membuatnya nyaman.

Yang membuat Siti risih sebenarnya bukan genggaman tangan Yanto, tapi lelaki yang tadi menggodanya, tak pergi juga dari tempatnya, padahal sang wanita yang duduk bersamanya sudah berulang kali mengajaknya pergi. Akhirnya justru Yanto yang berinisiatif mengajak Siti pergi. Lega sudah rasanya, terbebas dari tatapan liar lelaki itu, meskipun Siti kembali harus merelakan tubuhnya dipeluk oleh Yanto.

Setelah makan siang itu Siti dan Yanto kembali ke kamar mereka masing-masing. Tak banyak yang dilakukan oleh Siti. Dia sempat beberapa kali berkirim pesan denganku, tapi karena aku sedang kerja jadi tak bisa langsung membalasnya. Meskipun hari sabtu, dan meskipun aku kerja di swasta, tapi aku tetap masuk seperti biasa.

Hingga sejam lebih Siti berdiam diri di kamar sampai akhirnya ada WA masuk dari Yanto.

“Siti, kamu lagi sibuk nggak?”

“Nggak pak, ada apa?”

“Kamu bosen nggak sih? Aku bosen banget nih. Gimana kalau kita keluar, sekalian cari oleh-oleh?”

Siti sempat berpikir sejenak. Dia memang belum berpikir untuk mencari oleh-oleh, karena juga keluar kota memang dia jarang sekali pulang membawa oleh-oleh. Tapi karena dia juga merasa bosan di kamar, akhirnya dia menyetujui usul dari Yanto.

“Boleh pak, kebetulan saya juga lagi bosen.”

“Ya udah, 10 menit lagi ya.”

Tanpa menjawab Siti merapikan dirinya. 10 menit kemudian dia sudah berjalan ke lift dengan Yanto. Dan sialnya lagi, di lift mereka bertemu dengan lelaki yang dari tadi pagi menggoda Siti. Lagi-lagi Siti harus berakting layaknya istri dari Yanto. Yantopun tanggap, dan langsung merangkul Siti. Sampai di bawah mereka cepat-cepat keluar hotel dan menuju ke parkiran.

Sekitar 2 jam mereka berkeliling mencari oleh-oleh. Sebenarnya tak banyak yang dibeli, mereka menghabiskan waktu agar tak buru-buru kembali ke hotel dan menghadapi rasa bosan lagi disana. Saat jalan-jalan itu, entah sadar atau tidak tangan Siti tak lepas dari genggaman Yanto. Tapi hanya sebatas itu, tidak lebih. Saat itu Siti berpikir kalau Yanto mungkin ingin menjaganya, karena kondisi di tempat mereka jalan-jalan yang cukup ramai.

Dalam perjalanan pulang mereka banyak bercanda. Suasana diantara keduanya sudah lebih cair dari biasanya. Siti juga sudah mulai bisa menanggapi candaan Yanto, yang sebelumnya selalu dia tahan-tahan. Sampai di hotel, mereka kembali ke kamar masing-masing. Sebelumnya Yanto sempat bertanya apakah Siti ikut acara makan malam atau tidak.

“Rum, nanti kan ada gala dinner, kamu mau ikut nggak?”

“Hmm, nggak tahu pak. Pak Yanto ikut nggak? Kalau pak Yanto ikut kan berarti saya harus ikut.”

“Aku sih dapet undangan. Tapi kalau kamu capek ya istirahat aja nggap papa.”

“Hmm, kalau gitu saya ikut aja deh pak.”

“Ya udah kalau gitu, dandan yang cantik ya.”

“Hehe, siap boss.”

Jam 7 malam Siti sudah bersiap. Seperti pesan Yanto tadi, malam ini dia berdandan cukup cantik. Belum pernah sebelumnya dia berdandan secantik itu untuk urusan dengan orang kantornya, termasuk Yanto. Biasanya dia berdandan seperti itu jika pergi denganku. Siti kemudian keluar kamar, dimana Yanto sudah menunggunya.

“Wow, kamu bener-bener beda malem ini, cantik banget,” puji Yanto.

“Makasih pak,” jawab Siti tersipu.

“Ya udah yuk?”

Yanto menggerakkan tangannya, tanda meminta Siti untuk merangkulnya. Sitipun tanpa sungkan lagi melakukannya, jadilah mereka berjalan bergandengan. Acara makan malam itu tidak terlalu ramai, karena tidak semua peserta seminar mendapat undangan. Hanya orang-orang tertentu, yang menurut Siti mereka adalah para senior. Bahkan Yanto terlihat paling muda diantara mereka.

Semua mata tampak tertuju pada pasangan Yanto dan Siti. Para lelaki tampak mengagumi kencantikan Siti malam ini, dan itu membuatnya senang. Terlebih Yanto, dia terlihat merasa bangga dengan kondisi itu.

Makan malam itu berlangsung singkat. Sebenarnya, setelah acara makan malam masih ada lagi acara hiburan, tapi Yanto kemudian mengajak Siti untuk kembali ke kamar saja.

“Rum, masih mau disini apa balik ke kamar?”

“Pak Yanto gimana?”

“Aku bosen disini, balik aja yuk?”

“Ya udah pak, saya juga, hehe.”

Akhirnya mereka berdua kembali ke kamar. Tapi Yanto mengajak Siti untuk masuk ke kamarnya. Awalnya Siti sempat ragu, tapi Yanto bilang dia hanya ingin ada teman ngobrol saja, karena belum mengantuk, Sitipun akhirnya mau.

Di dalam kamar, Yanto menyalakan TV dan terlihat mengeluarkan sebuah botol dari dalam kulkas. Dia menyiapkan 2 buah gelas, lalu menuangkan isi botol itu ke masing-masing gelas, lalu memberikan salah satunya kepada Siti.

“Ini apa pak?”

“Itu cuma wine, tenang aja nggak ada alkoholnya kok, aman,” jawab Yanto sambil tersenyum.

Siti termasuk wanita yang lugu, dan dia percaya saja dengan ucapan Yanto. Dia sama sekali tak mengerti minuman-minuman seperti itu. Dia hanya pernah mendengar kalau minuman keras itu rasanya pahit, saat dia mencicipi minuman itu ternyata rasanya enak, dan diapun menegaknya. Mereka kemudian terlibat obrolan santai, sampai tanpa disadar Siti dia sudah beberapa kali mengisi gelasnya. Dan kini, dia mulai merasakan kepalanya pusing, dan tubuhnya agak menghangat. Dia juga merasa kalau badannya mulai lemas, bahkan tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas yang dipegangnya.

“Loh kamu kenapa Rum?”

“Hmm nggak tahu pak, rasanya pusing, dan badan saya lemas.”

“Waduh, kayaknya kamu kebanyakan minum ini deh. Mau balik ke kamar aja?”

“Iya pak, tapi saya lemes banget.”

“Ya udah, ayo aku bantu.”

Yanto kemudian menghampiri Siti. Dia bantu Siti untuk berdiri, tapi karena tubuh Siti yang lemas, dia malah jatuh ke pelukan Yanto. Siti yang merasa pusing hanya menutup matanya. Dia hanya merasa kalau tubuhnya diangkat oleh Yanto, lalu direbahkan di ranjang. Dia tak tahu itu ranjang di kamarnya, atau masih di kamar Yanto. Dia masih menutup matanya karena masih pusing.

Siti kemudian merasakan kalau sepatu hak tinggi yang dipakainya mulai lepas satu persatu dari kakinya. Setelah itu dia merasa ranjangnya bergoyang. Saat membuka mata, ternyata Yanto sudah berada di sampingnya.

“Kamu masih pusing?”

Siti hanya mengangguk dengan tatapan sayu. Yanto hanya tersenyum.

“Ya udah, tutup lagi aja mata kamu, aku bantu biar pusingnya hilang.”

Siti tak mengerti apa maksud Yanto, tapi dia menuruti saja kata-kata lelaki itu. Saat Siti menutup matanya, dia merasakan keningnya dipijat oleh Yanto dengan lembut. Pijatan itu mulai membuatnya rileks, sehingga dia diam saja dan tetap terpejam.

Pijatan Yanto kemudian turun ke tengkuk Siti. Karena posisinya agak susah, Yanto mengarahkan kepala Siti agar menengok ke samping, sehingga dia bisa memijat tengkuknya. Tengkuk Siti adalah salah satu titik sensitifnya. Dia suka tidak tahan kalau disentuh di bagian itu, tapi saat ini dia justru merasakan nyaman dari sentuhan Yanto itu.

“Hhmmm…”

Siti bergumam tak jelas saat Yanto terus memijat tengkuknya. Perlahan-lahan Siti merasa semakin nyaman, dan tak tahu lagi apa yang sedang dilakukan oleh Yanto. Sampai akhirnya Siti terkejur dan membuka matanya. Dia terbelalak karena tangan Yanto yang tadi memijat tengkuknya kini sudah berada di payudaranya, sedang meremasnya.

“Bapak ngapain? Jangan paaak..”

“Udah kamu rileks aja sayang, ini biar pusingmu hilang.”

Siti berusaha berkelit. Dia berusaha menggerakkan tangannya untuk menepis tangan Yanto, tapi tangannya sangat lemas, tak bertenaga, jadi hanya terkesan Siti memegang tangan Yanto tanpa berusaha menyingkirkannya.

“Udah Siti sayang, kamu jangan nolak ya. Inget lho, kalau bukan karena aku, kamu udah diperkosa para begal itu tempo hari. Anggep aja ini balas budimu kepadaku.”

“Paak jangan gini, saya udah punya suami.”

“Iya aku tahu, dan karena itu aku makin penasaran sama kamu, sama tubuh kamu.”

“Paaak jangaahhmmmpp…”

Tak sampai menyelesaikan ucapannya, bibir Siti langsung dilumat oleh Yanto. Lelaki itu menciumi bibir istriku dengan sangat bernafsu. Hilang sudah sosok Yanto yang simpatik dan membuat Siti menaruh rasa hormat, berganti dengan Yanto yang bagaikan binatang buas yang siap menerkam mangsanya yang sudah tak berdaya.

Mendapati kondisinya yang lemah dan tak bisa melawan itu membuat Siti menangis. Air matanya turun tak tertahan. Dia berusaha mengatupkan bibirnya namun terlambat, lidah Yanto sudah masuk menjelajah isi mulut istriku. Cukup lama Yanto mengecup madu kenikmatan dari bibir istriku, kemudian melepaskannya. Tawanya terlihat sangat memuakkan bagi Siti saat ini.

“Sudahlah, kamu pasrah saja sayang. Kalau kamu nggak mau nurut, aku bakal kasih tubuh kamu ke begal-begal suruhanku tempo hari itu.”

Betapa terkejutnya Siti mendengar ucapan Yanto. Rupanya para begal itu adalah suruhannya. Itu berarti semua ini sudah direncanakan dengan matang oleh Yanto. Pantas saja waktu itu para begal itu dengan mudah dia kalahkan. Bahkan saat kabur, tak satupun barang berharga milik Siti yang dibawa. Kini Siti menyesali dirinya sendiri, yang dengan polosnya masuk ke perangkap Yanto.

Yanto kemudian berdiri dan melepaskan pakaiannya satu persatu. Kesempatan ini ingin digunakan Siti untuk kabur. Tapi sekali lagi, badannya sudah terlalu lemas, tak mampu bergerak. Dia akhirnya hanya bisa menatap tubuh Yanto yang sudah telanjang bulat dengan sangat ketakutan. Dia bisa melihat penis Yanto yang belum sepenuhnya ereksi, tapi besarnya sudah sama seperti punyaku yang sudah tegang maksimal.

Tidak heran memang, karena selain fisik Yanto yang lebih tinggi dan besar daripada aku, dia juga masih memiliki darah keturuan India dari keluarga ayahnya, pantas barang pusakanya pun lebih besar dan panjang daripada punyaku.

Yanto kemudian bergerak lagi menindih Siti. Dia kemudian langsung mencumbui Siti. Siti hendak menolak, hendak melawan, tapi sama sekali tak bisa. Hanya air matanya yang terus turun sampai membasahi jilbabnya.

Dalam cumbuannya itu, Yanto juga mulai melolosi pakaian Siti satu persatu. Gaun panjang Siti dia buang begitu saja, begitu juga dengan bh dan celana dalamnya. kini Siti hanya tinggal memakai jilbab yang sengaja tak dilepas oleh Yanto. Yanto sesaat memandangi tubuh istriku yang indah. Tubuh Siti langsing, perutnya masih rata. Buah dada 34B nya masih sangat kencang. Pinggulnya melebar sempurna, dengan bokong yang sangat montok. Rambut kemaluannya selalu dicukur habis sehingga terlihat sangat mulus. Ditambah kulitnya yang putih bersih tanpa cacat, membuat nafsu Yanto membuncah tak karuan.

Tanpa menunggu lebih lama, Yanto langsung menyerang tubuh istriku yang lemah tak berdaya. Tak seinchipun jengkal tubuh Siti yang terlewat dari jelajahan lidahnya. Siti merasa bergidik dengan kelakuan Yanto. Dia berkali-kali memohon agar Yanto menghentikan perbuatannya itu. Tapi siapa yang mau mendengar, saat tubuh sempurna seorang bidadari tergolek tanpa penutup di depannya.

“Aaaaah paaak jangaaaann…”

Siti merintih pelan saat kedua kakinya dibuka lebar oleh Yanto. Tak menunggu lama Yanto dengan lidahnya langsung menjilati bibir kemaluan Siti, sesuatu yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya organ kewanitaan Siti mendapatkan jilatan seorang lelaki, dan itu bukan dari aku, suaminya.

Siti merasakan sangat geli, tapi juga sangat terhina. Dia makin menangis, mendapati tubuh yang selama ini dia jaga hanya untukku, dengan bebas dijamah oleh orang lain, tanpa sedikitpun dia bisa melawan. Jilatan Yanto terasa luar biasa bagi Siti, tapi dia mencoba untuk menolak rasa itu. Dia masih mengingat statusnya sebagai istriku, dan mengingat kondisi ini adalah tak ubahnya sebuah perkosaan.

Tapi Siti hanya perempuan biasa yang memiliki batasnya. Akhirnya permainan lidah Yanto yang sudah sangat berpengalaman itu mampu menjebol pertahanan Siti. Tanpa bisa ditahan lagi, gelombang orgasme Siti datang begitu saja, dan Yanto dengan rakus menjilati cairan dari vagina Siti itu.

Sudah begitu, Yanto tak langsung menghentikan perbuatannya. Dia masih mengulanginya, sampai akhirnya Siti mendapatkan orgasmenya yang kedua, yang membuat nafasnya begitu terengah. Dia bahkan sampai menutup matanya, antara menikmati rasa nikmat itu, dan rasa penyesalan karena tak bisa mengontrol dirinya, hingga dibuat orgasme oleh pria lain.

Siti kembali membuka mata saat dia rasakan tubuh Yanto mulai bergerak. Dia mulai semakin merasa ketakutan saat tubuh lelaki itu mulai disejajarkan dengan pinggangnya. Yanto mulai menggesek-gesekkan ujung penisnya yang besar itu di bibir vagina Siti yang sudah cukup basah. Siti semakin menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Jangan paaak, sayaa mohon jangaaaan…”

“Hahaha, udah nikmatin aja sayang. Aku hanya ingin memberimu kenikmatan, bukan menyakitimu.”

“Jangan paaa aaaaaakkkhhhh…”

Siti mulai menjerit saat kepala penis yang besar itu mulai menyeruak masuk ke bibir vaginanya. Siti merasakan sakit saat penis itu masuk meskipun baru kepalanya saja, karena ukurannya yang terlalu besar untuknya.

“Uuugh, sempit bener sayang, bener-bener nikmat.”

“Aaahh udaahhh, jangaan lagiiii…”

Tak mengindahkan kata-kata Siti, Yanto terus menekankan penisnya perlahan hingga setengahya tertanam di vagina Siti. Siti semakin kelojotan, kepalanya sampai terangkat, bibirnya terbuka lebar dan matanya tertutup rapat. Separuh penis Yanto sudah sangat menyakitinya, dan kata Siti, itu sudah seperti penisku yang hampir masuk semuanya.

“Aaaaarrrggghhhh…”

Pekik Siti saat tiba-tiba penis itu amblas semua di dalam vagina Siti. Air mata kembali turun mengalir dari matanya. Sakit dan perih, itulah yang dirasakan Siti di kemaluannya. Penis ini terlalu besar untuknya. Dia merasa seperti ada bagian dari vaginanya yang dibuka dengan paksa, yang selama ini tak terjangkau olehku. Dia juga merasakan kepala penis Yanto mentok sampai menekan bibir rahimnya, dan itu sangat menyakitkan untuknya.

“Gilaa, memek kamu bener-bener nikmat Rum. Lebih nikmat daripada yang pernah aku bayangkan selama ini,” ucap Yanto sambil mulai menciumi bibir Siti yang hanya bisa pasrah. Dia masih mendiamkan penisnya, membiarkan dinding vagina Siti beradaptasi dengan ukuran penisnya.

“Pak, lepasin aja jilbabku, aku mohon,” ucap Siti. Dia masih cukup sadar untuk hal itu. Dia tidak mau dizinai oleh orang lain dengan masih memakai penutup kepalanya. Dia tak ingin merasa semakin berdosa dengan memakainya.

“Nggak, aku kepengen ngentotin kamu dengan masih pake jilbab. Nanti, aku juga pengen ngentot kamu dengan seragam dinasmu. Aku udah lama mimpiin ini Rum, aku makin nafsu kalau kamu berpakaian seperti itu, dan tanpa melepas jilbabmu.”

Siti berusaha meraih jilbabnya sendiri untuk melepaskannya, tapi tangannya ditahan oleh Yanto.

“Jangan melawan, atau aku bener-bener akan kasih tubuh kamu ini ke para begal itu. Mereka itu preman jalanan yang sering tidur sama pelacur pinggir jalan, tanpa pengaman. Entah mereka punya penyakit atau tidak. Coba kamu bayangin, seorang istri yang setia, istri yang alim seperti kamu, tiba-tiba terkena penyakit seksual, apa kata suamimu coba?”

Siti mendelik tak percaya dengan ucapan Yanto. Dia tak percaya betapa jahatnya orang yang sebelumnya sangat dia percaya dan hormati itu. Tapi di dalam hati Siti juga muncul ketakutan, kalau Yanto benar-benar melakukan ancamannya itu. Dia tak ingin terkena penyakit seperti apa yang dikatakan Yanto, sehingga perlahan perlawanannya pun runtuh sudah. Siti pasrah, dan hanya bisa menangis. Melawan sudah tak ada gunanya, vagina yang selalu dia jaga hanya untukku, telah berhasil dimasuki paksa oleh orang lain.

Kepasrahan Siti membuat Yanto tersenyum penuh kemenangan. Dia langsung menciumi wajah Siti. Bahkan tanpa merasa jijik, dia menjilati setiap air mata Siti yang mengalir dari matanya. Hal itu yang malah membuat Siti jijik. Sejurus kemudian Yanto mulai menggerakan pinggulnya maju mundur perlahan. Siti hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan desahan dan rintihan. Dia masih merasakan sakit di liang kewanitaannya itu.

Tapi rupanya Yanto memang bukan anak kemarin sore, dia adalah lelaki yang berpengalaman dalam menaklukan wanita. Dia tahu bagaimana cara membuat wanita seperti Siti bertekuk lutut, kalah total kepadanya. Sambil terus menggenjot tubuh Siti, dia mulai merangsang bagian-bagian sensitif tubuh Siti. Mudah saja baginya untuk menemukan titik-titik rangsangan itu.

Dia jilatin daerah sekitar leher Siti, dia remas lembut kedua payudara Siti, dan dia mainkan kedua puting susunya yang masih berwarna cokelat muda itu. Dan lagi-lagi, Siti hanyalah seorang wanita biasa, dimana pengalaman seksnya hanya sebatas apa yang selama ini dia lakukan denganku. Dia dengan mudah terangsang oleh semua perbuatan Yanto, hingga tubuhnya mulai merespon gerakan pinggul Yanto.

Melihat hal itu Yanto semakin tersenyum lebar, sementara Siti semakin menangisi kekalahannya. Yanto mulai meningkatkan tempo goyangannya, dan gerakan penisnya semakin lancar karena vagina Siti juga sudah semakin basah. Rasa sakit yang tadi mendera Siti perlahan mulai menghilang, tapi dia masih berusaha keras untuk tidak memperlihatkannya. Dia masih mempertahankan statusnya sebagai istri setia, yang berusaha tidak menikmati saat sedang disetubuhi paksa oleh pria lain.

Dan sekali lagi, pertahanan Siti jebol lagi setelah sekitar 5 menit digoyang oleh Yanto dengan tempo yang sedang. Siti memalingkan wajahnya saat akan merasakan orgasme, tapi tangan Yanto menahannya, sehingga mau tak mau Siti memperlihatkan ekspresinya ketika orgasme kepada Yanto, dan itu semakin membuat Yanto bernafsu. Yanto tak memberi kesempatan kepada Siti untuk menikmati orgasmenya, tapi dia langsung menyerang Siti lagi dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Siti kelabakan, desahannya mulai tak tertahan. Beberapa kali dia tak kuasa membiarkan desahannya terdengar oleh Yanto. Setiap desahan dari mulut Siti seperti perangsang bagi Yanto untuk terus meningkatkan temponya, hingga akhirnya 3 menit kemudian Siti kembali menyerah dalam birahinya.

“Ssssshhhhhh aaaaaaaaahhhhhhh…”

Kali ini Siti tak dapat menahan desahannya ketika orgasmenya melanda lagi. Dari lelaki yang bukan suaminya itu, dia sudah 4 kali orgasme, jumlah yang sama dengan yang biasa dia dapat saat bersetubuh denganku. Tapi bedanya, kalau biasanya Siti orgasme sebanyak itu dan aku sudah menyemburkan spermaku, saat ini Yanto terlihat belum apa-apa. Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan melihat Siti susah payah mengatur nafasnya.

Yanto menghentikan gerakannya, kemudian mencium bibir Siti. Kali Siti membiarkan saja, dan sedikit membalas ciuman dari Yanto itu.

“Aku mau keluar, di dalam atau dimana?” bisik Yanto.

“Jangan, jangan di dalam, tolong jangan di dalam,” pinta Siti memelas.

Yanto tak menjawab, dia hanya tersenyum, lalu mencabut penisnya. Tak membuang waktu, Yanto membalikkan tubuh Siti hingga tengkurap. Dia tarik pantat Siti, lalu menaruh sebuah bantal untuk membuat pantat itu tetap menungging, karena Siti masih dalam keadaan lemas. Siti sudah pasrah akan dimasuki lagi vaginanya oleh Yanto, tapi kemudian dia terkejut saat merasakan sesuatu yang lain.

“Paaak, saya mohon, jangan disituu…” ucap Siti panik.

Siti panik karena merasakan sesuatu yang keras menggesek bibir analnya, bukan di bibir vaginanya. Siti tentu ketakutan, karena belum pernah sekalipun lubang belakang itu aku gunakan. Dia tak bisa membayangkan betapa sakitnya lubang yang sempit itu dimasuki penis Yanto yang begitu besar.

“Ooh, jadi yang disini masih perawan ya? Baiklah, malam ini akan aku perawani lubang belakangmu sayang, hahaha.”

“Jangan pak, jangaaaan…”

Permohonan Siti sama sekali tak digubris oleh Yanto. Dia terus saja mencoba memaksa menekankan kepala penisnya yang besar di lubang anus Siti yang masih sangat sempit. Siti berusaha menghindar, tapi kedua tangan Yanto dengan kuat memegangi pinggangnya. Apalagi saat ini tubuh Siti benar-benar masih lemah, efek dari minuman tadi, dan rasa lelah setelah dibuat berkali-kali orgasme oleh Yanto.

“Aaarrgghh sakiiiit.. udaah paaak, udaaah sakiiiiiittt…”

Teriakan Siti terdengar, namun tak terlalu keras karena masih lemah. Dia berteriak saat kepala penis Yanto berhasil membuka sedikit lubang pantat itu, dan itu sangat membuat Siti kesakitan. Yanto bukannya berhenti, malah terus melanjutkan aksinya. Penis itu perlahan-lahan semakin masuk. Siti semakin kesakitan, dia menjerit. Tangannya sampai meremas kuat sprei putih ranjang itu. Sementara itu Yanto juga meringis merasakan betapa ketatnya lubang pantat Siti mencengkram penisnya.

“Aaaahh bangsaaat, sempiit bangeeet…”

“Aaaaaaaarrrkkkkkhhhhh…”

Lengkingan jeritan Siti terdengar saat penis itu berhasil masuk sepenuhnya di lubang anus Siti. Dia menangis sejadi-jadinya. Rasa sakit yang teramat sangat, bahkan lebih sakit daripada saat aku perawani dulu, dan juga saat pertama kali tadi penis Yanto mempenetrasi lubang vaginanya.

Yanto mendiamkan penisnya sejenak, karena dia juga merasakan nyeri di penisnya. Tapi lebih daripada itu, Yanto merasakan kenikmatan yang tiada tara. Bahkan Yanto tertawa gembira saat melihat ada lelehan cairan merah yang keluar dari lubang anus Siti, darah.

Setelah beberapa saat mendiamkan penisnya, Yanto mulai bergerak maju mundur dengan perlahan. Dia tak peduli tangis kesakitan dari Siti, dia terus menjejalkan penisnya di lubang sempit yang baru saja dia perawani itu. Yanto bahkan beberapa kali memukul pantat Siti yang montok, meninggalkan bekas kemerahan disana.

Lima menit lebih Yanto memperkosa anus Siti, dan Siti sama sekali tak merasakan apapun selain rasa sakit yang teramat sangat. Siti belum berhenti menangis, dan Yanto belum berhenti bergoyang. Menit ke 8 gerakan Yanto mulai semakin liar. Siti tahu Yanto akan segera memuntahkan spermanya, tapi dia tak peduli, dia hanya bisa merasakan sakit yang teramat saat ini.

“Aaahhh Arruuumm, sayaaaaang, aku keluaaaaarrrr…”

Siti menutup erat bibirnya, saat dia rasakan cairan kental dan hangat beberapa kali menyembur di dalam lubang anusnya. Cukup banyak cairan itu keluar, hingga tak tertampung dan meluber keluar. Yanto pun tak berlama-lama membiarkan penisnya disitu, dia menariknya keluar, hingga cairan spermanya pun ikut mengalir keluar bersama dengan darah dari lubang anus Siti.

“Luar biasa, benar-benar nikmat Rum. Jauh melebihi apa yang aku kira. Tubuhmu benar-benar sempurna, benar-benar nikmat.”

Tak henti-hentinya Yanto memuji Siti. Tapi Siti yang tergolek tak berdaya masih terus menangis. Yanto membiarkannya saja, dia sendiri mengistirahatkan dirinya. Setelah cukup lama, Yanto mengangkat tubuh Siti ke kamar mandi. Sebelumnya dia menarik lepas jilbab Siti sehingga rambut panjangnya tergerai bebas.

Di dalam kamar mandi, Yanto memandikan tubuh Siti, membersihkan kedua lubang di pangkal pahanya. Siti merasakan perih saat air dari shower menyentuh lubang kemaluan dan anusnya, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Yanto.

Setelah membersihka tubuh Siti, Yanto kembali mengangkat tubuhnya, dan membaringkannya lagi di ranjang. Barulah disitu Siti menyadari kalau dia masih berada di kamar Yanto, belum pindah ke kamarnya sendiri.

Setelah cukup pulih, Yanto meminta Siti untuk memakai kembali pakaiannya yang tadi, lengkap dengan jilbabnya. Tapi bukannya membiarkan Siti kembali ke kamar, Yanto kembali menyetubuhi Siti dengan hanya mengangkat ujung gaun panjangnya sampai ke pinggang dan menurunkan sedikit celana dalamnya Siti. Dia menyetubuhi Siti dari belakang, dengan posisi menghadap ke sebuah cermin besar. Siti dipaksa untuk melihat ke arah cermin itu, dipaksa untuk melihat bagaimana ekspresinya ketika sedang diperkosa oleh pria itu.

Malam itu, berulang kali Yanto menyetubuhi Siti hingga Siti tak sadarkan diri. Berbagai posisi mereka peragakan. Siti juga dipaksa untuk mengulum penis Yanto, sesuatu yang sangat jarang dia lakukan kepadaku. Yanto juga sampai mengeluarkan spermanya di dalam mulut, di dalam anus, di dalam vagina, dan di wajah Siti yang masih memakai jilbab. Permainan mereka baru berhenti saat menjelang subuh. Siti sudah tak sadarkan diri, dengan pakaian yang acak-acakan dan penuh dengan bercak sperma.

Siang harinya mereka terbangun sekitar jam 10. Siti kembali menangis mendapati dirinya terbangun dalam dekapan Yanto yang masih telanjang. Tangisan Siti rupanya membangunkan Yanto. Dia mencium mesra bibir Siti, tanpa mendapat balasan dari Siti.

Akhirnya Siti diijinkan untuk kembali ke kamarnya, untuk bersih-bersih dan sekalian siap-siap untuk pulang. Sebelum pulang meninggalkan hotel itu, Siti kembali dipanggil oleh Yanto ke kamarnya. Siti mengira Yanto akan menyetubuhinya sekali lagi, tapi ternyata bukan itu. Siti dipanggil Yanto untuk diperlihatkan sesuatu yang lebih mengerikan lagi.

Siti terkejut bukan main saat Yanto memperlihatkan sebuah kamera yang menampilkan adegan persetubuhan mereka. Dia baru sadar kalau apa yang menimpanya itu ternyata direkam oleh Yanto. Hatinya semakin hancur, karena dia yakin Yanto akan menggunakan video itu untuk mengancamnya di kemudian Hari.

“Kamu tahu kan apa yang harus dilakukan agar video ini tak sampai tersebar?”

Siti hanya mengangguk, dan mendapat balasan tawa memuakkan dari Yanto.

Setelah itu mereka langsung pulang. Perjalanan memakan waktu 3 jam lamanya. Sampai di depan rumahku, Siti tak langsung turun karena masih mengulum penis Yanto. Ya, selama perjalanan, terutama saat sudah mendekati daerah rumahku, Yanto meminta Siti untuk mengulum penisnya sampai keluar. Dan ketika lelaki itu menyemburkan spermanya ke mulut istriku, yang mau tak mau harus tertelan semua, barulah Siti dipersilahkan turun.

Setelah Yanto pulang, Siti langsung masuk dan menyalamiku yang sedang lembur mengerjakan tugas dari bosku. Aku awalnya tak begitu memperhatikannya. Barulah setelah selesai pekerjaanku, kuperhatikan cara jalan Siti agak aneh. Setelah kupaksa cerita, akhirnya dia menceritakan semua ini secara gamblang.

Betapa hancurnya hatiku mendengar itu semua. Siti menangis tersedu-sedu dan berkali-kali minta maaf kepadaku. Jelas saja aku memaafkannya, karena ini sama sekali bukan salahnya. Ini salah Yanto, si bajingan keparat itu. Tapi ini juga salahku. Kalau saja aku tidak memberinya ijin untuk pergi, tidak mungkin dia mengalami nasib semalang ini. Tapi kalaupun aku tidak mengijinkannya, Yanto pasti punya cara lain untuk bisa menjebak Siti.

Setelah emosiku turun, akupun memeluk istriku, yang tampak masih takut-takut kepadaku. Aku berusaha menenangkannya, meskipun hatiku sendiri sedang dibakar oleh amarah. Aku berjanji akan membuat perhitungan dengan Yanto, entah bagaimanapun nanti caranya. Apalagi kata Siti, dia bukanlah satu-satunya wanita yang sudah dijebak oleh Yanto. Selain dirinya, ada beberapa lagi teman kantornya, yang juga dijebak dengan berbagai cara, tapi kebanyakan seperti yang dialami oleh Siti.

Siti baru tahu itu tadi dalam perjalanan, Yanto menceritakannya. Dan dari semua wanita yang sudah berhasil ditaklukan oleh Yanto itu, sampai sekarang masih terus melayani setiap kali Yanto meminta. Mereka, sama seperti Siti, tak punya pilihan lain karena takut dengan ancaman video itu. Hanya saja, cuma Siti yang mungkin berani mengatakan hal ini kepada suaminya, yaitu aku.

“Udah umi, abi janji pasti akan buat perhitungan dengan lelaki biadab itu.”

“Tapi gimana bi? Umi takut nanti abi kenapa kenapa.”

“Abi juga belum tahu, tapi yang pasti abi nggak akan tinggal diam. Umi nggak usah khawatir sama abi, mungkin nanti abi akan buat perhitungan, tapi dengan bantuan orang lain, jadi abi nggak akan kenapa kenapa. Yang penting, umi sekarang tenangin diri dulu ya?”

Cerita sex : Cerita Dewasa Menikmati Tubuh Wanita Yang Sedang Hamil Muda

Siti hanya mengangguk. Aku terus menemaninya sampai dia tertidur. Dalam benakku, aku masih bingung dengan apa yang akan kulakukan. Tapi bisa kupastikan, aku tidak akan tinggal diam saja, aku akan menuntut balas pada lelaki jahanam itu, akan kubuat dia menyesal karena telah berani menyentuh istriku.

#Cerita #Ngentot #Terjebak #Hutang #Budi #Dengan #Atasan

Cerita Dewasa Ngentot Di Toilet Terbaru Malam Ini

Saat itu aku sedang diminta menjaga rumah adik, karena keluarganya akan pergi hingga sore dan Eren Renggal di rumah, karena kondisi perutnya yang kurang baik. Menjelang keberangkatan keluarga adik, aku sudah datang di sana.

“Mas..Eren di rumah, perutnya agak kurang beres. Mis yang tak bawa“, adikku memberi tahu. “Oo..ya“, jawabku. Tak berapa lama mereka telah berangkat. Aku bergegas memasukkan sepeda motor ke dalam rumah. Eren lalu mengunci pagar. Aku masuk rumah lalu cepat – cepat duduk di depan komputer, browsing, karena suami adikku memasang internet untuk mendukung pekerjaannya. Mengecek email cari info ini itu dan..tentunya get into DS..he3x. 10menit kemudian Eren menyajikan segelas es teh untukku.

“Makasih ya Ren“, ucapku. “Iya Pak..silakan diminum“, kata Eren. Pembantu – pembantu adikku memang dibiasakan memanggil “Pak“ pada saudara – saudara majikannya, padahal terdengar sedikit asing di telinga.

Eren lalu kembali ke dapur, aku lalu meminum es tehnya, “Hah..segernya“, cuaca sedikit panas walau agak mendung. Eren kembali memasuki ruang keluarga, merapikan mainan – mainan anak adikku. Posisi meja komputer dan mainan yang bertebaran di lantai selisih dua kotak. Semula aku belum ngeh akan hal itu. Semula mataku menatap layar komputer. Saat Eren mulai memasukkan kembali mainan – mainan ke keranjang, baru aku menyadarinya.

Sesekali aku meliriknya. “Sedikit putih ternyata anak ini. Bodynya biasa aja sih, langsing dan kayaknya masih padat. Wah..ini gara – gara masuk situs bokep jadi mikir macem – macem..hi3x“, pikiranku berkata – kata. Karena jarak kami yang lumayan dekat, maka ketika Eren bersimpuh di lantai merapikan mainan di keranjang, otomatis kaosnya yang sedikit longgar memperlihatkan sebentuk keindahan yang terbungkus penutup warna biru. Eren jelas tidak tahu kenakalan mataku yang sedang menatap sebagian keindahan tubuhnya. Pkv Game

“Andaikan aku…uhh..ngayal nih“. Tak terasa penisku mulai membesar, “Ke kamar mandi mbetulin posisi penis nih..sambil kencing“. Komputer kuRenggal dengan layar bergambar Maria Ozawa sedang disetubuhi di kamar mandi. Aku lalu masuk kamar mandi, membuka jins dan cd lalu mengeluarkan penis. Agak susah juga kencing dengan penis yang sedikit tegang. “Lah..pintu lupa tak tutup“, aku terkejut. “Terlanjur..gak ada orang lain kok“, aku mendinginkan diri.

Aku keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di depan komputer, melanjutkan ngubek – ubek bokep. “Cari camilan di meja makan ah..jadi lapar“. Aku mencari apa yang bisa dimakan untuk menemani kesibukan nge net. “Ada roti sama biskuit nih..asyik“. Roti kusemir mentega dan selai kacang dan diatasnya kulapis dengan selai blueberry, “Hmm..enaknya. Nanti bikin lagi ah..masih banyak roRenya“. Rumah adikku tipe agak kecil, jadi jarak antar ruangan agak dekat.

Letak meja makan dengan kamar pembantu hanya 3meter – an. Kulihat dengan ujung mata, Eren sedang di kamarnya entah beraktifitas apa. Selesai menyelesaikan semiran roti, aku kembali ke ruang keluarga yang melewati kamar pembantu dan kamar mandi mereka. 2detik aku dan Eren bertatapan mata, tidak ada sesuatu, biasa saja. Kumakan roti sambil main lagi.

Terdengar gemercik air di belakang. Mungkin Eren sedang mencuci perabotan dapur atau sedang mandi. “Belum ambil air putih nih..“, tak ada maksud apa – apa dengan suara air tersebut. Hanya kebetulan aku belum minum air putih, walau telah ada es teh. Aku ke ruang makan lagi dan mengambil gelas lalu menuju dispenser. Mata dan pikiran hanya tertuju pada air yang mengucur dari dispenser.

Baru setelah melewati kamar mandi pembantu ada yang special di sana. ”Lah..pintunya kok sedikit buka. Ren lupa dan sedang apa di dalam..moga gak mandi. Bisa dilaporin ngintip aku”. Masih tak terlihat kegiatannya, setelah tangan yang sedang menggapai gayung dan kaki yang diguyurnya baru aku ngeh..Eren sedang mandi.

”Duhh..kesempatan sangat – sangat langka ini..tapi..kalo dia teriak dan nanti lapor adikku..bisa gawat bin masalah. Berlagak gak liat aja ahh”. Aku menutup pintu kaca ruang makan dan melewati kamar mandi Eren. Tiba – tiba ”Ahh..ada kecoak..Hush..hush..Aduhh..gimana nih”, terdengar keributan di sana. ”He3x..ternyata dia takut kecoak toh”, aku tersenyum sambil pegang gelas saat melewati kamar mandi.
”Pak..Pak”, Eren memanggilku. ”Walah..malah panggil aku. Gimana nih”. ”Tolong ambilkan semprotan serangga di gudang ya Pak..cepet ya Pak..atau..”, tidak terdengar lanjutan kalimatnya.

Sejak Eren bersuara, aku sudah berhenti dan diam di dekat pintu kamar mandi. ”Atau..Bapak yang masuk pukul kecoaknya..mumpung masih ada”, lanjutnya. Deg..”Ini..antara khayalan yang jadi nyata dan ketakutan kalo dilaporkan”, aku berpikir. ”Cepet Pak..kecoaknya di dekat kloset. Bapak masuk aja..nggak papa.

Nggak saya laporin ke Bapak sama Ibu”, Eren tahu keraguanku. ”Jangan ah..nanti kalo ada yang tau atau kamu laporin bisa rame”, jawabku. ”Nggak Pak..bener. Aduh..cepet Pak..dia mau pindah lagi”, Eren kembali meyakinkanku dan meminta aku cepat masuk karena kelihatannya si kecoak mau lari lagi. ”Ya udah kalo gitu. Bentar..ambil sandal dulu”. Sambil tetap menimbang, take it or leave it. Aku menaruh gelas di meja makan lalu mengambil sandal untuk membunuh kecoak nakal itu.

Entah rejeki atau kesialan bagiku tentang kemunculannya. ”Aku masuk ya Ren”, masih ragu diriku. ”Masuk aja Pak”, Eren tetap membujukku. Kubuka pintu kamar mandi sedikit, lalu kuintip letak kecoaknya, belum terlihat. Pintu dibuka lebih lagi oleh Eren.

Kepalanya sedikit terlihat dari balik pintu dan tangannya menunjuk letak kecoak, ”..tuh Pak mau lari lagi”. Aku melihatnya dan mulai masuk. Eren berdiri di balik pintu dengan menutupi sedikit bagian tubuhnya dengan handuk. Terlihat paha; pundak dan daging susunya. Serta rambut yang diikat di belakang kepalanya, walau hanya sedikit semua. Handuknya menutupi bagian paha ke atas, perut hingga bagian dada, warna biru, yang disangga tangan kirinya.

Semua hal itu dari ekor mataku, karena fokusku pada sang kecoak. ”Memang mulus dan cukup putih”, masih sempat aku memikirkannya. Bagaimana tidak, jarak kami hanya 2 – 3 langkah, tidak ada orang lain lagi di rumah.

”Plak..plak”, kecoak pun mati dengan sukses. Aku guyur dengan air agar masuk ke lubang pembuangan. Tanpa memikirkan lebih lanjut, aku lalu melangkah ke luar kamar mandi. ”Terima kasih ya Pak..sudah nolongin”. ”Oh..iya..”, sambil kutatap dia dan Eren tersenyum. ”Bapak nggak cuci tangan sekalian..di sini saja”, tawar Eren. ”Wah..ini. Makin bikin dag dig dug”. ”Emm..iya deh”. Aku akan mencuci tangan dengan sabun, yang ternyata posisi tempat sabun ada di belakang tubuh Eren.

Aku menengok ke belakang tubuhnya. Rupanya dia baru sadar, lalu mengambilkan sabun, ”Maaf Pak..ini sabunnya”. Eren mengulurkan sabun dengan tersenyum. Sabun yang sedikit basah berpindah dan tangan kami mau tidak mau bersentuhan. ”Makasih ya”, ujarku.

Aku mencuci tangan dan mengembalikan sabun padanya. ”Bapak nggak..sekalian mandi”, tanya Eren. ”Waduh..tawaran apa lagi ini. Tambah gawat”. ”Iya..nanti di rumah”. ”Nggak di sini saja Pak?”. ”Kalo di sini yaa di kamar mandi depan”. ”Di kamar mandi ini saja Pak..”. ”Nggaklah..jangan. Di depan aja. Kalo di sini ya habis kamu mandi”. ”Maksud saya..sekalian sekarang sama saya. Hitung – hitung Bapak sudah nolongin saya”. Matanya memohon. Deenngg, sebuah lonceng menggema di kepala.

”Ini ajakan yang membahayakan, juga menyenangkan”, pikirku. ”Bapak nggak usah mikir. Saya nggak akan bilang siapa – siapa. Ya Pak..di sini saja”, dia memahami kekhawatiranku. ”Emm..ya udah kalo kamu yang minta gitu”, jawabku.

Entah mengapa aku merasa canggung saat akan membuka kaosku. Padahal tidak ada orang lain dan juga sesekali ke pijat plus. Aku buka jam tanganku dulu, lalu aku keluar dari kamar mandi dan kuletakkan di meja makan. Posisi Eren masih tetap di belakang pintu, dengan tangan kanan menahan pintu agar tetap agak terbuka.

Kembali ke kamar mandi, kubuka kaosku dan kusampirkan di cantolan yang menempel di tembok. ”Pintunya nggak ditutup aja Ren ?”, tanyaku. Pertanyaanku sesungguhnya tidak memerlukan jawaban, hanya basa basi. “Nggak usah Pak..kan nggak ada siapa – siapa”, jawab Eren.

Lalu kubuka jinsku, kusampirkan pula. Sesaat aku masih ragu melepas kain terakhir penutup tubuhk, cd – ku. “Bapak nggak nglepas celana dalem ?”, tanyanya. “Heh..ya iya”, kujawab dengan nyengir. Penisku sebisa mungkin kutahan tidak mengembang, tapi hanya bisa kutahan mengembang ¼ – nya.

Sengaja kutatap matanya saat melepas cd – ku. Mata Eren sedikit membesar. Kusampirkan juga cd – ku. Lalu dengan tenang Eren menyampirkan handuk biru yang sedari tadi menutup sebagian tubuhnya. “Duh..pantatnya masih ok. Pinggangnya tidak berlemak. Sabar ya nak..kita liat situasi dulu”, kataku pada sang penis sambil kuelus.

Eren lalu membalikkan badan. Cegluk, suara ludah yang kutelan. “Uhh..susu yang masih bagus juga. Pentilnya nggak terlalu besar, areolanya juga, warnanya pas..nggak item banget. Perutnya sedikit rata dan..hmm..rambut bawahnya hanya sedikit”. Mau tidak mau, penisku makin mengembang dan itu jelas dilihat Eren. Kembali sebisa mungkin kutahan perkembangannya. Eren lalu menggosok gigi dahulu. Karena aku tidak membawa sikat gigi, hanya berkumur dengan obat kumur.

“Bapak saya mandiin dulu ya”, kata Eren. “Terserah kamu”, jawabku sambil tersenyum. Eren lalu mengambil segayung air, diguyurkan ke badan dari leher dan pundak.

Mengambil lagi segayung, diguyurkan ke perut dan punggung ditambah senyum manisnya. Ia lalu meraih sabun, digosokkan ke leher; pundak; dada dan tangan kananku.

Dibasahinya sabun dengan diguyur air lalu digosokkan ke tangan kiri; perut; penis; bola – bolaku. “Uhh..gimana bisa nahan penis nggak ngembang”. Bagaimana tidak, saat menggosok penis dan bola – bolaku sengaja digosok dan di urutnya. Ditatapnya senjata kebanggaanku, lalu menatapku dan tersenyum. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum juga. Diambilnya lagi segayung air, sabun dibasahi dan sisanya diguyurkan ke paha dan kaki lalu digosoknya.

Sabun kemudian diletakkan di pinggir bak mandi, kemudian mengambil segayung air dan diguyurkan ke badan depanku. Ambil segayung lagi dan diguyurkan lagi, tak lupa senjataku dibersihkan dari sisa – sisa sabun. Sedikit diremas oleh Eren. Kutahan keinginanku untuk membalas perlakuannya, “biar Eren yang pegang kendali”.

“Balik badan Pak”, perintahnya. Air diguyurkan ke punggung dan bagian bawah badanku. Digosoknya punggung; pantat; lalu paha dan kaki sisi belakang. Bonusnya, kembali menggosok penis dan bola – bolaku dan meremasnya. “Duh..ni anak. Bikin senewen..sengaja membuat panas aku“.

Kembali air mengguyur tubuh belakangku, sebanyak 3x. Dibalikkan badanku lalu mengguyur senjataku, digosok – gosoknya hingga sedikit memerah. Jantungku makin berdebar.

“Sudah selesai Pak“, kata Eren. “Makasih ya Ren“. “Emm..kamu mau tak mandiin juga ?“, kepalang basah, kutawarkan permintaan seperti dia tadi. “Nngg..nggak usah Pak..ngrepoti Bapak“. “Ya nggaklah..jadi imbang kan“. Langsung kuambil segayung air lalu kuguyur ke tubuh depannya. Ia hanya menatapku. Kuambil lagi segayung. Lalu sabun yang tadi tergeletak di pinggir bak mandi kuambil dan aku basahi.

Kugosok leher; pundak; dan kedua tangannya. Kubasahi sabun lagi dan kugosokkan ke dada; kedua susu dan pentilnya; serta perut. Kutatap matanya saat kugosok kedua gunungnya yang kumainkan sedikit pentil – pentilnya. Eren juga menatapku. Matanya mulai sedikit sayu. 1menit – an kumainkan pentil –pentilnya, lalu sedikit kuremas susu kirinya. Bibirnya sedikit membuat huruf o kecil dan “ohh..hhmm“.

Kubasahi lagi sabun, dan kugosokkan ke pinggang; paha dan kedua kakinya. Vagina luar hanya kusentuh sedikit dengan sabun, takut perih dan iritasi nanti. Itupun sudah cukup membuat matanya makin meredup. Air segayung lalu kuguyurkan ke tubuhnya 2 – 3x.

Kugosok dan kuremas sedikit keras dua gunungnya. Sedikit berguncang. Dua tangan Eren memegang pinggir bak mandi, mulai erat. Kumainkan lagi pentil – pentilnya.

Aku merundukkan badan dan kukecup pucuk – pucuk bunganya bergantian. Tak perlu lagi ijin darinya. Tangan kiriku mengusap – usap lembut luar vaginanya. “Ouuh Paakk..“, Eren mulai mendesah. Kukecup bibirnya lembut, “nanti dilanjut lagi“. Matanya seakan bernada protes, tapi Eren diam saja. Kubalikkan tubuhnya, lalu kuguyur punggungnya sekarang. Sabun kugosokkan ke punggung; pinggang; pantat. Sabun kubasahi lagi lalu kugosokkan ke paha dan kaki bagian belakang. Aku menyusuri tubuh depannya lagi dari pinggang belakangnya. Eren sedikit menggeliat geli. Kutangkupkan dua tanganku di dua susunya.

Aku senang bermain – main di susu yang bagus atau masih ok. Seluruh belakang lehernya aku cium dan kecup, begitu juga dua kupingnya dan kubisikkan ”kamu diam saja ya..cup”. ”Geli Paakk..”, Eren mendesah lagi. Dua pucuk bunganya makin mengencang dan keras. Aku menyentil – nyentil, kuputar – putar seperti mencari gelombang radio. Dua tangan Eren mencengkeram paha depanku. ”Aahh..hmmppff”, erangnya. Tangan kananku mengambil segayung air, kuguyur ke tubuh depannya. Kali ini kuusap – usap vagina luarnya dengan tangan kanan, sedang yang kiri tetap di susu kanan Eren.

Pahaku makin dicengkeramnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan seiring kecupan dan ciumanku di belakang leher dan daun – daun telinganya. Sesekali aku menyentuh bibir dalamnya. Terasa telah menghangat dan sedikit basah. ”Ppaakkk..oohhh”. Tubuhnya mulai menggeliat – geliat. Jari tengah kanan kumasukkan sedikit dan kusentuhkan pada dinding atas vaginanya, sedang jempol kananku kutekan – tekankan di lubang kencingnya.

”Aauugghhh Ppaakkk..eemmmppfff”. Kuku – kuku jemari Eren terasa menggores dua paha depanku. ”Kenapa Eren..hmm..kamu sendiri yang memulai kan”, bisikku. Tangan kiriku meraih kepalanya dan kupalingkan ke kanan, dan kutahan lalu kucium dengan nada 2 kecup 1 masukkan lidah.

Eren terkejut, matanya sedikit membesar tapi kemudian ia menikmaRenya. Ganti tangan kananku melakukan hal yang sama. Eren hanya bisa mengeluarkan suara yang tertahan ”nngg..emmppfftt..nnngggg”, begitu berulang. Vagina dalamnya makin hangat dan basah. Secara tiba – tiba kuhentikan lalu kubalikkan badannya menghadapku. Kemudian aku sandarkan tubuhnya di bak mandi. Aku kemudian berjongkok dan mulai mengecupi vaginanya.

”Jjanggann Ppakk..jorok..”, dengan dua tangannya menahan laju kepalaku. Kutatap matanya dan ”sssttt..”, jari telunjuk kanan kuletakkan di bibirnya. Dua tangannya kusandingkan di samping kiri dan kanan tubuhnya.

Kukecup kecil, sekali dua kali. Kemudian lidahku mulai menjulur di pintu kenikmatan kami. Mataku kuarahkan menatapnya. Eren agak malu rupanya, tetapi ada sedikit senyum di sana. Lidahku makin intens menyerang vagina luar dan dalamnya. ”Ssuuddaahh Pppaakk..aaaddduuuhh..oohhhh”, disertai geliat tubuh yang makin menjadi. Karena tak tahan dengan seranganku, dua tangannya meremas dan sedikit menarik rambut dan kepalalu.

Cairan lavanya makin keluar. Dua tanganku mendekap erat buah pantatnya. Jari tengah kiriku sesekali kumasukkan ke vagina dari belakang lalu kesentuhkan dan kutekan sedikit ke anusnya. ”Aammppuuunnn Pppaakkk..oouuuggghh..eeemmmpppfffs

Ssuudddaahhh..ooohhhh”, matanya agak membeliak ke atas dan kepala serta rambutku diremasnya kuat. Lava kepuasan dirinya mengalir deras, rasanya gurih sedikit manis. Kudekap erat Eren dengan kepalaku di vaginanya dan pantatnya kuremas – remas. Kepalaku tetap diusap –usap oleh Eren.

Ia menarik kepalaku dan menciumnya ganas. Lambat laun Eren dapat belajar dariku. Tangan kanannya meremas dan menarik – narik penisku. ”Panjang ya Pak”, tanya Eren. ”Biasa kok Ren..pingin ya..”, godaku. ”Aahh Bapak..”, jawabnya dengan memainkan bola – bolaku. Eren merundukkan tubuhnya lalu tangan kirinya memegang penis dan menciumnya. Mungkin ia belum pernah meng – oral suaminya dulu sebab penisku hanya dicium – cium dan diremas – remas.

”Kamu mau ngemut burungku Ren..kayak ngemut permen lolly ? Tapi kalo belum pernah ya nggak usah..nggak papa”. Eren menatapku dan kubelai rambutnya.

Dengan wajah ragu didekatkannya penisku di bibirnya. Eren mulai membuka mulut, sedikit demi sedikit penisku memasuki mulutnya. Eren menatapku lagi, meminta penjelasan langkah selanjutnya. ”Sekarang..kamu maju mundurkan dengan dipegang tanganmu.

Yaa..gitu..oohh..hhmm”. Rupanya muridku cepat mengerti penjelasan gurunya. Rambut dan kepalanya kubelai dan kuremas – remas. ”Lalu..lidahmu kamu puter – puter di kepala penis atau di lubang kencing yang bergaris panjang ituuu..yyyahhhh..sssuuudddaahh pppiiinnnttteeerrr kkkaaammuu Tttiinnnn”.

Kuangkat kepalanya dari penisku dan kami berciuman dengan panas. Saling meremas susu; pantat dan kelamin masing – masing. Lalu kubalikkan lagi tubuhnya menghadap bak mandi. Dua tangannya kuletakkan di pinggir bak mandi. Kembali aku bermain – main di gunung Eren. Penisku yang telah panas dan mengacung sekali kudekatkan ke vaginanya. Kukecup – kecup pundak dan leher belakangnya.

Ikat rambutnya aku lepas sehingga dirinya terlihat makin seksi kala menggeliat – geliat dan rambutnya tergerai ke sana kemari. Aku geser – geserkan penis di pintu surgawinya, sengaja aku mempermainkan rangsangan pada Eren. ”Oohh..Ppaakk..mmaassuukkkiinn..Pppaakkk”, pintanya. ”Kamu mau burungku kumasukkin..hmm.. ”.

”Iyyyaa..Pppaakkk..aaayyyoo Pppaakk..”, rintihnya makin kencang. Kumasukkan penis pelan – pelan. ”Eemmppff..”, erangnya.

Lalu kuhentakkan pelan hingga penisku terasa menyentuh dinding belakang. ”Ooouuggghh..Pppaakkkk..mentok Pppaakk”. Aku menggerakkan tubuh pelan – pelan, kunikmati jepitan dinding – dindingnya yang masih kuat. Dua tanganku tak henti bermain di dadanya. Kumainkan irama di vaginanya dengan hitungan 1 – 2 pelan 3 kuhentakkan dalam – dalam. Lalu tangan kananku meraih kepalanya seperti tadi dan kucium panas bibirnya. Dinding vagina Eren makin hangat dan banjir seperRenya. Dua tangannya mencengkeram erat pinggir bak mandi.

Sekarang tanpa hitungan, kumasuk keluarkan penis cepat dan kuat. ”Oohh.. oohh…hhmmppffftt..”, erang Eren berulang. Sedang aku sedikit menggeram dan ”oouugghhh..hhmmppff..mpekmu enaknya Tttiinn..”. ”Bbuurrruunnggg Bbbaapppakk jjjuugggaaa”. Jarak pinggangku dan pantat Eren makin rapat. Tangan kanan kuusap – usapkan di vaginanya. Dalam kamar mandi hanya ada suara tetes air satu – satu serta desah, bunyi beradunya paha dan pantat dan erangan kami.

”Pppaaakkk..sssaaayyyaa mmaaauu..ooohhh..”. ”Tttuunnggguu Tttiiinnn..aaakkkuuu jjjuuggggaa..Di dalam apa di llluuaarrr”, tanyaku.
”Dddaa lllammm aajjjaaa Pppaakkkk..oobbaattnyaa mmassihh aaddaa..”, jawab Eren. Mendengar itu serangan makin kufokuskan.

Segala yang ada di tubuhnya aku remas. Dua tangan Eren tak tahan di pinggir bak mandi dan mencengkeram paha serta pantatku. Bibirku dicarinya lalu ”hhhmmmpppfffttt..”. Pantatku diremas kuat – kuat.

Bibirnya dilepas dariku dan ”ooouuggghhh..”, desah Eren panjang. Lava yang hangat terasa mengaliri penisku yang masih bekerja. Kepalanya tertunduk menghadap air di bak mandi. Kudekap erat tubuh depannya. Kukecup dan kugigit leher belakangnya.

Lalu tangan kiriku meraih kepalanya dan kucium dalam – dalam. Dengan satu hentakan dalam kumuntahkan magma berkali – kali. ”Ooouugghhh Tttiinnaahhh..hhhmmm..”. kepalaku tertunduk di pundaknya dengan tangan kiri di susu sedang yang kanan di vaginanya.

Lama kami berposisi seperti itu. ”Makasih ya Ren..kamu baik sekali. Enak banget tubuhmu”, kataku dengan membalikkan badannya dan kucium mesra bibirnya. Penis kumasukkan lagi, masih ingin berlama – lama di hangatnya vagina Eren. ”Saya yang terima kasih Pak. Sudah lama saya pingin tapi sama orang nggak kenal kan nggak mungkin Pak. Burung Bapak pas di mpek saya”, Eren menjawab dan mencium bibirku pula. ”Mpekmu masih kuat nyengkeramnya..dan panas”. Kubelai – belai kepalanya, ”kok bisa kamu pingin ngajak main sama aku ? Malah aku yang takut kamu laporin”. Sambil mengusap – usap punggungku, ”Tadi waktu saya bersihin mainan adik, saya liat gambar di komputer.

Cerita sex : Adik Keponakan Ku Yang Centil Dan Sexy

Terus waktu Bapak kencing tadi kan lupa nutup pintu..keliatan burung Bapak yang agak gede pas keluar dari celana”. ”Oo gitu..nakal ya kamu. Bener kamu masih nyimpen obatnya ?”, sambil kucubit pipinya. ”Masih kok Pak..sisa yang dulu”, jawab Eren. Makin lama terasa penisku yang mengecil. Kucium dalam – dalam lagi bibirnya, ”sekarang..mandi yang beneran”. ”Heeh..iya Pak”, Eren menjawab sambil tersenyum manis. Ia lalu memelukku erat. Aku membalasnya dengan memeluk erat dan mengusap – usap punggung serta kepalanya.

#Cerita #Dewasa #Ngentot #Toilet

Ngentot Dengan Mahasiswi Cantik Di Kost Terbaru Malam Ini

Aku sudah kuliah jadi aku putuskan saja untuk Ngekost lebih mandiri lebih leluasa, lagipun ngekost juga ada enak, ada nggak enaknya apalagi kalau sudah tanggal tua waduhh Indomie adalah Juaranya heheh…., Dan satu yang membuatku semangat adalah

Pemilik kostan saya memiliki Anak dan tinggaal yang Cantik dan Mulus. berumur sekitar 25 tahun. memiliki tubuh bagus dan bersih. Jadi tak mengherankan kalau bentuk badannya masih menggiurkan. Karena aku tinggal bersebelahan dengan rumah pemilik kostann, aku sering kali setiap malam mendengar suara desahan kecil ntah darimana yang pasti dari Tara. Perempuan yang kalau di rumah tak pernah memakai tak jarang dia keluar selalu aku perhatikan putingnya menyembul keluar

“Ra? Pagi2 seger banget nih” kataku
“Iyah nih baru siap olaraga” aku lihat dipakai pakaian yang ketat dan celana ketat yang menyeplakan smeua lekuk tubuhnya,
“Wah, Pantesan aja Body Tara makin Hot” kataku tesenyum
“Ahh kamu bisa aja, Ini juga udah lama bagus”, katanya meraba2 lekuk tubuhnya

Selama beberapa hari ini aku memang suka menikmati pemandangan yang sering membuat penisku tegak berdiri. Terutama payudaranya yang sengaja dipamerkan dengan pake kaos ketat tipis sehingga putingnya yang kecoklatan tampak menonjol. Selain payudaranya yang kuperkirakan berukuran 36D, pinggulnya yang besar sering membuatku terangsang. Ah betapa menyenangkan dan menggairahkan kalau saja aku bisa memasukkan penisku ke selangkangannya sambil meremas-remas payudaranya.

Setelah perbincangan iseng itu aku menjadi lebih memperhatikan gerak-gerik Tara. Bahkan aku kini sengaja lebih sering mengobrol dengan dia. Kulihat perempuan itu tenang-tenang saja meski mengetahui aku sering mencuri pandang ke arah dadanya.

Suatu waktu ketika berjalan berpapasan tanganku tanpa sengaja menyentuh pinggulnya.

“Maaf, Tapi Pinggul Tara Bagus banget , Jadi pengen lagi” kataku sambil tersipu malu.
“Ah kamu, Bilang aja mau megang terus,”, jawabnya sambil mengerlingkan matanya.

Makin lama aku bertambah berani. Aku mengandengkan tangaku dipinggulnyaa. Eh dia cuma tersenyum-senyum. Aksi nakal pun kutingkatkan. Bukan menyenggol lagi tetapi meremas2. Aku mulai berangan-angan suatu saat ingin menyetubuhi dia. Cuma aku masih takut. Namun birahiku rasanya tak tertahankan lagi. Setiap malam yang ada dalam bayanganku adalah menyusup diam-diam ke kamarnya, menciumi dan menjilati seluruh tubuhnya, meremas payudara dan pinggulnya, kemudian melesakkan penis ke vaginanya.

Suatu hari ketika rumahnya sepi. Dan Aku kebeneran Libur kuliah, Aku mengobrol dengan dia di ruang tamu sambil menonton televisi. Semula perbincangan hanya soal-soal umum dan biasa. Entah mendapat dorongan dari mana kemudian aku mulai ngomong agak menyerempet-nyerempet.

“Tubuh Kamu makin lama makin bagus yah apalagi pinggulmu sexy banget”, kataku.
“Nakal kamu, Emang iyah Pinggulku sexy?” katanya sambil berbalik badan dan sedikit menungging, aku terkejut melihatnya sampai melotot terus
“Aiih Kamu Kok melotot aja, Suka yah lihat pantat aku?” katanya sambil mengelus2 pantatnya sampai menepuk2
“Iyah Ra, Pantat kamu semok banget pengen aku remas2 gemes” kataku terseyum

“Ah beneran? Aku remas yah”
“Iyah Coba ajaa”
Tanpa ragu-ragu lagi aku mengelus dan meremas pantatnya yang semok dan kenyal bener.
“Ahh.. kamu ini.”

Reaksinya makin membuatku berani. Aku memeluk tubuhnya. Mencium lehernya dari belakang. Tara tidak melawan malahan diem. Lalu ganti kucium bibirnya. Dia menggelinjang kegelian, Wah, kesempatan nih. Kini sambil menciumi lehernya tanganku bergerilya di bagian toketnya. Dia meremas2 tanganku yang meremas payudaranya.

“Aaahh… Tangann nakalll”, katanya pelan.
“Kita lanjut kekamar aja yuk Ra?” kataku
“Yeh Udah nafsuan aja yah, Baru juga megang toket batangnya udah bangun aja” katanya meremas2 batangku
“Taarrraaaa! Uuhh Mbaak Aku sangee berat nih”

“Hmm..”
“Aku pengen menjamah tubuhmu yang molek ini, Bolehkan?”
“Mmhh..Mmhh Boo..mmlehh”
“Sudah lama aku nantikan bersetubuh denganmu Tara”
“Hmm.. Dasarr! Tau aja yang mana enak” Dia mendesah ketika kujilat telinganya.

Tanganku langsung menelusup ke balik kausnya. Merasakan betapa empuknya daging yang membukit itu. Kuremas dua payudaranya dari belakang dengan kedua tanganku. Desahannya makin kuat. Lalu kepalanya disandarkan ke dadaku. Kini kedua putingnya ganti kupermainkan.

“Langsung kekamar aja Van, Jangan disini ntar ketahuan”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik.

Kini aku jongkok di depannya. Menyibak Dasternya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna Pink. Sambil menciumi pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas vagina dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Tara menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.

“Aahh Kaa..muu sshhh.. sshhh” Desahnya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.
“Enakk yah Ra? Memek kamu udah becek nih. Kamu Sange Berat yah”
“Iiya..ahh Nih Aahhhss Eennakk Vann” katanya
“Memekk Taraaa Jilatinn Aahh…Aahh,sshhh”

“Ennakkk Banget memek Kamu Taraa”
“Ooo.. oh.. oh ..”, desis Tara keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan vaginanya. Tampak dia keenakan karena bibir memeknya kusedot2.

Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut tak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir vaginanya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Tara kian keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya.

“Aahh.. Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh..” rancaunya
“Aku sering nonton porno Ra,” jawabku.
“Ssttt mmmhh Eennakk Vann. Aahhh Ssshh”, desahnya
“Cepat Van, Akuu udah mau keluarr nih! Oohh shhhhtt” kata Tara mengelinjang hebat sampai tubuhnya bergetar

Akhirnya semua cairan yang ada dalam memeknya keluar berhambuaran dimulutku, tanpa banyak bicara langsung kusedot semua cairanitu tanpa ada sisasa sedikitpun.. Aku terus memainkan klentilnya dengan lidahku dengan liar, Memeknya semakin merekah membuatku tak tahan lagi untuk menusuk2 lubang kemaluannya
“Aahkks Aahhhkkss Aahhks.. EENNNAKK!” rancaunya
“Cairan kamu Asin Ra, Tapi enak kok. Aku udah nggak tahan aku masukin yah”
“Iyah Asbisnya kamu jilatin memek aku nikmat banget, aku nggak tahan juga Van”

Tara mencium bibirku. Tangannya meremas-remas Batang kemaluannku yang sudah mengacung besar. Betapa lembut ciumannya, Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersedak. Semula Tara seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya.

Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya lagi yang menggairahkan Padat, kencang, dan putih mulus.

Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Tak ragu langsung dikulumnya kontolku dengan lahap sehingga tak lama penisku masuk rongga mulutnya. Melihat Tara agak tersiksa oleh gaya permainan baru itu, aku pun segera mencabut penisku. Pikirku, nanti lama-lama pasti bisa.

“Aahhkk Ra, Sedott lagii Eennakk Aaahh”
“Hhhmmm Mmmhhh Ssruppp Srruuppp,, Sshh” suara yang keluar dari dalam mulutnya
“Laagii laggii… Sedoot lagii Ra, Enaak banget Hisapan kamu” kataku sambil memaju mundurkan kepalanya sambil menghisap kontolku
“Kayakknya aku mau muncrat nih Ra,”

“ayoo!” katanya sambil menyedot semakin liar dan haus Terus kepala kontolku dijilatnya
“Aahhkkss Aaahhkks Eennakk Akkuu keluuar Ra”, erangku sambil menyodok2 mulutnya
“Kontoll kamu enak banget Van”
“Ah..Mulut kamu jgua enak kok” kataku

Tanganku pun ganti-berganti memainkan kedua payudaranya yang kenyal atau selangkangannya yang mulai kembali becek. Tetapi lama-lama aku tak tahan juga. Penisku pun sudah ingin segera menggenjot memeknya. Pelan-pelan aku mengarahkan Batangku yang keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus vaginanya, kurasakan tubuh Tara agak gemetar.

“AAAHHHKSKSs..” desahnya ketika sedikit demi sedikit batang penisku masuk memeknya,.

Setelah seluruh batangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan, dan kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.

10menitan aku mengenjot memek sempit Tara menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan kontolku kutingkatkan.

“Ooo.. ahh.. hmm.. sshh..Aahhkkss gilla eennakk” desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat.

“Enak Raaa?” tanyaku.
“Emmhh…Enankk Kamuu jagoo goyanggg”
“Puas Raaa??”
“Ahh..aahh kamu ini. Lagin kali kalau Raaa pengen aku mau kamu puasin yah” desahnya.

“Aku entot dalam2 yah Tara sayang” tanyaku.
“Iyadehh, Entot sepuass kamuu”
“Aahh Aahhh Aahh Enakknya Memek sempit Tara a aahhha”, rancauku tak karuan

Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi ditingkah lenguhan dan jeritannya menjelang sampai puncak. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah kegaya Goggystyle.

“Oh taraa.. aku mau keluar nih ahh..”

Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam memeknya. Taraaa kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan vaginanya begitu hangat menjepit penisku. Lima menit lebih kami dalam posisi relaksasi seperti itu.

“Vaginamu masik nikmat Ra”, bisikku sambil mencium bibir mungilnya.
“Batangnmu juga nikmat,”
“Aahh lain kali mau kan aku ajak Ngentot lagi”
“Mau dong, Kalau bisa tiap hari entot memek Tara Van, Tara Ketagihannn nih”

Cerita sex : Cerita Ngewe Dengan Anak Bos Body Montok

Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan.

#Ngentot #Dengan #Mahasiswi #Cantik #Kost

Cerita Hot Ngentot Kakak Sepupu Yang Lagi Hamil Terbaru Malam Ini

Nama sepupu gue ini adalah Bunga dan suaminya Rangga. gue memanggil sepupu gue itu dengan sebutan mbak Bunga karena dia lebih tua dari gue. dia adalah pengantin baru dan tengah hamil. gue berangkat ke kota S pada hari sabtu dan langsung menuju rumah mbak Bunga.

sampai dirumahnya gue langsung disambut dengan baik. “lama ya gak jumpa” ucap gue. “ya, terakhir kali kita ketemu 1 tahun lalu”. “waahh… sudah hamil mbak?” tanya gue ke dia. “iya nih, udah jalan 5 bulan” jawab dia. “tambah seksi aja mbak” canda gue.

“hehe.. bisa aja kamu ini”.. “ngomong-ngomong mas Rangga kemana? kok sepi amat”, tanya gue. “oh.. dia lagi kerja, ntar lagi pulang” jawab dia. “oh ya.. kamar kamu di belakang ya” tambahnya.

“oke.. aku langsung kekamar ya”.. sampai dikamar, gue langsung tiduran, tiba-tiba setan menghampiri pikiran gue. gue langsung menghayal mbak Bunga tadi yang lagi hamil, “seksi dan montok banget.. gimana ya rasanya kalau gue entotin dia? pasti mantap” ucap gue dalam hati.

tak terasa gue ketiduran dan tiba-tiba gue dibangunin oleh mas Rangga untuk makan malam, kamipun langsung makan malam bertiga. selesai makan gue pamit untuk melanjutkan tidur, karena masih ngantuk habir perjalanan tadi siang.

gue langsung kekamar untuk tidur. tengah malam gue terbangun karena kebelet ke kamar mandi. setelah selesai dari kamar mandi, gue mendengar suara wanita yang sedang mendesah seperti sedang ML. gue cari sumber suara tadi dan ternyata suara itu berasal dari kamar mbk Bunga dan mas Rangga.

gue langsung lihat apa yang sedang terjadi didalam kamar, gue lihat dari atas pintu yang ada celah kecil sambil berdiri diatas kursi. dan ternyata yang gue lihat adalah mbak Bunga yang sedang telanjang bulat sedang nungging dan mas Rangga yang sama-sama telanjang sedang entotin mbak Bunga dari belakang.

pemandangan yang sangat indah. gue tontonin mereka berdua yang sedang bersenggama sampai tak terasa jika gue sedang nonton mereka selama 1 jam sambil berdiri. setelah selesai gue langsung ke kamar mandi lagi untuk onani karena seudah tidak tahan lagi dengan yang gue lihat barusan.

setelah hasrat gue tersalurkan gue langsung tidur kembali. pagi harinya gue lihat mas Rangga lagi bersiap-siap kerja. tiba-tiba mas Rangga berkata “di.. titip mbak Bunganya ya, mas mau keluar kota ada tugas kerja selama 2 minggu” . “oke mas” ucap gue.

setelah mas Rangga pergi, gue pun pergi untuk magang didaerah itu. gue pulang sore sampai dirumah gue ketuk pintu karena pintunya terkunci, lama sekali mbak Bunga membuka pintunya. setelah 10 menit mbak Bunga membuka pintu dengan hanya memakai handuk yang melilit tubuh seksinya itu. hal itu membuat gue jadi bengong melihat tubuhya.

“heh.. liat apa? seksi kan?” tanya mbak Bunga mengagetkan gue “hehe… iya mbak, seksi banget” jawab gue… sampai di kamar gue masih membayangkan mbak Bunga yang memakai handuk tadi, gue langsung membuka laptop dan gue tonton film porno yang memenuhi laptop gue.

gue tonton sambil onani dikamar dan membayangkan gue lagi ngentot dengan mbak Bunga. malam harinya gue makan malam bersama mbak Bunga, setelah makan gue langsung ke kamar lagi.

pada jam 9 gue keluar kamar dan gue pun terkejut banget dengan apa yang gue lihat sekarang. mbak Bunga lagi telanjang sambil nonton film porno diruang tamu sambil meremas-remas toketnya dan meraba-raba selangkangannya, tampaknya dia sangat menikmatinya sampai-sampai dia tidak menyadari kalo gue sedang asik menonton apa yang dia lakukan.

gue langsung hampiri dia dari belakang dan gue langsung meremas-remas toket gedenya dari belakang. dia terkejut karena ada yang meremas toketnya dari belakang “di.. apa yang kamu lakukan” tanya dia. “tenang mbak, aku akan memuaskan mbak malam ini” jawab gue sambil meremas toketnya. dan nampaknya dia setuju, karena dia menikmati apa yang gue lakukan.

gue remas-remas toketnya dan gue pilin putingnya. “ahh…” desahnya. gue langsung pindah kesampingnya, gue langsung melumat toketnya seperti bai yang sedang menyusu. gue melumat toketnya sambil meraba-raba perut buncitnya, sampailah tangan gue keselangkangannya, gue raba-raba dan dia tampak sangat menikmatinya.

gue pindah ke depannya sambil jongkok gue jilati memeknya, tercium bau khas memek wanita. gue masukkan lidah gue ke memeknya sambil gue remas toketnya. 5 menit gue diposisi itu dan diapun orgasme yang pertama.

kami beristirahat sejenak mengumpulkan tenaga. setelah selesai istirahat dia yang gantian menjilati kontol gue, dia masukkan kontol gue ke mulutnya. rasanya seperti melayang diposisi itu. “pindah kekamar yuk mbak?” ucap gue.. “oke, tapi gendong ya?” jawab dia dengan manja.

Gue langsung gendong dia menuju kamarnya. sampai dikamar gue tidurin dia dikasurnya. gue lumat bibirnya. kami saling melumat bibir. gue lepas lumatan gue dibibirnya dan gue tanya “Sudah siap mbak?” sambil menunjuk kontol gue. dan dia mengerti apa yang gue katakan “oke,, puasin mbak malam ini ya?” jawab dia.

Gue langsung mengambil posisi, gue angkat kedua kakinya keatas dan gue langsung tancapkan kontol gue yang lumayan besar ke memeknya. blesss… langsung menancap semua diikuti erangan dia. langsung due entot dia dengan tempo lambat. perlahan gue tingkatkan tempo, semakin cepat gue entot memeknya sambil meremas kedua tokenya

“aahhhh…… hmmmm… lebih cepat sayaaaaangg…” ucap dia… Gue langsung percepat genjotan gue, 5 menit kemudia dia orgasme yang kedua. gue cabut kontol gue, dan suruh mbak Bunga untuk nungging, karena gue ingin mencoba posisi kesukaan gue “doggy style”.

dari belakang terlihat semua, pantatnya yang semok banget, anusnya, dan memeknya yang sudah memerah membuat gue bergairah lagi. gue langsung tancapkan kontol gue dari belakang. sambil gue remas toketnya, gue langsung genjot dengan tempo cepat. mbak Bunga sangat menikmati permainan ini.

dia hanya mengeluarkan erangan-erangan kenimatan. 30 berlalu kami masih diposisi itu, tampaknya mbak Bunga sekarang kuat banget. beberapa menit kemudian dia berkata “sayang…. aa…a..aku mau nyampeeekk.. nih…” mendengar seperti itu langsung gue percepat lagi genjotan gue, dan tiba-tiba kontol gue serasa dijepit keras banget dan terasa hangat sekali, rupanya dia orgasme lagi yang ketiga.

tapi gue masih belum orgasme sekalipun, gue tidak memikirkan mbak Bunga yang sudah lelah gue masih genjot dia dengan cepat, dan 5 menit kemudian “aahhh….” gue semburin sperma gue semua kedalam memeknya. merasa kelelahan kamipun tidur bersama dalam keadaan telanjang.

pagi harinya gue terbangun dan mbak Bunga sudah tidak ada lagi, setelah ku cari ternyata dia sedang didapur menyiapkan sarapan pagi. gue menghampiri dia masih dalam keadaan telanjang bulat karena ku pikir hanya kami yang ada dirumah ini.

dari belakang kulihat mbak Bunga hanya memakai daster tipis transparan dan tidak memakai apa-apa lagi. gue langsung peluk dia dari belakang, gue remas-remas toketnya, gue tempelin kontol gue yang sudah mengeras ke belahan pantatnya, terasa sekali karena dia tidak memakai celana dalam. dari belakang gue cium dia.

gue angkat daster bawahnya, gue masukin kontol gue dari belakang. kamipun bercinta lagi didapur, gue genjot dia dari belakang dan dia sambil memasak. gue genjot selama 10 kamipun sampai klimaks bersamaan, gue semburin sprema gue ke memeknya lagi. setelah itu kami memutuskan untuk mandi bersama. didalam kamar mandi gue sabunin mbak Bunga gue sambil gue remas-remas toketnya.

Setelah mandi kami sarapan bersama. masih dalam keadaan telanjang bulat kami sarapan. jam 8 gue berangkat untuk magang, sebelum berangkat kami saling cium. layaknya suami istri. kami melakukan percintaan ini hampir setiap hari selama 2 minggu. sebelum sarapan pagi, setelah pulang magang, malam hari kami terus melakukan percintaan ini.

minimal kami melakukannya 2 kali sehari, entah itu diruang tamu, dapur, kamar mandi, kamar mbak Bunga, atau dikamar gue. kami melakukannya. sampai 2 minggu dan mas Rangga pulang dia tidak tahu apa yang sudah kami lakukan selama 2 minggu tanpa dirinya.kadang kami masih melakukannya ketika mas Rangga dirumah. kami melakukannya secara diam-diam. ketika mas Rangga kerja atau pada malam hari ketika mas Rangga terlelap tidur.

pernah kami melakukannya setelah mas Rangga dan mbak Bunga selesai bercinta, karena mbak Bunga tidak puas dengan permainan mas Rangga, mbak Bunga diam-diam ke kamar gue dan membangunkan gue untuk bercinta lagi dengan gue. Gue dirumah mbak Bunga selama 3 bulan dan selama itu gue dan mbak Bunga hampir setiap hari bercinta.

itu juga berguna untuk membantu kelancaran kelahiran bayinya nanti karena wanita yang melakukan senggama saat sedang hamil bisa membantu proses persalinannya nanti. setelah 3 bulan gue pamit pulang ke mereka berdua, tapi sebelum pulang gue minta hadiah perpisahan dari mbak Bunga untuk bercinta lagi dengan gue.

Baca Juga : Kisah Sexs Ku Yang Gila Waktu Ngerjain Dua Penjaga Vila

Untunglah mas Rangga kerja sampai malam hari ini jadi, kami bisa bercinta seharian, ketika lelah kami berhenti istirahat lalu melakukannya lagi sampai mas Rangga pulang malam harinya.

#Cerita #Hot #Ngentot #Kakak #Sepupu #Yang #Lagi #Hamil